SELAIN fungsi estetik, penerapan batu koral pada hunian memiliki manfaat lebih. Mulai peresap air, pijat refleksi, hingga alarm "anti maling".
Kesan alami sebuah taman ataupun hunian dapat dibangun melalui penempatan ornamen yang diperoleh langsung dari alam. Salah satu yang paling diminati adalah bebatuan alam, seperti halnya batu koral. "Tujuannya adalah menampilkan unsur alam pada hunian melalui bebatuan," ujar arsitek lanskap dari Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Nirwono Yoga.
Saat ini banyak kalangan yang menggunakan batu koral hias sebagai pemanis interior ataupun eksterior. Bentuk, ukuran, dan warna batu koral yang beraneka ragam menjadikannya sangat fleksibel untuk diterapkan pada dinding, lantai, carport, terlebih lagi taman. Pemasangannya pun tidak rumit, bisa disemen ataupun ditebar begitu saja. Koral yang dipasang dengan cara ditempel, juga populer dengan sebutan koral sikat.
Menurut Nirwono, batu koral yang diaplikasikan pada dinding biasanya berukuran agak besar dan berpori kasar, sementara untuk lantai umumnya lebih kecil atau sedang.
Adapun pada carport bisa dipakai koral dengan bentuk kurang teratur dan hanya bagian yang kecil. Aplikasi koral lainnya adalah pada batu pijakan (stepping stone), yang dibuat dengan cara menebarkan batu koral berukuran kecil pada cetakan adukan semen yang masih basah, lantas menyikatnya manakala semen akan mengering.
"Koral dengan permukaan yang tampak licin juga dapat difungsikan sebagai hiasan pada taman kering di dalam rumah," sebutnya.
Sebagai elemen estetik, batu koral dianggap mampu mengangkat atau menguatkan estetika desain sebuah rumah. Oleh sebab itu, penempatan batu koral harus mempertimbangkan konsep dasar alias desain hunian itu sendiri. Nirwono mencontohkan, pada rumah yang lebih didominasi nako yang identik dengan bentuk lurus saja alias kaku, maka jika diberi ornamen koral dengan bentuk meliuk akan kurang tepat.
Demikian halnya padu padan batu koral dengan elemen yang lain, haruslah cermat. Untuk dinding misalnya, akan lebih cocok bila Anda mengombinasikan koral dengan dinding dari batu kali, batu bata, ataupun dinding yang didominasi semen. Sementara perpaduan yang kurang tepat, misalnya dengan marmer.
"Marmer akan lebih cocok bila dipadukan dengan keramik," saran arsitek yang juga hobi melukis ini.
Lebih lanjut Nirwono mengungkapkan, sebagai elemen multifungsi, batu koral tidak sekadar mempercantik dan menguatkan kesan alami pada hunian. Lebih dari itu, material keras ini juga istimewa karena memiliki segudang nilai lebih.
Dari segi kesehatan, batu koral dapat difungsikan sebagai ornamen relaksasi. Anda dapat mendesain "taman terapi" dengan menebarkan atau menyusun batu koral dengan tinggi-rendah dan ukuran besar-kecil tertentu agar sesuai kontur telapak kaki. Konsep ini bisa diaplikasikan pada taman rumah, semisal pada jalur setapak bagi pejalan kaki.
Anda cukup berjalan di atas taburan batu koral tadi, dan biarkan bebatuan ini menjadi media pijat refleksi alami untuk kaki yang sering pegal atau lelah. Saat mengenai telapak kaki, permukaan batu yang kasar akan melancarkan sirkulasi darah. Namun perlu diingat, pilihlah batu yang tidak terlalu runcing atau tajam karena dapat melukai kaki. Carilah batu koral berbentuk oval berdiameter 1-2 cm.
Ditinjau dari segi ekologi, batu koral sangat baik diterapkan sebagai "sumur" resapan air. Anda dapat menerapkannya di taman; dengan urutan, mulai atas adalah batu koral, pasir, ijuk, pecahan genting, tanah. Dalam hal ini, koral akan membantu menyerap air di dalam tanah sehingga membantu menjaga sirkulasi dan ketersediaan air tanah serta unsur hara di dalamnya.
"Batu koral yang ditabur dan terletak di tanah bawah atap rumah juga dapat berfungsi sebagai resapan air. Tetesan air dari atap akan menuju ke taburan batu koral agar air tidak menciprat ke tembok taman," timpal arsitek Nugroho Widhi.
Masih seputar nilai plus batu koral, Nirwono menambahkan bahwa rumah-rumah zaman dahulu umumnya memiliki halaman yang lantainya tidak dikeraskan dengan semen ataupun ubin (di-paving). Rata-rata pemiliknya membiarkan halaman rumahnya hanya meliputi hamparan pasir, tanah, dan batu koral.
"Nah, batu koral yang ditebar merata di halaman rumah ini dapat berfungsi sebagai "alarm antimaling" alami. Artinya, saat ada orang masuk halaman bisa terdengar langkah kakinya. Konsep seperti ini perlu dilestarikan," tuturnya.
(tty)