DI PENGUJUNG acara Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) VI, sebanyak empat desainer yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) menggelar mini show.
Adalah Handy Hartono, Harry Ibrahim, Malik Moestaram, dan Defrico Audy yang menyemarakkan panggung runway JFFF. Lebih dari 40-50 gaun menghiasi mini show tersebut.
Pada peragaan perdana dibuka oleh desainer Handy Hartono yang mengusung tema 'Elephantine Nubai'. Keindahan alam rumah dan kerajinan tangan suku-suku di salah satu benua terbesar itu menjadi sentuhan unik yang meramaikan show kala itu.
"Saya terinspirasi dari keindahan alam, kerajinan tangan suku Afrika Nubian yang tinggal di pulau Elephantine sungai Nil, Aswan, Mesir, Afrika Utara. Dan selama tiga minggu saya mengadakan riset di Mesir. Kemudian hasil yang saya dapat, saya tuangkan pada koleksi kali ini," terang Handy saat menggelar konferensi pers di Takigawa Restaurant La Piazza The Lifestyle Center Sentra Kelapa Gading, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.
Permainan detail tambang menjadi aksen berupa kalung, gelang, tas, dan tutup kepala koleksi Handy kali ini. Aplikasi benang dan sifon sutra dibuat menjadi model tambang yang mempermanis rancangannya.
"Sementara untuk desain masih menggunakan siluet A line, empire line, dan bustier yang dibuat lebih simpel dengan warna-warna tanah," ungkapnya.
Penampilan kedua dilanjutkan dengan koleksi gaun malam milik Harry Ibrahim yang terinspirasi dari kebudayaan Yunani, sejarah, arsitektur bangunan, dan aktivitas masyarakatnya. Bertemakan L'Histoire C'Est Moi, Harry mencoba menggabungkan sisi elegan dan maskulin.
"Koleksi dalam mini show ini terinspirasi dari cerminan sportifitas dan keanggunan masyarakat Yunani dalam aktivitas olahraga di Olympus tetapi juga tetap ada unsur geometris dan arsitekturalnya. Selain itu, karena saya berkutat di gaun malam, dalam koleksi kali ini saya menggabungkan antara sisi elegan dan maskulin," jelas Harry.
Untuk semakin memberi kesan melayang pada gaun rancangannya, Harry sengaja memilih bahan sifon yang melayang.
"Untuk menciptakan efek melayang dan layer yang biasa digunakan masyarakat Yunani, saya memakai bahan sifon. Sebab saya sangat mencintai bahan sifon dan lebih senang melihat wanita mengenakan busana dengan efek melayang yang membuat kecantikannya kian terpancar," beber pemilik nama Bambang Harijono Ibrahim itu.
Meski terlihat mudah, namun anggota APPMI Jawa Barat ini menemui kesulitan saat harus mewujudkan L'Histoire C'Est Moi. Demi memberikan hasil terbaik, Harry rela meluangkan waktu hingga 30 hari untuk mengerjakan rancangannya itu.
"Kesulitannnya kita harus membuatnya di patung dan untuk hasil yang bagus dan maksimal kita tidak boleh menghemat bahan. Karena untuk satu baju ada 8-10 meter bahan yang diperlukan, baik untuk lipit-lipit, potong serong dan lainnya," terang pria kelahiran Bandung, 15 Desember 1971 ini.
Berbeda dari dua desainer sebelumnya yang mengusung satu tema, Malik Moestaram membawa gebrakan baru. Pria kelahiran Jakarta, 34 tahun silam itu mengajak para pecinta mode mengikuti perkembangan mode di Afrika hingga benua Amerika untuk melihat gaya glamor selebriti Hollywood.
Dengan mengusung tema From A to H (Africa to Hollywood), Malik memilih menggunakan banyak ornamen yang diterapkan pada gaya berpakaian wanita saat ini. Didukung dengan pemakaian bahan ramah lingkungan, membuat hasil rancangannya cocok dikenakan untuk mereka yang berjiwa dinamis.
"Tak hanya gaya busana Afrika saja yang bisa kita temui dalam koleksi kali ini, tapi ada sedikit sentuhan Hollywood dan futuristic, dengan detail aksesori, serta potongan loose yang diimplementasikan pada animal print. Saya pribadi ingin menawarkan kemewahan, terutama agar wanita bisa tampil percaya diri pergi ke pesta dengan adanya sentuhan aksesori dan potongan sederhana atau mixed motif bahkan juga ada sentuhan safari looknya," tandasnya.
Gelaran Mini show ini diakhiri dengan karya desainer muda Defrico Audy. Mengusung tema 'Exotism of Celebs' (Celebes dalam bahasa Sansekerta berarti Sulawesi), Defrico mengangkat tema kain tenun tradisional Sulawesi Tenggara (Sultra) dan masyarakatnya yang memiliki lebih dari 140 jenis motif kain tenun.
"Kali ini saya mengangkat kain tenun Tolaki dengan motif kecubung yang berasal dari kota Kendari. Motif yang berbentuk anak tangga dan ditenun menggunakan benang sutra ini tetap dengan otongan empire atau babydool dan ornamen alam," papar pria kelahiran Jakarta, 10 Desember 1975 ini.
Kendati mengagumi kain khas Sultra, Tolaki, dan mengaplikasikan pada rancangannya, namun Defrico mengaku telah habiskan waktu lama dalam proses pembuatannya.
"Kain Tolaki ini memang hanya dikerjakan oleh nenek-nenek selama 2-3 jam per hari sehingga agak lama dalam pembuatannya. Koleksi ini dipermanis dengan beat, kristal swarovski, serta permainan warna cerah dan gelap," ucapnya.
Uniknya, 50 koleksi yang dirancang dan diperagakan dalam mini show JFFF ini akan dipermanis oleh penampilan para selebriti sebagai modelnya.
"Sebanyak 50 koleksi akan hadir menghiasi mini show JFFF ini, di mana 35 diperagakan oleh model dan 15 oleh teman-teman selebriti seperti Fenny Rose, Dinda Kanya Dewi, Rency Milano, Kristina," pungkas Audy. (nsa)