INDONESIA dan India memiliki keterkaitan dari sisi sejarah saling berpadu, menciptakan budaya nan kaya. Sejarah itu bermula saat pedagang Gujarat, India, datang membawa kain-kain indah melalui pantai utara Jawa di abad ke-14.
Sejarah juga menyebutkan, selain pedagang Gujarat, budaya India juga merasuk masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan menciptakan akulturasi melalui pedagang Malabar serta Benggala yang kebanyakan memusatkan kegiatan perdagangan mereka di kawasan Aceh, Banten, serta Pasai, kota-kota pelabuhan pada masa itu.
Hubungan perdagangan yang sudah terjalin selama lebih dari 7 abad tersebut tentunya menjadi landasan yang kuat bagi persahabatan Indonesia dan India, yang terbukti melalui pertukaran dua desainer papan atas dari kedua negara di ajang Festival Mode Indonesia- Jakarta Fashion Week 09/10. Indonesia mengirim Sebastian Gunawan dan Priyo Oktaviano yang akan mengolah tekstil India sementara India mengirim Tarun Tahiliani serta Malini Ramani, dua desainer yang mewakili fashion Negeri Taj Mahal dari sisi berbeda. Keduanya akan mengolah kain tradisional Indonesia dan menyuntikkan sisi etnis India sebagai bentuk kolaborasi budaya dua negara.
Dalam sebuah sesi wawancara, Tarun dan Malini, begitu keduanya biasa disapa, bercerita banyak mengenai kain Indonesia yang mereka olah, industri fashion kedua negara, juga tentang Bali, Pulau Dewata yang sangat mereka kagumi. Berikut petikan wawancara dengan keduanya.
Bisa diceritakan tentang pemilihan kain Indonesia dan proses pembuatan koleksi kalian untuk Jakarta Fashion Week 09/10?
MALINI (M) : Tekstil Indonesia begitu indah dan kaya warna, seperti juga kain-kain India. Saat di Indonesia, kami menghabiskan waktu berbelanja kain di beberapa tempat, Allure dan Cita Tenun Indonesia, saya begitu terpesona sehingga mengambil berbagai kain dengan warna-warna cerah yang saya sukai. Begitu saya tiba di India, saya bingung memandangi kain-kain tersebut dan berkata pada diri sendiri. Apa yang akan saya lakukan dengan semua kain ini? Saya biasa bekerja dengan kain besar dan kain Indonesia yang saya bawa berupa lembaran- lembaran berukuran sedang. Jadi, saya merasa di situlah tantangannya.
TARUN (T) : Kain Indonesia memiliki ragam hias yang begitu indah dan pengerjaan yang sangat detail. Tapi permasalahannya, kebanyakan kain yang saya bawa, kain tenun terutama, sangat kaku sehingga sulit untuk mengolahnya. Beda dengan sari yang memang lembut. Dan kain-kain Indonesia berupa potongan-potongan sehingga saya harus memadukan 2 hingga 3 kain untuk menciptakan sebuah busana. Yang saya lakukan dengan kain-kain tersebut adalah menciptakan suasana India dengan tekstil Indonesia.
Bagaimana kalian memadukan gaya rancangan kalian menggunakan kain tradisional Indonesia, terutama untuk Malini yang mengusung citra modern?
M: Gaya rancangan saya merupakan kombinasi antara rock star dan Indian princess dan saya mencoba memasukkan gaya tersebut dengan menggunakan kain-kain Indonesia. Ada satu kain yang sangat saya sukai, kain tenun berwarna hitam dengan ragam hias cantik dan dengan kain itu saya membuat sebuah jaket berdetail sequin. Saya langsung jatuh cinta dengan hasil akhirnya dan saya memutuskan jaket itu tidak akan saya jual.
T: Saya selalu mencoba menghadirkan napas tradisional India dalam kemasan yang lebih modern begitu juga dengan yang saya lakukan menggunakan kainkain Indonesia. Kendatipun songket, tenun ikat, dan batik yang menjadi materialnya, rasa dan gaya India akan tetap terasa kental.
Berapa koleksi yang akan kalian tunjukkan di Jakarta Fashion Week dan seperti apa?
M: 12 koleksi, dan saya banyak menampilkan gaun-gaun mini dengan banyak sequin dan beadings. Saya menghadirkan tema "Tribal" yang memang terinspirasi dari gaya tribal kain-kain Indonesia yang saya olah lebih lanjut dengan embellishment. Terkadang orang bilang, koleksi saya terlalu flashy, tapi itu gaya saya, mereka boleh menyukainya ataupun tidak.
T: Seperti Malini, saya juga akan menunjukkan 12 koleksi. Sebenarnya untuk bercerita mengenai sebuah rangkaian koleksi, 12 busana itu tidak cukup. Tapi itu berarti saya bisa datang lagi ke Jakarta dan menunjukkan lebih banyak koleksi. Bagi saya, fashion adalah sesuatu yang kita inginkan untuk kita pakai, bukan semacam kostum panggung. Jadi, saya membuat koleksi yang akan diinginkan konsumen, namun tetap memasukkan unsur tradisional di dalamnya, dengan banyak draperi tentunya, karena seperti itulah busana India.
Apa pendapat kalian tentang desainer Indonesia, terutama Sebastian Gunawan dan Priyo Oktaviano yang bersama-sama dengan kalian untuk pertukaran desainer ini?
M: They're amazing. Mereka berdua sangat brilian dengan kain-kain India yang mereka olah. Saya tidak bisa memilih siapa di antara mereka yang paling saya sukai.
T: Sungguh. Saya terpesona melihat koleksi yang mereka hadirkan di atas catwalk. Ini pertama kalinya saya melihat hasil karya mereka, karena selama ini kami belum bertemu, bahkan saat mereka ke India beberapa bulan lalu. Menurut saya, gaya Sebastian lebih European, sementara Priyo sangat eksperimental dan itu fantastis. Baru pertama saya melihat kain kantha diolah seperti itu, sangat liar, edgy, dan imajinatif.
Industri fashion di India sangat berkembang bahkan telah bisa menembus pasar internasional, apa yang membuat India bisa seperti itu dan bagaimana menurut kalian tentang industri fashion Indonesia?
M: Di India, semuanya berkembang dan fashion adalah salah satunya dan hal itu lebih disebabkan orang-orangnya. Kami memiliki aset yang dianggap eksotis oleh kaum barat dan itulah yang kami manfaatkan sebagai modal.
T: Industri fashion India sudah berusia 10 tahun sekarang, karenanya wajar bila kami sudah bisa menembus pasar internasional. Namun satu hal yang membuat kami bertahan di pasar internasional adalah karena konsistensi kami mengangkat sisi tradisional India dalam look yang lebih modern. Saya tidak tahu tentang industri fashion Indonesia, namun karena kita sama-sama berangkat dari negara yang kaya budaya, memiliki iklim dan pola masyarakat yang serupa, saya yakin Indonesia pun bisa memajukan fashion-nya bahkan menembus pasar internasional.
Bagaimana dengan peranan pemerintah India dalam mendukung industri fashion?
M: Sayang sekali, sejak awal pemerintah tidak menaruh minat yang besar terhadap industri ini, hingga sekarang kami pun sudah melupakan mereka dan terus mandiri, berjalan dengan kekuatan sendiri.
T: Kami akan sangat berbahagia bila pemerintah bersedia mendukung, karena bagaimanapun industri fashion sedikit banyak berkontribusi terhadap perekonomian negara. Tapi hingga saat ini, pemerintah masih berpangku tangan terhadap fashion dan kami bisa terus maju karena didukung perusahaan besar, seperti halnya Lakme Fashion Week yang disponsori oleh Lakme, perusahaan kosmetik raksasa.
Apa pendapat kalian mengenai Indonesia sebagai pasar?
M: Dulu saya memiliki satu toko di Bali. Saya sangat suka Bali dan sering ke Bali untuk berlibur, tapi akibat peristiwa bom Bali II, partner saya memutuskan mundur dan sekarang saya hanya melakukan konsinyasi dengan tiga toko di Bali. Untuk membuka toko di Jakarta, saya sedang menuju ke arah sana. Sekarang saya sedang mempelajari pasarnya.
T: Bagi saya, Indonesia adalah pasar yang sangat logis, karena dari segi iklim Indonesia punya iklim tropis yang sama dengan India. Begitu pula dengan gaya masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi sisi tradisional mereka. Di Eropa, kami sukses hanya di musim semi dan musim panas, karena busana kami menawarkan warna dan eksotisme.
Namun saat musim dingin tiba, kami tidak bisa menjual karena apa yang kami tawarkan tidak sesuai dengan kebutuhan sandang mereka. Jika saya harus memilih antara pasar besar di Paris atau di Indonesia, saya akan memilih Indonesia.
(tty)