The Next Generation

Minggu, 17 Januari 2010 - 11:25 wib | Koran SI - Koran SI

The Next Generation Salah satu karya Mel Ahyar dalam usungan tema EarthVOLUTION/Okezone WAKTU tidak pernah berhenti berputar, begitu juga di industri mode. Bakat-bakat baru dan kehadiran desainer muda menjadi cara dunia mode beregenerasi, melahirkan the next generation yang akan membawa dunia mode ke level yang lebih tinggi.
 
Di antara fashion capital dunia, London merupakan kota mode yang terkenal sebagai pencetak bakat-bakat muda brilian. Hal itu terbukti dengan lahirnya nama-nama besar layaknya Dame Vivienne Westwood, Alexander McQueen, John Galliano, dan para desainer masa kini, Stella McCartney, Matthew Williamson, Christoper Kane, juga Gareth Pugh.
 
Desainer-desainer besar mengatakan bakat baru merupakan bahan bakar yang akan membuat dunia mode terus tumbuh. Seperti yang pernah dikatakan President Council of Fashion Designers of America (CFDA) Diane von Furstenberg.
 
”Desainer muda adalah hal yang sangat penting bagi keberlanjutan industri mode karena di tangan merekalah kita meletakkan mode masa depan,” tutur von Furstenberg yang terus mengupayakan dukungan bagi desainer muda Amerika Serikat.
 
Tidak hanya di Amerika, Milan, yang terkenal dengan rumah mode raksasa dan desainer kelas wahid pun tak ketinggalan memberikan dukungan bagi para bakat muda. Mario Boselli, Chairman National Chamber of Fashion, Italia, mengatakan Milan adalah kota mode dan merupakan rumah bagi para desainer.
 
”Tua ataupun muda, mereka adalah desainer yang membuat Milan menjadi kota mode utama di dunia. Karena itu, kami menerima mereka semua dengan tangan terbuka, terutama bagi para bakat muda yang ingin memulai atau memperluas bisnisnya,” sebut Boselli,seperti dilansir Reuters.
 
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Potret dunia mode Indonesia masa depan juga terletak di bahu para emerging designers yang justru terlihat semakin agresif menunjukkan taringnya. Hal itu terlihat jelas di ajang Jakarta Fashion Week 09/10 yang dihelat beberapa waktu lalu.
 
Di pesta mode akbar tahunan itu, desainer muda mencuri perhatian, memperlihatkan bahwa kreativitas mereka pun tak kalah dengan para perancang yang sudah established, malah lebih eksperimental dan eksploratif. Sebut saja tiga desainer muda yang disponsori Mazda C2, Stella Rissa, Jeffrey Tan, dan Mel Ahyar.
 
Stella yang baru saja meluncurkan lini sekundernya, stella.r, menghadirkan ragam busana minimalis dengan warna cerah yang menggambarkan sisi praktis sekaligus lembut dari wanita urban masa kini. Kontras dengan Jeffrey yang menghadirkan koleksi eksperimental dan edgy yang rupanya terinspirasi ”kontradiksi” biarawati. Adapun Mel Ahyar memperlihatkan kepiawaiannya bermain teknik dan aplikasi dengan koleksi bertajuk ”Heart Crisis”. Koleksi ketiganya menarik perhatian para pembeli asal Australia Grace Clapham yang mewakili Boko Agency.
 
”Saya suka sekali dengan rancangan Jeffrey Tan, liar, agresif, dan begitu kreatif namun yang justru membuat saya tertarik untuk berbisnis adalah Stella Rissa. Dia berhasil membawa sisi wearable dalam sentuhan kontemporer dan bergaya internasional,” komentar Grace, yang kerap mencari bakat baru di belantika mode Asia.
 
Desainer muda lain yang juga unjuk gigi di Jakarta Fashion Week adalah duo desainer muda alumni LaSalle, Yosafat Dwi Kurniawan dan Krista Rompas. Mereka ”pamer” kemampuan lewat label SeaM yang mengombinasikan citra princess dan gaya punk dalam tema ”Love Kills”. Bukan hanya konsep desain yang terasa kuat, SeaM juga menunjukkan arahan bisnis yang tepat.
 
”Untuk sekarang, kami memang masih made to order, namun untuk 2010 rencananya kami sudah akan menekuni ready to wear,” ujar Yosafat yang pernah mewakili Indonesia di ajang Hempel Awards, bagian dari China Fashion Week.
 
Andreas Odang, salah satu finalis Lomba Perancang Mode (LPM) Femina, juga ikut meramaikan pesta mode akbar tersebut melalui koleksinya yang menggambarkan aura feminin sekaligus sensualitas. Di dalam Fashion Tent, para desainer muda yang tergabung dalam butik kompilasi Fashion First pun menghadirkan koleksi terbaru untuk acuan tren 2010. Melalui tema besar ”Cinderella” yang membawa pesan moral bahwa tidak perlu sepasang sepatu kaca untuk menjadi seorang putri, Fashion First menghadirkan rangkaian koleksi yang tidak hanya memanjakan mata, juga mengusung citra personal pemakainya.
 
”Kami harus menyadari bahwa dunia berubah, masyarakatnya pun ikut berubah dan sejalan dengan itu, mode berubah,” ujar Jeffrey Tan, yang juga termasuk lineup desainer Fashion First.
 
”Untuk itu, dibutuhkan sebuah konsep desain yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan mode masa kini yang lebih individual tanpa kehilangan garis tren global,” sebutnya.
 
Ketua Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) Sjamsidar Isa mengatakan bahwa sinergi antara para pelaku mode, pemerintah, juga pihak swasta sangat dibutuhkan untuk membuat industri mode satu langkah lebih maju.
(ftr)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »