Koleksi Hannie Hananto (Dewi Arta/Okezone)
DAHULU, model busana muslim terlihat sangat konvensional. Tetapi kini, busana muslim tampil lebih elegan dan bergaya internasional.
Kesan pertama itulah yang terekam kala melihat puluhan busana muslim yang dipamerkan di ajang Fashion Tendance 2010 dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) BPD DKI Jakarta. Senin (16/11/2009) malam, sebanyak lima perancang muslim andalan APPMI unjuk koleksi menampilkan koleksi yang menjadi rumusan tren tahun mendatang. Kelima perancang tersebut adalah Jenny Tjahyawati, Ida Royani, Hannie Hananto, Monika Jufri, dan Anne Rufaidah.
Kali ini, Hannie Hananto memberikan pilihan model busana muslim yang berbeda dari koleksi empat perancang muslim lainnya. Mengusung tema "Benji Imaji", Hannie menampilkan harmonisasi motif batik dengan warna-warna ceria.
"Motif benji itu adalah motif batik kuno Jogya, Tasik, dan Garut, tapi sudah mendapat pengaruh dari China berupa ukiran China. Kali ini saya mau menonjolkan motif ini. Motif ini sudah lama tidak dipakai, karena umumnya masyarakat lebih menyukai motif bebungaan. Sehingga motif ini dilupakan, padahal ini juga motif Indonesia," papar Hannie kepada okezone di Mal Pasific Place, Jakarta, (16/11/2009).
Motif benji merupakan motif batik yang terpengaruh ukiran China lengkung konstruksi masjid menjadi inspirasi di balik siluet unik koleksi "Benji Imaji". Agar hasil rancangannya tak terlihat kaku, Hannie pun mencoba mengeksplornya dengan warna-warna permen, sehingga meninggalkan kesan tua pada si pemakainya.
"Warna dasar batik adalah cokelat, jadi kurang menarik. Untuk itulah saya bereksperimen mengaplikasikan warna permen, seperti strawberry shorbet, synthetic jade, dan asphalt grey," lanjut Hannie yang ingin mengubah penampilan wanita usia 25-50 tahun sebagai pemakai utama terlihat lebih segar.
Mengapilkasikan motif ini pada material bahan memang tidak mudah. Berbagai kendala kerap Hannie alami. Namun, Hannie berhasil mensiasatinya dengan mengenal tekstur bahan satin silk, dan sifon silk secara cermat.
"Tidak semua bahan bisa di-print (sifon silk atau satin silk). Saya sering mengalami kegagalan kalau kainnya tidak pas. Jadi motifnya blur. Untuk proses print, hanya menghabiskan waktu 3-4 bulan saja," tutup desainer yang membandrol koleksi ini dalam kisaran Rp3 juta ke atas.
(tty) Kesan pertama itulah yang terekam kala melihat puluhan busana muslim yang dipamerkan di ajang Fashion Tendance 2010 dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) BPD DKI Jakarta. Senin (16/11/2009) malam, sebanyak lima perancang muslim andalan APPMI unjuk koleksi menampilkan koleksi yang menjadi rumusan tren tahun mendatang. Kelima perancang tersebut adalah Jenny Tjahyawati, Ida Royani, Hannie Hananto, Monika Jufri, dan Anne Rufaidah.
Kali ini, Hannie Hananto memberikan pilihan model busana muslim yang berbeda dari koleksi empat perancang muslim lainnya. Mengusung tema "Benji Imaji", Hannie menampilkan harmonisasi motif batik dengan warna-warna ceria.
"Motif benji itu adalah motif batik kuno Jogya, Tasik, dan Garut, tapi sudah mendapat pengaruh dari China berupa ukiran China. Kali ini saya mau menonjolkan motif ini. Motif ini sudah lama tidak dipakai, karena umumnya masyarakat lebih menyukai motif bebungaan. Sehingga motif ini dilupakan, padahal ini juga motif Indonesia," papar Hannie kepada okezone di Mal Pasific Place, Jakarta, (16/11/2009).
Motif benji merupakan motif batik yang terpengaruh ukiran China lengkung konstruksi masjid menjadi inspirasi di balik siluet unik koleksi "Benji Imaji". Agar hasil rancangannya tak terlihat kaku, Hannie pun mencoba mengeksplornya dengan warna-warna permen, sehingga meninggalkan kesan tua pada si pemakainya.
"Warna dasar batik adalah cokelat, jadi kurang menarik. Untuk itulah saya bereksperimen mengaplikasikan warna permen, seperti strawberry shorbet, synthetic jade, dan asphalt grey," lanjut Hannie yang ingin mengubah penampilan wanita usia 25-50 tahun sebagai pemakai utama terlihat lebih segar.
Mengapilkasikan motif ini pada material bahan memang tidak mudah. Berbagai kendala kerap Hannie alami. Namun, Hannie berhasil mensiasatinya dengan mengenal tekstur bahan satin silk, dan sifon silk secara cermat.
"Tidak semua bahan bisa di-print (sifon silk atau satin silk). Saya sering mengalami kegagalan kalau kainnya tidak pas. Jadi motifnya blur. Untuk proses print, hanya menghabiskan waktu 3-4 bulan saja," tutup desainer yang membandrol koleksi ini dalam kisaran Rp3 juta ke atas.
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com