Getting Time...

Kaleidoskop Fashion Indonesia

Koran SI - Koran SI
Senin, 25 Mei 2009 14:58 wib
detail berita
Foto: Eko Purwanto/Koran SI

BAGAIMANAKAH wajah mode busana Indonesia dari masa ke masa? Asosiasi Agensi Model & Talenta Indonesia (AAMTI) berusaha mengemasnya dalam Fashion Masquarade, sebuah kaleidoskop mode Tanah Air.

Ajang tersebut juga sekaligus dimaksudkan sebagai bentuk perkenalan AAMTI kepada masyarakat Indonesia. Adapun AAMTI merupakan wadah yang menaungi puluhan agensi, manajemen, serta representatif model dan talenta di Indonesia, yang bertujuan menyalurkan idealisme AAMTI terhadap perkembangan dan pelestarian dunia mode, seni budaya, serta bisnis kreativitas di Tanah Air.

Sementara Fashion Masquerade AAMTI-Clopedia menjadi sebuah pertunjukan untuk merayakan kehadiran AAMTI di belantika mode Indonesia. Konsep yang diusung berusaha menggambarkan mode Indonesia dari masa ke masa.

"Kami akan menghadirkan wajah mode Indonesia mulai era 1960-an sampai 2000-an, dan bukan hanya itu, tapi lebih ke total look-nya. Jadi termasuk make up, tata rambut, sampai suasana panggung yang mewakili era tersebut," tutur Wakil Ketua AAMTI Wawan Soeharto.

Menurut Wawan, dengan menghadirkan total look tersebut, tamu undangan dan pengunjung bisa merasakan atmosfer sebuah era secara tepat. "Jadi kami berusaha mengajak para pengunjung bernostalgia akan mode yang bukan hanya melibatkan fashion designer, juga banyak pihak lainnya, termasuk model, talenta, make up artist, koreografer, music director, fotografer, serta fashion stylist," sebut Wawan.

Untuk itu, khusus untuk Fashion Masquarade, AAMTI mengerahkan 112 model yang akan merepresentasikan mode Indonesia dari berbagai era. Tidak hanya itu, belasan desainer pun dikerahkan, baik mereka yang tergolong desainer senior maupun para perancang muda.

Sebut saja Yoyok Prasetyo, Billy Tjong, dan Rudy Chandra yang menghadirkan koleksi mode dariera 1960-an. Dan kita pun seolah-olah dibawa melintasi mesin waktu dengan kehadiran para model dengan tatanan rambut bervolume dan berbalut busana bergaris sederhana dalam gaya vintage. Sementara tahun 1970-an yang dirangkum dalam gaya Roaring Seventies menampilkan koleksi kombinasi dari Itang Yunasz, Ramli, Vera Abby, dan Ina Thomas, serta Oky Wong. Di sini mereka memperlihatkan gaya bohemian dengan sentuhan sassy melalui potongan pendek atau belahan paha tinggi. Sementara untuk gaya yang lebih lokal, Ramli menyuguhkan parade batik dalam napas elegan.

Bergeser ke era 1980-an, wajah mode Indonesia pun berubah menjadi lebih retro dengan napas disko yang kental. Wawan mengatakan, khusus untuk tahun 1980-an, Indonesia tidak diwakili desainer melainkan dengan menghadirkan sebuah label yang menjadi ciri khas di era tersebut. Karenanya, butik multibrand NVU didaulat menjadi perwakilan mode Indonesia untuk era 1980-an yang mengetengahkan Battle Dance Show. Selain itu, era ini pun menjadi persembahan istimewa dari AAMTI yang menampilkan showdari 20 artis Indonesia.

"Pada tahun 1980-an kan memang artis yang menjadi fashion leader, makanya kami menghadirkan Battle Dance Show dari para artis sebagai bentuk representasi mode pada masa itu," sebut Wawan.

Untuk tahun 1990-an, tema Work Hard Play Hard mengemuka, memperlihatkan sisi urban dan metropolis dari mode yang berkembang pesat di perkotaan. Kendati demikian, sisi tradisional tidak hilang begitu saja. Hal tersebut terlihat dari koleksi yang dipersembahkan Siti Haida dan Ghea S Panggabean.

Terakhir pada tahun 2000-an yang mengambil tema Eclectic City, AAMTI ingin memperlihatkan evolusi terbaru mode Indonesia dengan menghadirkan koleksi-koleksi bergaya edgy dari para desainer muda, termasuk Ichwan Thoha, Ferry Salim, dan Dimas Mahendra. Citra eklektik pun tidak ketinggalan disajikan melalui koleksi besutan ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Taruna K Kusmayadi yang menampilkan koleksi bergaya urban dengan material lokal serta adibusana dari Raizal Rais yang menyuguhkan gaya avant garde dari busana Minang lengkap dengan hiasan sunting.

AAMTI sebenarnya merupakan asosiasi baru yang terbentuk atas dasar sebuah keinginan untuk menaungi manajemen artis danpara pekerja seni. "Dalam tubuh manajemen artis sendiri terdapat konflik yang kami harap bisa dihindari dengan adanya asosiasi ini, yang bermaksud melindungi kedua belah pihak, baik talent dan manajemen, yang berada dalam koridor dunia entertainment," ucap Wawan yang juga menangani Potrait Management.
(tty)

Beri komentar