AKSI flirting, menggoda, atau tebar pesona sering kali terjadi di kantor, dan sulit untuk dihindari. Tebar pesona ibarat bumbu manis yang membuat pekerjaan tak lagi terlalu melelahkan. Tapi sejauh mana aksi ini boleh dilakukan?
Mungkin Anda pernah mengalami hal ini. Ada rekan kerja lawan jenis yang senang mengajak Anda bicara. Ia sering mengunjungi kubikel Anda, sering melirik Anda, dan kerap kali menggoda Anda. Tanpa disadari, Anda sudah sering keluar makan siang berdua dengannya dan pergi berdua setelah bubar kantor.
Layaknya selebriti, Anda pun harus merahasiakan kegiatan Anda berdua dari rekan kerja yang lain. Anda pun harus meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanyalah pertemanan biasa. Lagipula sedikit tebar pesona dan menggoda rekan kerja tak ada salahnya bukan?
Bisa jadi memang begitu. Tapi jika hal ini dilakukan di lingkungan kerja, lingkungan yang menuntut Anda untuk bersikap profesional, sejauh mana batasan untuk melakukan flirting atau tebar pesona ini boleh dilakukan?
Gabungan antara bekerja dan kesenangan
Di dalam lingkungan yang profesional, flirting antar rekan kerja bisa dan memang terjadi. Dalam sebuah survei yang dilakukan sebuah majalah pria asing, lebih dari separuh responden mengakui bahwa mereka pernah menyukai rekan kerja mereka. Dari 1.121 pria yang menjadi responden, 92 persen mengatakan mereka pernah tertarik dengan pekerja lawan jenis di kantor. Sebaliknya, dari 1.451 responden perempuan, 52 persen nya mengatakan pernah tertarik dengan rekan kerja pria yang sekantor.
Sementara itu, editor Stephen Perrine mengatakan bahwa flirting di kantor memang tak berbahaya. Namun hal ini bisa berubah dari sesuatu yang bisa diterima menjadi sesuatu yang tidak pantas jika ada hal yang diluar kebiasaan. Misalnya, 82 persen dari pekerja perempuan merasa takut dan ngeri karena digoda oleh pekerja pria yang jauh lebih tua.
"Salah satu pertanda lainnya kalau aksi flirting sudah mengkhawatirkan ialah jika orang yang digoda merasa tak nyaman menceritakan kegiatan yang dilakukannya di kantor," terang Perrine, seperti dikutip dari careerbuilder.com.
Tahap yang lebih serius
Jika masing-masing saling suka dan ingin melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius, dalam arti lebih dari sekedar saling goda dan tebar pesona, di sinilah masing-masing harus jeli dengan keinginan pasangannya.
Menurut Dennis Powers, penulis “The Office Romance: Playing With Fire and Not Getting Burned” (AMACOM), salah satu cara untuk menghindari terjadinya hubungan yang buruk, sebelumnya masing-masing harus menyamakan tujuan dari hubungan tersebut.
"Jika yang satu hanya ingin hubungan yang sifatnya senang-senang dan santai tapi yang satu lagi ingin segera melangkah ke hubungan yang serius seperti pernikahan, hubungan tersebut bisa jadi tidak akan berhasil," tegas Powers.
Jika ini yang terjadi, Powers menyarankan agar masing-masing mulai berpikir apakah hubungan tersebut akan terus dilanjutkan atau akhirnya memilih untuk memutuskan hubungan dan bekerja satu kantor dengan mantan pacar.
Jika hubungan memang sudah benar-benar serius, pasangan harus paham betul peraturan tentang menjalin hubungan istimewa dengan rekan sekantor. Sadari pula bahwa ada kemungkinan salah satu dari pasangan harus keluar dari kantor karena adanya peraturan yang mengikat tentang berpacaran di kantor.
"Pastikan juga untuk tetap berlaku profesional di lingkungan kerja. Hindari atau kurangi kemesraan di depan publik. Kurangi juga komunikasi via e-mail, terutama yang mengumbar kata-kata mesra, untuk menghindari kesalahan pengiriman pesan," saran Powers.
Hati-hati
Jika flirting sudah menjadi kebiasaan yang melekat di diri seseorang, berhati-hatilah. Untuk menghindari kesalahpahaman, sebaiknya mereka yang gemar menggoda menjaga hubungan baiknya dengan rekan kerja, atasan, atau bawahannya. Namun jika akhirnya ada orang yang tersinggung atau terluka dengan perilakunya yang gemar flirting maka sebaiknya ia meminta maaf. Yakinkan orang tersebut bahwa ia tak bermaksud untuk menyakiti. Dan tentu saja, jangan mengulangi perbuatannya ke obyek yang sama.
Selain itu, perhatikan bahasa tubuh mereka yang digoda. Jika mereka tak merespons godaan, maka kemungkinan besar mereka memang tak suka dan tak nyaman dengan godaan tersebut. Bahasa tubuh yang artinya penolakan biasanya ditunjukkan dengan bertolak pinggang, menyilangkan tangan di dada, menghindari kontak mata, sampai jawaban yang singkat atau ketus.
Jaga juga perilaku dengan menjaga kontak fisik. Saat berkomunikasi, tak masalah jika tetap menjaga kontak mata dan menyentuh tangan sesekali dengan ringan. Tapi hindari meraba-raba punggung atau bahu. Selain tidak sopan, juga akan risih dilihat oleh orang lain.
Terakhir, pahami lingkungan. Ada lingkungan yang tak masalah jika si penggoda mengeluarkan lelucon yang bernada seksual, tapi ada juga lingkungan yang tidak bisa menerimanya. Bahkan mengomentari penampilan seseorang juga tidak boleh sembarangan. Daripada mengomentari pakaian atau tatanan rambut rekan kerja, lebih baik mengomentari atau memuji hasil kerjanya yang bagus karena akan terasa lebih aman untuk dilakukan.
Intinya, cobalah bermain aman. Jika tak yakin apakah langkah Anda aman, maka bermainlah di luar lingkungan kantor.
(tty)