Foto:Corbis
STANDAR sosial telah memutuskan, imej seorang wanita sempurna adalah tinggi semampai, berkulit putih dan tentu saja bertubuh ramping.
Dari catwalk hingga gerai-gerai busana, yang dilihat konsumen adalah parade busana bagi si langsing. Sementara, plussize hanyalah komplementer agar dunia mode tidak dianggap mengucilkan mereka yang berukuran plus.
Desainer pun tampaknya tak ingin repot-repot "mengepas" busana bagi si chubby. Alasannya? "Para model dengan ukuran tubuh nol terlihat lebih baik di atas catwalk, juga dari balik kamera. Lagipula, itu yang konsumen harap untuk dilihat," ujar desainer rumah mode Chanel, Karl Lagerfeld.
Padahal, para model dengan ukuran tubuh nol merupakan cerminan "sempurna" yang dianggap tidak real untuk kebanyakan wanita di dunia. Bahkan di dunia mode itu sendiri. Isu anoreksia pun beredar kencang di kalangan model, yang tak jarang menyebabkan kematian.
Margaux Hemmingway, aktris dan model, meninggal akibat bulimia. Sementara Ana Carolina Reston, model Brazil berusia 21 tahun meninggal akibat anoreksia di tahun 2006. Anoreksia juga merenggut nyawa kakak beradik yang berprofesi sebagai model, Luisel dan Eliana Ramos. Keduanya menemui ajal akibat anoreksia dan diet ekstrim. Fenomena tersebut akhirnya membuat mereka yang tergabung dalam asosiasi mode mengambil tindakan.
Bekerja sama dengan pemerintah, mereka pun menghadirkan peraturan baru, yakni dengan tidak menggunakan model yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) di bawah 18 dan memastikan semua model yang terlibat di dalam sebuah fashion week tidak berada di bawah umur.
"Kekhawatiran kami yang terbesar adalah para desainer yang masih mencari imej tubuh sempurna yang sangat kurus yang terkadang justru dimiliki mereka yang berada di bawah umur. Karenanya, kami bekerja keras agar UU anti-anoreksia dan peraturan baru yang menetapkan model cukup umur untuk mengikuti pekan mode bisa terlaksana," ujar perwakilan Object, organisasi hak-hak wanita Inggris, Sandrine Levêque.
Prancis telah satu langkah lebih maju untuk meresmikan peraturan mengenai pelarangan penggunaan model yang terlalu kurus dalam dunia fashion. Parlemen mode Prancis telah menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) yang melarang siapapun, termasuk majalah, pengiklan, dan website untuk mempublikasikan model-model anoreksia.
RUU terbaru ini merupakan yang terkuat dari peraturan lain yang diajukan pada tahun 2006, berkenaan dengan kematian model Brazil akibat anoreksia. Peristiwa itu merupakan kasus terparah dan langsung memberi dampak luas pada dunia mode internasional, salah satunya penetapan IMT di atas angka 18 bagi model.
Kendati beberapa desainer masih tetap kekeuh mempertahankan imej badan ekstralangsing, terdapat kelompok desainer lain yang justru mendukung kehadiran model "full figure". Salah satunya adalah desainer London, Mark Fast.
Di catwalk London,Fast menawarkan opsi baru bagi para penikmat mode. Tidak lagi menyajikan barisan model bertubuh ramping semampai dengan kaki panjang sebagai fokus utama perhatian di panggung mode, melainkan juga model-model bertubuh bongsor atupun yang memiliki ukuran tubuh plus. Fast mengatakan, kehadiran model-model dengan ukuran tubuh plus bisa memperbesar jangkauan pasar.
Selama ini, yang dilihat konsumen di atas catwalk adalah model-model ramping yang membawakan busana berukuran kecil, sementara konsumen dengan ukuran tubuh yang lebih besar harus puas dengan pilihan yang tersedia di toko.
"Dengan kehadiran model bertubuh plus di catwalk, ada target konsumen lain yang bisa kita jangkau dan saya yakin hal itu akan berdampak terhadap penjualan," terang Fast, yang menggunakan model berukuran 12 dan 14 di samping barisan model bertubuh langsing.
Sukses bagi Fast, pertunjukkannya berlangsung gemilang. Tamu undangan, pembeli dan pihak media menganggap Fast menghadirkan pertunjukkan yang semarak dan mampu memberikan alternatif yang lebih luas terhadap konsumen.
Selain Fast, pelaku mode lain yang juga mulai concern terhadap isu bentuk tubuh ini adalah para editor majalah fashion yang "merombak" tampilan cover-nya dengan menggunakan wanita bertubuh full figure bahkan tanpa make up, seperti yang dilakukan Elle Prancis.
Hal ini tentu mengubah imej face cover yang kerap tampil flawless, artistik, dan tentu saja berkulit putih dan mulus, yang menjadi impian semua wanita. "Dunia fashion kini memiliki formula baru, lebih menonjolkan kecantikan secara natural serta keragaman," ujar juru bicara Vogue Amerika Patrick O'Connel.
"Kami sudah mendiskusikan perubahan ini secara internasional dan saya rasa, majalah-majalah mode di dunia menganggap serius perubahan ini, terlihat dari cover juga artikel-artikel mengenai kecantikan di dalamnya," pungkas O'Connel.(ang) (Koran SI/Koran SI/uky)
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com