Romantisme Ida Royani

|

Koran SI - Koran SI

Foto: Adhini Amaliafitri

Romantisme Ida Royani
CERITA-CERITA pada masa lampau bisa membawa perasaan rindu dan romantisme. Hal tersebut diakui Ida Royani. Dalam koleksi terbarunya, ia menghadirkan romantisme masa lalu dalam balutan motif etnis nan eksotis.

Melihat rancangan Ida Royani kali ini, kita seakan baru memasuki mesin waktu. Dibawa jauh ke masa lalu saat Indonesia masih berjuang mendapatkan kemerdekaannya. Motif etnis, warna natural, dan bentuk busana yang dinamis menghiasi rancangannya. Meskipun begitu, desainer berkacamata ini tidak terlalu jauh melenceng dari ciri khasnya. Sentuhan feminin masih mewarnai rancangannya. Hanya saja dikemas dalam siluet yang lebih ringan.

Dia masih konsisten menggunakan motif floral dan nuansa warna natural sebagai ornamen busananya. Begitu pula dengan teknik sulam tempel yang menjadi aplikasi di setiap koleksinya. Meski menghadirkan sentuhan yang berbeda, rancangan Ida masih mengikuti pakem busana muslim.Terlihat dari model gamis, tunik, dan abaya yang dipadu bersama celana panjang ataupun rok.

Sebagai variasi, Ida menambahkan selendang bermotif batik etnis yang juga terkadang digunakannya sebagai aksen. Penempatan aksennya pun tak banyak mengalami perubahan. Masih di sekitar kerah, lengan, bagian bahu dan dada, serta sisi busana. Dia pun tetap mempertahankan teknik multilayer yang kerap digunakan para perancang busana muslim. Menurut Ida, hal tersebut merupakan salah satu cara untuk menghadirkan kesan feminin.

"Baju berlapis itu biasanya terbuat dari bahan ringan yang melambai sehingga terlihat feminin dan cantik," ungkapnya.

Begitu pula dengan pemilihan bahan yang menjadi citra feminin busana wanita. "Saya banyak menggunakan sifon, satin silk, dan tulle," imbuhnya.

Sementara, untuk bentuk atasan, Ida banyak bermain pada lengan dan siluet busana. Dari beberapa koleksinya terdapat sentuhan Victorian yang kental, sedangkan koleksi yang lain terlihat begitu klasik.

Bentukan lengan menggelembung dengan aksen ruffles meramaikan rancangan Ida. Salah satunya pada blus lilit ala atasan para none Belanda di masa lalu atau pada tunik klasik dengan bukaan depan. Yang unik dari rancangan Ida kali ini adalah permainan draperi yang membuat koleksi busananya terlihat anggun. Secara keseluruhan, koleksi Ida tampil begitu romantis dalam sentuhan masa lalu.

Hanya saja, kepiawaian desainer berjilbab tersebut mengemasnya dalam gaya kontemporer membawa nuansa yang unik ke atas catwalk. Begitu pun dengan warna-warna yang dipilihnya. Pada saat desainer lain menggunakan warna cerah khas negara tropis, perancang lulusan London Academy of Modelling ini tampil membumi dengan nuansa warna natural.

Nuansa warna tembaga yang dihadirkannya memberikan kesan elegan yang ringan.Sebabnya, Ida tidak banyak bermain detail, hanya penambahan motif dan sedikit kerutan untuk mempermanis busana. Sementara, pemilihan warna biru turquoise yang ditampilkannya di awal peragaan merupakan bentuk apresiasinya terhadap kecantikan bunga.

Selain itu, wanita yang pernah meraih penghargaan Rochelier Designer Awards 1998 di Singapura ini juga semakin menonjolkan kualitas jahitan. "Tak perlu terlalu ramai menampilkan busana, yang terpenting kenyamanan yang ditawarkan serta kombinasi material yang sesuai," paparnya.

Sementara untuk penggunaan kerudung, Ida Royani tak banyak bermain warna dan detail. Konsep kesederhanaan masih tetap diusungnya. Ida hanya menggunakan satu warna yang senada dengan busananya. Tambahan ikat kepala sebagai aksesori pun tidak ditampilkan secara kontras. Melainkan dengan nuansa warna yang lembut.

Sebagai pelengkap penampilan, Ida hanya menambahkan seuntai kalung manik-manik ataupun yang terbuat dari batu alam dengan liontin besar. (nsa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Chanel Gandeng Pharrell dan Cara dalam Iklan Terbaru