Getting Time...

Jalan Setapak, Pelindung Taman yang Estetis

Koran SI - Koran SI
Jum'at, 12 Juni 2009 16:26 wib
detail berita
Foto: Ist

SEBAGIAN besar rumah yang memiliki lahan lebih pasti mengaplikasikan jalan setapak. Apalagi kalau penghuninya punya kebiasaan menjaga keindahan taman.

Jalan setapak dibuat agar orang yang melalui taman taman tanpa menginjak rumput ataupun tanah. Di samping itu, jalan setapak juga dapat dipergunakan untuk memperindah taman. Hal itu tentu bisa terjadi jika pembuatannya didasarkan pada perencanaan yang matang, mulai peletakan, pemilihan bentuk, hingga penentuan bahan penyusun jalan setapak. Kalau dikerjakan secara asal-asalan, jalan setapak atau stepping stone malah akan mengganggu estetika taman.

Menurut arsitek lanskap dari Universitas Indonesia Nirwono Yoga, jalan setapak banyak gunanya. Namun, kegunaan yang paling utama adalah menghindarkan orang menginjak tanaman- terutama rumput-saat ingin menikmati seluruh sudut taman. "Desainnya sangat bergantung pada konsep taman itu sendiri," kata Nirwono.

Dia lalu mencontohkan, bila desain taman adalah tropis atau tradisional, sebaiknya jalan setapak yang dibuat mempunyai banyak lekukan. Dengan begitu, jalan setapak itu dapat menimbulkan kesan nonformal. Jalan setapak pada taman tropis biasanya menggunakan batu-batuan alam, seperti batu kali, batu tempol, dan kerikil.

Pada umumnya, bentuk dasar jalan setapak tidaklah banyak. Paling hanya membulat dan mengotak. Bentuk kotak juga hanya dibuat dalam bentuk bujur sangkar atau persegi panjang. Kalaupun ingin model yang lebih unik, bisa menggunakan bentuk pentagon, oval, dan sebagainya.

Untuk membuat jalan setapak tidaklah sulit, sebab sebagian besar bahan bakunya sudah dijual di hampir semua kawasan perumahan, misalkan batu bata, batu koral, paving block, semen, pasir. Masyarakat tinggal menentukan seperti apa bentuk yang disukainya, lalu disesuaikan dengan tema taman. "Batu alam menjadi pilihan dominan dalam pemilihan bahan pembuat jalan setapak," kata Nirwono lagi.

Teknik pembuatan jalan setapak juga tidak sulit. Cukup membuat cetakan sesuai bentuk yang diinginkan, lalu isi dengan adukan semen sampai ketebalan 5-7 cm. Batu-batu tersebut ditata sedemikian apik hingga terbentuk motif-motif tertentu, misalnya berlikuliku, berstrata (undak-undakan), atau terpenggal-penggal yang disesuaikan dengan panjang langkah kaki. Penggalan-penggalan ini bisa berbentuk bulat, oval, segitiga, ataupun kotak.

Kemudian, percantik bagian permukaan dengan hiasan yang diinginkan. Tahap ini yang membutuhkan sedikit kreativitas agar jalan setapak menjadi menarik. Jika ingin menggunakan batu pijakan after market, Anda harus menambahkan adukan semen sebagai dasarnya. Ini akan memperkuat batu pijakan tersebut.

Setidaknya ada dua model jalan setapak, terpisah dan menyambung. Model jalan setapak terpisah ataupun menyambung memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk model terpisah, pemilik bisa lebih leluasa dalam menempatkannya. Bahkan ketika lanskap taman berubah, tidak diperlukan biaya tambahan membuat batu pijakan yang baru. Dari sisi perawatan, sebenarnya pemakaian jalan setapak ini relatif mudah dan tidak ada perawatan khusus.

Tidak ada ukuran yang pasti mengenai besar jalan setapak. Sebab, hal itu sangat bergantung pada besar taman. Lokasinya pun bisa berada di halaman depan, samping rumah, ataupun halaman belakang. Semua itu bergantung pada situasi dan kondisi masing-masing rumah.

Seiring dengan berjalannya waktu, jalan setapak sudah bukan lagi menjadi elemen yang memperindah taman, melainkan juga sebagai elemen yang menentukan bagus atau tidaknya lanskap sebuah taman. Pada rumah yang memiliki taman di samping, jalan setapak bisa dipergunakan untuk mengurangi cipratan air hujan dan tentunya bisa mengotori tembok rumah. "Tentu jalan setapak itu harus tepat berada di bawah jatuhnya air hujan," sebut Nirwono.
(tty)

Beri komentar