GAYA rancangannya yang ringan, penuh warna dan kental dengan nuansa bohemian, menjadikan Matthew Williamson kesayangan selebriti dan fashionista di dua kota mode, London dan New York.
Bukan hanya itu yang membuat Williamson disebut-sebut sebagai celebrity darling, kepribadian yang menyenangkan dan ramah juga menjadi asetnya dalam menjaring kolega dan konsumen.
Dalam sebuah wawancara di awal kariernya, Williamson pernah mengatakan, "Saya tidak melakukan semua ini untuk menjadi bintang. Dunia ini menawarkan kesenangan, namun saya berencana ada di sini untuk jangka waktu lama sehingga dibutuhkan sebuah komitmen, atau hancur di tengah jalan."
Sebagai seorang desainer muda, masa depan rupanya sudah direncanakan secara detail di kepala Williamson. Terbukti dari setiap langkahnya yang telah terjadwal pasti. Pria kelahiran Chorlton, Manchester, pada 23 Oktober 1971, ini memutuskan untuk masuk ke sekolah mode Central St Martins dan lulus dengan angka gemilang pada tahun 1994.
Lulus dengan gelar sarjana di bidang fashion design dan printed textiles, Williamson membuktikan kepiawaiannya dalam mengulik motif dengan bekerja paruh waktu di rumah mode Marni. Setelah itu, Williamson bekerja di Monsoon & Accessorize.
Dari situlah bakatnya dilirik pengamat mode. Vogue pertama kali mengagumi karya Williamson berupa scarf berhias manik yang kemudian ditampilkan di halaman modenya. Setelah itu, waktu seakan terbang bagi peraih penghargaan Moet and Chandon ini.
Pada tahun 1996, Williamson meluncurkan label pribadinya dan menggandeng Joseph Velosa sebagai partner. Di saat peluncuran, Kate Moss, Helena Christiansen, dan Jade Jagger, yang memang sahabat perancang bermata tajam ini, menjadi model utama dan langsung menarik perhatian media massa, serta pengamat mode Inggris. Setahun kemudian, Williamson melakukan debut melalui sebuah pertunjukan berjudul "Electric Angels" dan untuk merayakan kedatangannya di dunia mode Inggris.
Beberapa mengatakan bahwa sukses Williamson terletak di tangan teman-temannya, yang merupakan barisan selebriti, seperti halnya Kate Moss maupun Sienna Miller. Namun, bagi Williamson, karyanyalah yang berbicara, terlebih saat dirinya ditunjuk menjadi direktur kreatif rumah mode Emillio Pucci, yang memang sejalan dengan gaya Williamson, yakni koleksi ala gaya bohemian kaum hippies dengan nuansa etnis gipsi yang kental.
Adapun untuk memperluas sayap bisnisnya, Williamson memutuskan hijrah ke New York pada tahun 2002 dan menjadi langganan tetap panggung "New York Fashion Week". Kendati demikian, dia tidak begitu saja meninggalkan Inggris yang telah membesarkan namanya. Sukses "The Hippie Boy" ini, tidak berhenti sampai di situ, desainer yang sudah berada di industri mode selama lebih dari satu dekade ini pun dipinang salah satu peritel raksasa H&M untuk merancang lini koleksi khusus.
Pihak H&M menyebutkan, Williamson merupakan orang tepat untuk merancang koleksi baru itu. Juru bicara perusahaan mengatakan, Williamson memiliki sentuhan yang sesuai dengan gaya H&M. Selain itu koleksi Williamson menjadi favorit karena memberikan gaya yang berbeda, selain kental dengan pengaruh bohemian.
Berbicara mengenai koleksi terbarunya untuk H&M, Williamson mengatakan, koleksinya terpengaruh suasana tropikal dan nuansa pantai dengan sentuhan floral yang menjadikan koleksinya tampil feminin. "Saya ingin menyajikan koleksi yang bercerita mengenai tempat-tempat berlibur eksotis, seperti Karibia, Kuba, atau Meksiko," ujar Williamson.
Selain itu, Williamson pun tahun ini, untuk pertama kalinya akan mengeluarkan koleksi pria. "Karena itu saya sangat antusias dengan koleksi ini dan bekerja sama dengan H&M menjadi pengalaman yang begitu menggembirakan bagi saya," sebutnya.
"Koleksi ini merupakan tipikal Matthew Williamson. Cantik, penuh warna dengan prints mengagumkan yang kami yakini akan menjadi favorit para wanita di seluruh dunia, sekaligus juga memperkenalkan koleksi pria pertamanya. Ini akan menjadi musim panas yang sangat menggembirakan bagi H&M," ujar Konsultan Kreatif H&M Margareta van Den Bosch.
(tty)