Foto: Ist
PENDIDIKAN di Indonesia masih merupakan investasi yang mahal. Karena itu, perlu perencanaan keuangan yang baik. Bila ingin merencanakan pendidikan dengan baik bagi buah hati, sebaiknya merencanakan dana pendidikan sejak dini.
Dana pendidikan bisa mulai dipikirkan dan disiapkan sejak anak lahir dengan menyisihkan sebagian pendapatan rutin kita tiap bulannya atau pada waktu tertentu secara rutin. Asuransi adalah salah satu usaha atau ikhtiar untuk memberikan perlindungan, baik kerugian finansial maupun kerugian yang mungkin terjadi karena suatu risiko. Asuransi juga berfungsi memberikan kepastian tersedianya biaya pendidikan, kepastian biaya kesehatan, dan kepastian hari tua/pensiun.
Saat ini boleh dikatakan semua perusahaan asuransi menyediakan program asuransi pendidikan. Bahkan, di perbankan pun menyediakan program asuransi pendidikan yang dikemas bersama dengan tabungan. Kebanyakan asuransi pendidikan disertai asuransi jiwa tertanggung.
Secara khusus, asuransi pendidikan merupakan asuransi yang menawarkan dua kegunaan (dwiguna), yaitu fungsi proteksi dan investasi. Fungsi proteksinya akan menanggung risiko kematian atas masyarakat, yaitu dengan menjanjikan sejumlah uang tertentu jika mengalami kematian. Namun, uang pertanggungan yang diberikan itu biasanya telah disesuaikan dengan biaya pendidikan anak dan sudah disepakati di dalam polis.
Menurut perencana keuangan dari Mike Rini & Associates Financial Counselling, Mike Rini, asuransi cenderung melindungi atau mengantisipasi kejadian yang tidak terduga. Di dalamnya termasuk dana pendidikan yang mungkin saja karena sesuatu hal membuat masyarakat mengalami kesulitan dalam membayar biaya pendidikan.
Orangtua sakit, meninggal dunia, atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan beberapa hal yang menyebabkan kasus gagal melanjutkan sekolah. Karena itulah, sebelum hal itu terjadi, ada baiknya sejak awal merencanakan biaya pendidikan. Ada banyak alternatif yang bisa dilakukan, di antaranya menabung, pasar modal, emas, dan asuransi.
Kalau pilihannya adalah asuransi, maka ada baiknya masyarakat terlebih dahulu mengetahui berbagai produk asuransi pendidikan yang ditawarkan perusahaan asuransi. Cari tahu berbagai kelebihan dan kekurangannya. Jangan sampai ketika sudah bergabung, mengalami kesulitan saat mengajukan klaim. "Jangan lupa mengecek kondisi kesehatan perusahaan asuransi tersebut di Departemen Keuangan," sebutnya.
Masyarakat juga harus berhitung besarnya kebutuhan ketika hendak memasukkan anak-anaknya sekolah di masa depan. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat bisa berhitung dana yang dibutuhkan. Hal itu penting, karena menurutnya, biaya pendidikan merupakan salah satu bagian keuangan keluarga. Karena itu, sejak jauh hari harus diformulasikan atau disiapkan sehingga keuangan keluarga tidak terlalu mengalami guncangan ketika saat itu harus dilalui.
Dia menambahkan, pendidikan perlu biaya dan membutuhkan waktu panjang. Itulah sebabnya perlu merencanakan biaya pendidikan. Selama ini masyarakat awam banyak yang kurang memahami arti pentingnya asuransi pendidikan bagi putra-putrinya. Padahal, jika persiapan biaya dilakukan sedini mungkin, maka orangtua tidak akan repot jika anaknya akan masuk sekolah. Biaya pendidikan bisa direncanakan karena besaran uang yang akan diterima sebagai wujud klaim dapat diketahui.
Kunci keberhasilan menyiap-kan dana pendidikan sangat sederhana. Jadi, mulailah mempersiapkannya dari sekarang dan melakukannya dengan konsisten selama jangka waktu yang dibutuhkan. "Sekali lagi mulailah sekarang, jangan menundanya minggu depan, bulan depan, apalagi tahun depan," sebutnya.
Bila kepesertaan asuransi baru dilakukan ketika anak duduk di TK atau malah SD, premi yang mesti dibayarkan otomatis lebih tinggi dibandingkan asuransi yang direncanakan sejak anak usia nol tahun. Jadi, semakin dini ikut asuransi, preminya akan lebih murah.Kalaupun pembayaran premi tahunan dianggap memberatkan, pihak asuransi dapat mengubah caranya menjadi cicilan lewat pembayaran setiap semester, triwulan, ataupun bulanan.
Sementara pakar manajemen dari Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali menjelaskan, asuransi pendidikan merupakan sebuah produk yang dilematis. Sebab, sebagian besar dari masyarakat yang ikut asuransi ini berasal dari kalangan menengah. Di sisi lain return yang diperoleh, tidak cukup menutupi biaya pendidikan.
Namun begitu, dari sisi perencanaan keuangan, asuransi pendidikan cukup membantu masyarakat menengah untuk merencanakan pendidikan anak-anaknya. Hanya saja, mungkin perusahaan asuransi perlu meningkatkan return-nya agar masyarakat yang ikut asuransi pendidikan semakin merasakan manfaatnya. "Kalau return-nya semakin besar, tentu akan semakin memudahkan masyarakat untuk merencanakan pendidikan anak-anaknya," katanya.
(Koran SI/Koran SI/tty) Dana pendidikan bisa mulai dipikirkan dan disiapkan sejak anak lahir dengan menyisihkan sebagian pendapatan rutin kita tiap bulannya atau pada waktu tertentu secara rutin. Asuransi adalah salah satu usaha atau ikhtiar untuk memberikan perlindungan, baik kerugian finansial maupun kerugian yang mungkin terjadi karena suatu risiko. Asuransi juga berfungsi memberikan kepastian tersedianya biaya pendidikan, kepastian biaya kesehatan, dan kepastian hari tua/pensiun.
Saat ini boleh dikatakan semua perusahaan asuransi menyediakan program asuransi pendidikan. Bahkan, di perbankan pun menyediakan program asuransi pendidikan yang dikemas bersama dengan tabungan. Kebanyakan asuransi pendidikan disertai asuransi jiwa tertanggung.
Secara khusus, asuransi pendidikan merupakan asuransi yang menawarkan dua kegunaan (dwiguna), yaitu fungsi proteksi dan investasi. Fungsi proteksinya akan menanggung risiko kematian atas masyarakat, yaitu dengan menjanjikan sejumlah uang tertentu jika mengalami kematian. Namun, uang pertanggungan yang diberikan itu biasanya telah disesuaikan dengan biaya pendidikan anak dan sudah disepakati di dalam polis.
Menurut perencana keuangan dari Mike Rini & Associates Financial Counselling, Mike Rini, asuransi cenderung melindungi atau mengantisipasi kejadian yang tidak terduga. Di dalamnya termasuk dana pendidikan yang mungkin saja karena sesuatu hal membuat masyarakat mengalami kesulitan dalam membayar biaya pendidikan.
Orangtua sakit, meninggal dunia, atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan beberapa hal yang menyebabkan kasus gagal melanjutkan sekolah. Karena itulah, sebelum hal itu terjadi, ada baiknya sejak awal merencanakan biaya pendidikan. Ada banyak alternatif yang bisa dilakukan, di antaranya menabung, pasar modal, emas, dan asuransi.
Kalau pilihannya adalah asuransi, maka ada baiknya masyarakat terlebih dahulu mengetahui berbagai produk asuransi pendidikan yang ditawarkan perusahaan asuransi. Cari tahu berbagai kelebihan dan kekurangannya. Jangan sampai ketika sudah bergabung, mengalami kesulitan saat mengajukan klaim. "Jangan lupa mengecek kondisi kesehatan perusahaan asuransi tersebut di Departemen Keuangan," sebutnya.
Masyarakat juga harus berhitung besarnya kebutuhan ketika hendak memasukkan anak-anaknya sekolah di masa depan. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat bisa berhitung dana yang dibutuhkan. Hal itu penting, karena menurutnya, biaya pendidikan merupakan salah satu bagian keuangan keluarga. Karena itu, sejak jauh hari harus diformulasikan atau disiapkan sehingga keuangan keluarga tidak terlalu mengalami guncangan ketika saat itu harus dilalui.
Dia menambahkan, pendidikan perlu biaya dan membutuhkan waktu panjang. Itulah sebabnya perlu merencanakan biaya pendidikan. Selama ini masyarakat awam banyak yang kurang memahami arti pentingnya asuransi pendidikan bagi putra-putrinya. Padahal, jika persiapan biaya dilakukan sedini mungkin, maka orangtua tidak akan repot jika anaknya akan masuk sekolah. Biaya pendidikan bisa direncanakan karena besaran uang yang akan diterima sebagai wujud klaim dapat diketahui.
Kunci keberhasilan menyiap-kan dana pendidikan sangat sederhana. Jadi, mulailah mempersiapkannya dari sekarang dan melakukannya dengan konsisten selama jangka waktu yang dibutuhkan. "Sekali lagi mulailah sekarang, jangan menundanya minggu depan, bulan depan, apalagi tahun depan," sebutnya.
Bila kepesertaan asuransi baru dilakukan ketika anak duduk di TK atau malah SD, premi yang mesti dibayarkan otomatis lebih tinggi dibandingkan asuransi yang direncanakan sejak anak usia nol tahun. Jadi, semakin dini ikut asuransi, preminya akan lebih murah.Kalaupun pembayaran premi tahunan dianggap memberatkan, pihak asuransi dapat mengubah caranya menjadi cicilan lewat pembayaran setiap semester, triwulan, ataupun bulanan.
Sementara pakar manajemen dari Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali menjelaskan, asuransi pendidikan merupakan sebuah produk yang dilematis. Sebab, sebagian besar dari masyarakat yang ikut asuransi ini berasal dari kalangan menengah. Di sisi lain return yang diperoleh, tidak cukup menutupi biaya pendidikan.
Namun begitu, dari sisi perencanaan keuangan, asuransi pendidikan cukup membantu masyarakat menengah untuk merencanakan pendidikan anak-anaknya. Hanya saja, mungkin perusahaan asuransi perlu meningkatkan return-nya agar masyarakat yang ikut asuransi pendidikan semakin merasakan manfaatnya. "Kalau return-nya semakin besar, tentu akan semakin memudahkan masyarakat untuk merencanakan pendidikan anak-anaknya," katanya.
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com