Getting Time...

Ketergantungan Attachment Object, Normal Selama Tak Berlebihan

Koran SI - Koran SI
Selasa, 16 Juni 2009 16:33 wib
detail berita
Foto: Ist

TAK bisa tidur bila tak memeluk guling usang yang dimilikinya sejak kecil, padahal guling sudah usang. Normalkah kebiasaan ketergantungan attachment object tersebut?

"Dede Aci" itulah sebutan untuk guling yang sampai saat ini selalu ada di samping Narotama Aryanto, 25, selama ia tidur. Lelaki yang saat ini bekerja di sebuah salah satu kantor akuntan di bidang jasa konsultan keuangan ini sudah terbiasa untuk tidur bersama dengan Dede Aci yang umurnya hanya terpaut 5 tahun dengan dirinya. "Saya tinggal di rumah, di kosan dan balik lagi tinggal di rumah, Dede Aci pasti ikut sama saya," ucap pria kelahiran 3 Desember 1985 ini.

Awalnya Naro hanya tidak bisa tidur tanpa ada guling, tapi lamakelamaan jika tidak menggunakan guling yang sama, dirinya tidak merasa nyaman. Tidak peduli walaupun baunya sudah apek, warna sudah pudar, bahkan kecokelatan dan sudah tidak berkapuk lagi, Naro tetap nyaman dengan gulingnya.

"Saya sih sudah kebiasaan dengan baunya, entah sugesti atau apa, walaupun tidak sampai tidak bisa tidur, tapi ya saya gak nyaman aja kalau gak ada Dede Aci," ujarnya yang tidak pernah membolehkan ada seseorang mencuci gulingnya itu.

Sama halnya dengan yang dikatakan Emilia Ferina, gadis berumur 18 tahun ini sudah memiliki guling berkepala beruang sejak umur 8 bulan. Ia terbiasa untuk membawa gulingnya itu ke mana pun ia berada. "Guling yang aku punya tuh padahal ujungnya, pas di kepala beruangnya itu tuh sudah copot-copot, tapi karena aku sarungin, jadi ya gak masalah," ujar Emilia yang akan menempuh bangku kuliah ini.

Hal itu juga tertular pada sang adik yang bernama Elisa Trinidi, 15. Ia juga memiliki guling yang sama. Tetapi uniknya, ia memasang tali-tali halus di ujung gulingnya itu yang kemudian ia mainkan saat dirinya ingin tidur. "Aku gak bisa banget kalau tidur gak mainin talitali yang ada di gulingku itu, sudah kebiasaan dari kecil sih," ungkapnya seraya tertawa malu.

Sebenarnya kebiasaan tersebut normalkah? Dikatakan oleh psikolog dari Universitas Yarsi Jakarta, Octaviani Ranakusuma, Psi, BA (Hon), MSi bahwa hal yang seperti itu sebenarnya wajar dan normal sekali terjadi pada seseorang. Terutama pada anak yang sedari kecil terbiasa ditinggal orang-tuanya bekerja sehingga yang ada hanya ia dan pengasuhnya.

"Di saat anak umur 1 - 2 tahun itu butuh sesuatu yang lembut dan nyaman di mana ia memosisikan itu sebagai pengganti ibu yang saat itu tidak bersamanya," ujar Octaviani yang menjabat sebagai Wakil Dekan I di Fakultas Psikologi UniversitasYarsi Jakarta.

Octaviani menyebutkan, di saat anak-anak merasa ditinggal oleh ibunya, maka ia akan mencari kehangatan lain dari sesuatu yang dirasa nyaman baginya. Dan sesuatu itu tidak hanya pada barang berupa guling atau bantal saja, bisa juga selimut atau boneka.

"Biasanya barang-barang pengganti tersebut berupa barang yang sifatnya halus, nyaman yang ia ibaratkan seperti pelukan ibunya," tutur psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit M.H Thamrin Internasional yang terletak di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Octaviani menjelaskan, kebiasaan ini banyak terjadi di luar negeri. Sang anak sudah biasa ditinggal sendirian terutama pada malam hari. Mereka biasanya menghilangkan kesendiriannya dengan memeluk Teddy Bear. Dan itu tidak hanya terjadi pada anak perempuan, juga anak lelaki.

"Sebenarnya hal itu normal sekali terjadi, di mana anak mendapatkan kehangatan dari barang yang dibawanya, asalkan tidak berlebihan," ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia ini. Tidak berlebihan di sini dijelaskan oleh Octaviani adalah bahwa selama anak tersebut tidak menutup diri, dan hanya mau ditemani barangnya sehingga sulit untuk bersosialisasi dan menjadi ketergantungan.
(tty)

Beri komentar