Getting Time...

Menilik Celah Moslem Evening Wear

Koran SI - Koran SI
Jum'at, 11 Desember 2009 09:12 wib
detail berita
Koleksi Nuniek Mawardi (Foto: Dok Okezone)

Penetrasi busana muslim semakin agresif. Bukan hanya di lini busana kasual, juga di lini busana pesta. Evening wear pun menjelma high fashion, konsep eksklusif busana muslim.

Maraknya busana muslim bergaya mewah, mirip gaun malam, menunjukkan semakin terkikisnya stereotip old fashion pada busana muslim saat ini. Konsep busana pesta muslimah pun terbentuk, menjadi celah pasar bagi desainer. Bukan hanya bagi perancang busana muslim, tapi juga desainer busana kontemporer. Penggarapan moslem evening wear ini terlihat marak di berbagai pergelaran busana, baik pertunjukan tunggal maupun kompilasi beberapa desainer sekaligus.

Dari pergelaran Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2009 hingga perhelatan Jakarta Fashion Week 09/10, yang tidak ketinggalan menghadirkan ragam busana muslim, mempertunjukkan kekayaan desain busana muslim Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Taruna K Kusmayadi mengatakan, hal itu diharapkan bisa lebih memopulerkan busana muslim di belantika mode Indonesia. Taruna juga menyadari bahwa bidang busana muslim belum sepenuhnya terbangun dalam hal usaha.

"Karena belum digarap secara maksimal itu, bisnis busana muslim ini semakin menjanjikan. Apalagi sekarang lebih banyak yang bisa digarap, seperti busana muslim pesta (cocktail) dan juga busana pengantin muslim," tutur pria yang akrab disapa Nuna ini.
Hal tersebut memang terlihat jelas di atas catwalk. Desainer busana muslim Indonesia, khususnya yang tergabung dalam APPMI, menampilkan koleksi yang terbilang variatif, baik dari segi tema maupun tampilan busana, yang kali ini lebih terfokus pada busana muslim pesta dan gaun pengantin muslim.

Salah satunya adalah busana muslim rancangan Irna Mutiara yang ditampilkan dalam Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu. Koleksi evening wear dalam palet lembut ditampilkan desainer asal Bandung ini. Untuk koleksi kali ini, dia mencoba mengadaptasi bentuk busana suku Afrika yang sederhana dan kaya warna. Hal itu terlihat dari garis rancangan Irna yang cenderung lurus tanpa detail berlebihan, kecuali permainan sulam usus dan lipit sebagai pemanis.

"Melalui koleksi ini, saya ingin memberikan tampilan busana muslim baru," sebut Irna yang menampilkan tema "Neo Exotic". Irna juga menyebutkan, tampilan baru tersebut diaplikasikannya dalam pemasangan manik-manik dan print motif tribal yang disajikan secara kontemporer.

Tidak jauh berbeda, Lia Afif pun menampilkan barisan busana muslim dengan ragam aksen eksklusif yang mempertegas kesan glamor. Namun, Lia tidak melupakan citra Indonesia dengan memasukkan batik dari Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur sebagai material koleksinya. Lia menyebutkan, dengan menggunakan material asli daerah, dia tidak hanya ingin menyentuh budaya, tapi juga melestarikan pusaka bangsa.

"Saya berusaha merangkul batik dengan motif khas yang menggambarkan prasasti Anjuk Ladang dari Nganjuk," kata desainer perwakilan APPMI Jawa Timur ini. Dia juga mengatakan, untuk koleksi ini dirinya bekerja sama dengan ibu-ibu PKK daerah yang peduli untuk mengangkat produksi dalam negeri dan pelestarian budaya lokal. Lia memang berusaha menyelaraskan koleksinya dengan tema besar JFFF 2009 "Loca Fore", yang memang berusaha menanamkan rasa cinta pada produk dan budaya lokal kepada masyarakat.

Local twist juga tertuang dalam koleksi Nunik Mawardi. Desainer asal Jawa Barat tersebut mempersembahkan koleksi cantik yang kental dengan gaya Greecian. Namun, bukan hanya moslem evening wear yang beraksi di catwalk mode, melainkan juga koleksi busana pengantin muslim. Sebut saja Defrico Audy yang memperluas lini koleksinya dengan mempersembahkan lini bridal muslim lewat Puan by Defrico Audy. Desainer yang lebih banyak menggarap cocktail dress ini menghadirkan kombinasi satin, manik-manik, swarovski, dan detail bunga yang dikemas secara islami. Audy yang berangkat dari desain busana kontemporer mengaku merancang busana pengantin muslim memiliki tantangan tersendiri.

"Tantangannya dari segi siluet karena saya harus mengikuti pakem busana muslim yang tidak boleh membentuk tubuh dan memperlihatkan aurat. Apalagi saya berangkat dari desain kontemporer dan baru terjun ke bisni sini," sebut Audy.
(tty)

Beri komentar