Getting Time...

The Victorian Era

Koran SI - Koran SI
Rabu, 2 September 2009 13:31 wib
detail berita
Foto: Adhini Amaliafitri

PENGARUH era victorian rupanya masih menguasai gaya busana muslim. Pada 2009 ini aksen ruffles, frills, dan kerah tinggi tetap menjadi pilihan para desainer.

Napas victorian yang terus berlanjut, terlihat dari presentasi koleksi perancang busana muslim di pergelaran Jakarta Fashion & Food Festival 2009, beberapa waktu lalu. Desainer busana muslim yang terlibat, menyajikan rangkaian outfit dengan variasi aksen khas victorian.

Seperti halnya tone yang mendominasi pada akhir abad ke-19, corak bunga nan romantis hingga ornamen lace dan renda yang tampil sebagai penghias busana. Tidak bisa dimungkiri, era victorian memang memberikan pengaruh besar terhadap dunia mode.

Gaya busana yang berusia ratusan tahun ini terus berevolusi dan mengadaptasi diri hingga mampu membaur dalam garis gaya modern. Para desainer pun tak segan mengulik, mengolah, dan merombaknya sehingga menjadi aksen yang bisa diterima masyarakat luas.

Sayangnya, beberapa di antara mereka hanya mengambil mentah bentukan-bentukan busana dari era tersebut. Dengan begitu, koleksi yang ditawarkan menjadi tidak adaptable dan berkesan ekstraglamor.

Apalagi bila disandingkan dengan tren busana siap pakai yang tengah hip saat ini. Pada tahun 2009 ini, gaya victorian kembali dalam nostalgia yang lebih lekat. Bukan hanya dari segi aksen semata, juga bentuk busana yang banyak menggunakan volume. Hal ini pun tidak hanya berlaku pada varian busana kontemporer, juga busana muslim.

Sebut saja Herman Nuary. Desainer asal Bandung ini terus konsisten menggunakan detaildetail khas victorian dalam rancangannya. Napas romantis itu dimunculkan Herman melalui aksen puff, teknik multilayer, serta gaya rancangan ekstravagan, yang menjadi ciri utama busana pada era tersebut.

Payet, kristal, dan permainan batu alam menambah kesan glamor. Sementara lace yang ditempatkan di bagian bahu dan ujung lengan menjadi pemanis sekaligus membuat tampilan keseluruhan terlihat mewah.

Tidak jauh berbeda, Irna Mutiara menyuguhkan victorian dengan konsep rancangan etnik kontemporer dalam gaun pengantin muslim. Irna menghadirkan rangkaian busana muslim glamor dengan banyak taburan payet serta aplikasi embroidery. Cutting, volume, aksen, seluruhnya meneriakkan garis kemegahan busana abad pertengahan.

Bukan hanya itu, Irna juga banyak menggunakan aksen korset serta korsase yang ditampilkan secara mewah, yang memang menjadi ciri khas koleksi Irna La Perle. Lain lagi dengan Hennie Noer yang menghadirkan bentukan dasar busana muslim, gamis dan tunik.

Kendati back to basic, gaya rancangan Hennie masih jauh dari kesan simpel. Napas victorian masih tersisip dalam garis desainnya. Bentukan semi-ballgown, cutting empire, dan babydoll mendominasi, begitu juga dengan teknik ruffles dan opnaisel. Hanya, Hennie masih memberi ruang bagi aroma tradisional agar tetap menguar.Terlihat dari penggunaan tenun dan batik yang diaplikasikan bersama material modern, layaknya sifon dan satin.

Mengenai koleksinya yang lebih menjurus ke gaya busana mewah, Hennie memberi alasan yang jelas. Koleksi desainer yang tergabung dalam Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat ini memang ditawarkan sebagai evening dress, bukan busana sehari-hari.

"Saya ingin menghadirkan kesan muslimah modern yang elegan dan berkelas," sebutnya dalam sebuah wawancara.

Monika Jufry juga mengambil napas victorian dalam rancangannya. Namun, dia lebih fokus pada kreasi unsur etnik Indonesia dengan potongan busana sehari-hari. Monika mengambil kain batik sebagai inspirasi.Dia berusaha membangkitkan kesadaran masyarakat untuk terus melestarikan aset bangsa.

"Karena itu saya mencoba mengolah batik dengan paduan bahan dan material lain untuk menghasilkan berbagai macam gaya busana modern yang bernapaskan Islam," tutur Monika.

Adapun sentuhan victorian dihadirkan desainer Jakarta ini melalui varian ruffles dan kerut pada lengan, kerah, juga jilbab. (nsa)

Beri komentar