TAK SEKADAR memamerkan koleksi di atas catwalk kemudian menjualnya, Harry Dharsono menyimpan niat mulia, mengkampanyekan kesehatan melalui rangkaian koleksi terdahulunya. Bukti keindahan karya-karyanya selama 40 tahun berkiprah.
Harry Darsono bersama Yayasan Jantung Indonesia membuka mata wanita akan pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya penyakit jantung dan pembuluh darah dalam gerakan "Go Red for Woman". Kampanye sekaligus menyadarkan mereka agar wanita lebih peduli terhadap kesehatan jantung yang penderitanya terus bertambah.
Selama ini, banyak wanita yang masih mengabaikan bahaya penyakit jantung dan pembuluh darah. Mereka lebih mengkhawatirkan kanker payudara sebagai bahaya yang mengancam setiap saat. Padahal, ancaman penyakit jantung dan pembuluh darah 18 kali lebih besar daripada penyakit kanker payudara.
Mengusung tema "Haute Couture for a Good Cause with Harry Darsono", Harry menampilkan koleksi lamanya yang didominasi warna merah, warna lambang gerakan "Go Red for Woman". Koleksi yang ditampilkan adalah koleksi bersejarah sejak 1971 hingga kini. Harry bahkan pun harus terlebih dahulu mencari koleksi tersebut di museum pribadinya.
"Saya mulai merancang dari tahun 1964. Untuk show kali ini, saya hanya menampilkan koleksi dari tahun 1971 hingga koleksi terbaru, sekira tiga persennya. Itu saya beli dari pemiliknya dengan harga yang pantas. Koleksi ini merupakan koleksi yang pernah dikenakan para bangsawan, misalnya bangsawan Eropa. Mereka umumnya hanya mengenakannya satu kali setelah itu disimpan di kamar, padahal pembuatannya memakan waktu enam sampai tujuh bulan," ujar Harry saat konferensi pers di Mal Pacific Place, Jakarta, Rabu (18/11/2009).
Harry tak mengenakan jasa model profesional untuk membawakan koleksinya yang sudah melegenda, tapi oleh ibu-ibu dari korps diplomatik, para duta besar, istri-istri duta besar, sosialita, dan juga mahasiswa.
"Model-model yang tampil berkisar dari usia 20 sampai 72 tahun, tapi mereka merasa pede dan tidak merasa tua," lanjut alumni pendidikan mode London College of Fashion ini.
Harry pun sempat menyatakan ingin menampilkan gaun yang pernah dikenakan Lady Diana, namun berhalangan karena ukuran orang Indonesia berbeda dengan ukuran tubuh wanita luar negeri. "Awalnya saya ingin menampilkan busana yang pernah dikenakan Lady Diana, namun tidak jadi karena ukuran dan bentuk tubuh wanita Indonesia tidak ada yang pas dengan busana yang pernah dikenakan Lady Diana. Sedangkan koleksi ini tidak boleh diubah ukurannya, harus tetap original," pungkasnya.
Puncak show terasa kian meriah dengan kehadiran presenter ternama sekaligus brand ambassador Yayasan Jantung Indonesia, Susan Bachtiar. Susan tampil cantik dalam balutan busana yang pernah menjadi milik Princess of Bahrain dipadukan dengan jubah milik King Henry yang pernah dikenakan selama 17 tahun.
"Kampanye ini menyatakan kewaspadaan terhadap penyakit jantung di mana kami juga memberikan informasi penting kepada wanita terhadap bahaya penyakit jantung, yang menyebabkan kematian pada wanita. Kegiatan kampanye ini sudah berjalan dua tahun lalu. Informasi dan penyuluhan tetap kami laksanakan, salah satunya dengan fashion show ini maupun acara lain, seperti Cooking for Healty Food," tutur Susan menutup fashion show yang berlangsung. (ftr)
(tty)