Camilan Sehat untuk si Kecil

Camilan Sehat untuk si Kecil

Foto: Ist

PADA masa pertumbuhan, anak butuh asupan gizi yang memadai. Sayangnya, acap kali si kecil lebih suka ngemildibanding menyantap makanan berat. Bagaimana menyiasatinya?

Kebutuhan anak akan nutrisi bisa didapat anak dari makanan. Tak heran, banyak orangtua yang khawatir saat anaknya malas makan. Padahal, anak harus mendapatkan gizi seimbang yang terdiri atas makro nutrien (karbohidrat, protein, dan lemak), serta mikro nutrien (vitamin dan mineral). Semua unsur tersebut harus terkandung dalam makanan yang dikonsumsi anak setiap hari. Dengan begitu, anak mendapat asupan gizi yang seimbang, baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya.

Anak yang perutnya mulai "bernyanyi" itu tandanya perlu makan. Masalahnya, sering kali anak ogah kalau langsung diajak makan nasi, maunya ngemil jajanan. Di sinilah kreativitas dan kecerdikan orangtua ditantang untuk menyiasatinya melalui perencanaan camilan yang sehat bagi si kecil.

Kebiasaan mengonsumsi makanan kecil memang sudah menjadi pola hidup yang sulit dihilangkan. Di Indonesia, kita biasa menyebutnya dengan ngemil dan yang dikonsumsi tentunya camilan yang biasanya berupa makanan ringan (snack). Ngemil memang enak dan bisa membuat orang ketagihan. Tak hanya orang dewasa, anak-anak dan bayi pun lebih doyan memamah makanan ringan ini. Berdasarkan informasi dari mayoclinic.com, snack time alias waktunya ngemil adalah saatsaat yang paling ditunggu anak-anak di Amerika. Tak heran bila seperempat energi harian anak-anak ini didapat dari makanan ringan.

Spesialis gizi klinik dari FKUI/RSCM Jakarta dr Fiastuti Witjaksono MS SpGK mengungkapkan, anak harus diberi makan sesuai dengan kebutuhannya. Artinya, tidak boleh berlebih ataupun kurang. "Biasanya anak kecil kan makannya susah. Mereka juga tidak suka dengan makanan tertentu seperti sayur dan buah. Padahal, semua itu penting untuk tumbuh kembang anak," kata dokter yang akrab disapa Tuti.

Selain itu, lanjut Tuti, jajanan atau camilan yang diberikan pada anak seharusnya sesuai dengan kebutuhannya dan tidak boleh berlebihan. "Jika anak sudah cukup makan, lalu diberi lagi camilan yang mengandung karbohidrat tinggi seperti snack yang isinya hanya karbohidrat dan garam, itu tidak bagus untuk anak," ujar dokter yang juga pengurus aktif dari Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI).

Anak kecil sebenarnya membutuhkan camilan dan kebiasaan ngemil pada anak sebenarnya tidak sepenuhnya buruk asalkan orangtua memperhatikan betul kandungan gizi dari camilan yang dikonsumsi anak-anaknya. Karena itulah anak-anak harus dibiasakan mengonsumsi camilan sehat sehingga akan terlatih memilih makanan yang sehat hingga dewasa kelak.

"Memberi makan anak itu sebetulnya adalah mengajari. Kalau sedari kecil sudah dibiasakan makan-makanan sehat, sampai tua pun mereka akan memilih yang sehat. Tapi kalau dari kecil dibiasakan dengan sesuatu yang tidak sehat, akan sulit mengubahnya saat mereka dewasa kelak," tutur ahli gizi kelahiran Yogyakarta, 7 Februari 1954 ini.

Saat ini ada banyak jajanan kemasan yang beredar di supermarket, toko, pasar, sekolah, bahkan warung-warung di sebelah rumah. Anak-anak biasanya paling suka dengan permen atau jajanan dengan warna dan kemasan yang menarik, apalagi kalau ada hadiahnya. Padahal, kebanyakan jajanan kemasan ini berkalori tinggi, rendah nutrisi, serta bisa memicu obesitas pada anak-anak. Belum lagi ancaman zat pewarna, pengawet, dan pemanis buatan yang bisa membahayakan kesehatan anak.

Di sinilah pentingnya peranan orangtua, terutama ibu dalam mengarahkan si anak. Ibu harus benar-benar cermat menyiasati permintaan anak akan camilan. Itu karena membujuk anak tidaklah mudah, terutama saat meminta mereka mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Pada anak kecil, makanan tertentu mungkin dapat membuat mereka tersedak. Karena itu, untuk anak di bawah 3 tahun sebaiknya hindari sayuran mentah, popcorn, kacang, dan sayuran kering.

Konsumsi buah juga penting sebagai sumber vitamin. Namun, jika anak tidak suka dengan buah segar, ibu bisa mengolahnya dalam bentuk jus buah yang juga kaya kalsium sehingga baik untuk pertumbuhan tulang anak, terutama anak-anak yang menghindari produk susu.

Kendati mengandung nutrisi yang sehat, kalori dari segelas jus cukup tinggi dan berpeluang menyebabkan peningkatan berat badan dan kerusakan gigi jika dikonsumsi berlebihan. Beberapa minuman jus, yang 100 persen jus sekalipun, mengandung kalori lebih tinggi dari minuman berkarbonasi. Akademi Dokter Anak Amerika merekomendasikan agar anak-anak mengonsumsi tidak lebih dari 2,6 ons jus setiap hari.

Selain itu camilan bergula juga dapat menyebabkan gigi berlubang karena bakteri dalam mulut akan mengubah gula menjadi zat asam yang akan mengikis email gigi. Zat asam ini selanjutnya akan merusak gigi dalam 20 menit.

Permen atau makanan manis yang lengket biasanya merupakan penyebab kerusakan utama karena lengket di gigi lebih lama. Untuk itu, jangan biarkan anak minum jus terus-menerus sepanjang hari karena gigi anak akan sering kontak dengan gula. Selain itu, menggosok gigi sebelum tidur hendaknya menjadi rutinitas "wajib" bagi anak.

Jika anak sudah mulai bersekolah, sebaiknya orangtua membawakan bekal makanan dari rumah untuk dimakan si anak saat istirahat atau makan siang. Selain lebih sehat dan higienis, bekal makanan ini juga penting untuk mencegah anak agar tidak jajan di luar. Sebelum berangkat, penting bagi anak untuk sarapan terlebih dahulu sebagai sumber energi saat beraktivitas di sekolah dan juga agar anak tidak cepat merasa lapar.

"Kalau si anak sarapannya sudah cukup mengandung lauk pauk, sayur, dan buah, maka bekal itu sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi kalau sarapannya sedikit, maka bekalnya juga harus lengkap. Sebab kalau tidak kenyang bisa jadi si anak akan jajan lagi saat di sekolah," papar Tuti yang juga praktik di Siloam Semanggi Specialist Clinic Jakarta.

Senada dengan Tuti, spesialis anak dan konsultan gizi dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/ RSCM, dr Aryono Hendarto, menegaskan bahwa orangtua harus mempertimbangkan jam makan anak. "Kalau pada pagi hari si anak sudah sarapan dengan makanan padat, maka bekalnya bisa cukup snack. Tapi kalau anak hanya sarapan dengan makanan cair atau susu, maka setelah sekitar 3 jam (pada saat istirahat), anak bisa makan snack yang berat," tutur Aryono.

Berdasarkan hal tersebut, yang terpenting diperhatikan para orangtua adalah soal pengaturan makan anak dengan memperhitungkan pengosongan lambung anak. Jenis bekal yang diberikan juga sesuai kesukaan si anak dan sebaiknya bervariatif. Jajanan yang ada di sekolah pun bisa diberikan selama itu terkontrol dengan baik oleh pihak sekolah. "Junk food boleh saja sekali-kali, tapi orangtua tetap harus mengarahkan pada makanan yang paling tidak mengandung nilai gizi yang baik," tandasnya.
(tty)

Baca Juga

Calon Pengantin Wanita Dibikin Gila Gara-Gara Dilamar dengan Cincin Murahan

Calon Pengantin Wanita Dibikin Gila Gara-Gara Dilamar dengan Cincin Murahan