ASMA,jenis penyakit ini memang tidak bisa disembuhkan. Namun, untuk meningkatkan kualitas penderita, Anda bisa berupaya mengontrolnya.
Asma berasal dari kata asthma yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti "sukar bernapas". Penyakit asma dikenal karena adanya gejala sesak napas, batuk dan mengi (bengek) yang disebabkan penyempitan saluran napas. Meski kebanyakan terjadi pada anak-anak, tapi sejatinya asma bisa menyerang siapa saja.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan saat ini jumlah penderita asma mencapai 300 juta di seluruh dunia. Sementara di Indonesia jumlah penderita sebanyak 12,5 juta. Namun, dari jumlah penderita di Indonesia, 95 persen di antaranya tak terkontrol. "Kurang dari 5 persen pasien asma dengan asma terkontrol, atau dapat juga dikatakan hampir seluruh pasien belum terkontrol," kata Ketua Umum Dewan Asma Indonesia (DAI) Prof dr Faisal Yunus, PhD,SpP(K),FCCP.
Namun, tidak berarti penderita asma tidak berhak memiliki kehidupan yang berkualitas kan? Sama halnya dengan tema yang diangkat oleh Global Initiative for Asthma (GINA) dan WHO dalam memperingati Hari Asma Dunia 2009 yaitu "Anda Bisa Mengontrol Asma Anda, Bertindaklah Sekarang", Faisal menyarankan bagi para penderita asma untuk mengontrol asma sebaik mungkin.
"Asma tidak dapat disembuhkan, tetapi asma dapat dikontrol karena selain menyebabkan kematian, asma juga dapat menurunkan produktivitas penderitanya," tutur Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Asma merupakan gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan kehilangan hari kerja bagi para pekerja, kehilangan hari sekolah bagi anak sekolah, gangguan aktivitas, gangguan sosial dan terhambatnya kegiatan bagi ibu rumah tangga sehingga asma menjadi masalah serius pada anak dan dewasa. "Tujuan dari penatalaksanaan asma ini adalah untuk tercapainya asma yang terkontrol, di mana asma yang terkontrol itu sudah ada ciri-cirinya," papar dokter yang juga berpraktik di Rumah Sakit Thamrin.
Faisal menjelaskan, asma terkontrol adalah keadaan pasien di mana pasien asma tanpa ada gejala asma pada siang atau malam hari, tidak terhambat dalam melaksanakan aktivitas karena asma, memiliki fungsi paru yang normal, tidak menggunakan pelega, dan tidak lagi berkunjung ke unit gawat darurat terkait adanya serangan asma yang dideritanya. "Asma mematikan jika sudah berat," tandasnya.
Masih dikatakan Faisal bahwa banyak dokter di tingkat pelayanan primer belum menguasai penanganan asma secara standar. Persepsi dan perilaku penanganan pasien asma jangka panjang pun belum banyak diterapkan dan dinilai masih rendah. "Kondisi demikianlah yang menyebabkan angka kematian akibat penyakit yang hingga kini belum bisa disembuhkan itu semakin tinggi," paparnya.
Penanganan asma jangka panjang bisa membuat penderita asma dapat menjalani hidup normal. Namun saat ini, konsep penanganan asma masih berorientasi pada pengobatan gejala atau serangan asma, bukan pada pencegahan agar serangan tersebut dapat ditekan bahkan dihilangkan atau yang didefinisikan sebagai kontrol asma.
Dari beberapa penelitian terakhir diketahui bahwa Terapi Kombinasi Obat Bronkodilator atau pelega jangka panjang dan obat pengontrol dalam satu kemasan inhalasi memberikan hasil perbaikan gejala asma dibandingkan obat pengontrol tunggal dosis tinggi. "Dengan pengobatan seperti ini telah terbukti bahwa penderita asma diberikan keuntungan perbaikan faal paru dan penurunan gejala asma yang mengurangi biaya kedaruratan asma," papar Faisal.
Dari penelitian ini juga diketahui juga bahwa pasien asma memiliki kemungkinan untuk mendapatkan kualitas hidup layaknya orang tanpa asma. Salah satu caranya dengan mengonsumsi obat kombinasi tersebut dengan tepat dan dalam jangka waktu yang direkomendasikan dokter.
Dikatakan spesialis anak dari FKUI/RSCM, Dr Bambang Supriyanto, SpA (K), bahwa sama halnya pada penderita dewasa, anak-anak yang menderita asma juga harus dikontrol dan itu sangat memerlukan pengawasan dari orang tua. "Untuk anak-anak, yang harus turun tangan mengontrol asma adalah orang tua," papar dokter yang juga berpraktik di RS Hermina Jatinegara.
(tty)