IKLIM ekonomi memang sudah mulai cerah selama dua bulan terakhir, namun hal itu tidak berarti bahwa pasar telah pulih sepenuhnya. Para pelaku mode pun pada akhirnya harus mencari spekulasi pasar baru yang bisa mendorong penjualan di tengah kondisi ekonomi yang masih belum menentu.
Beberapa rumah mode dan peritel raksasa tetap mempertahankan pasar Eropa dan Amerika dan berharap tahun 2010 akan terjadi peningkatan penjualan yang bisa menutup kerugian akibat resesi. Sementara, pelaku mode lain memilih Asia dan negara-negara Eropa Timur yang saat ini tengah merangsek maju, berusaha menjadi kekuatan ekonomi baru di tengah pasar yang belum stabil.
Salah satu negara yang kini dibidik sebagai pasar oleh pelaku mode Eropa dan Amerika adalah Rusia. Alasannya? Sederhana saja, Rusia yang baru melepaskan diri dari sistem sosialis kini sedang mencari identitas baru, termasuk cara mereka berpakaian. Karenanya, tidak heran bila masyarakat Rusia seolah “lapar” dan menyerap dengan cepat tren baru yang ditawarkan kota-kota mode utama dunia.
Dengan kata lain, Rusia adalah ladang uang baru bagi para pelaku mode. Giorgio Armani telah memulai ekspansi Rusianya dengan mendirikan gerai baru Oktober lalu, yang kemudian disusul desainer Amerika Carolina Herrera. Seperti juga Armani, Herrera membuka butik pertamanya di Rusia di jantung Kota Moskow dan langsung mempersembahkan koleksi cerah bermaterialkan linen yang menjadi highlight rancangannya untuk musim semi 2010.
Kendati demikian, kedua desainer tersebut bisa dikatakan masih bertaruh terhadap pasar Rusia yang kini tengah melonjak naik.
“Sebenarnya, ini adalah pertaruhan. Riset pasar yang kami lakukan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan ekstrem terhadap pembelanjaan masyarakat Rusia, terutama untuk produk mewah, yang bagus bagi kemajuan brand, tetapi tidak menutup kemungkinan hal itu hanya sementara,” ujar Herrera.
“Kami pun masih mengetes pasar dengan cara ini,” sebut desainer berusia 70 tahun ini.
Herrera memang jauh lebih optimistis ketimbang desainer lain yang lebih memilih masuk dalam kepompong untuk mempertahankan bisnisnya atau menantang risiko penjualan yang terus menurun dengan merombak strategi.
“Saya pikir krisis bisa menjadi batu sandungan bagi industri manapun, tapi fashion masih terus berjalan karena wanita tidak akan berhenti membeli kendati di tengah krisis sekalipun dan itu adalah kenyataan,” ujarnya kepada Reuters.
(nsa)