Normalkah Bayi Bentar-bentar BAB?

|

Mom& Kiddie -

Dalam 24 jam pertama, bayi akan mengeluarkan BAB berwarna hitam kehijauan. (Foto: WebMD)

Normalkah Bayi Bentar-bentar BAB?
"DUTT... brutt… brutt,”. Prita, bayi mungil itu mengeluarkan suara nyaring dari bawah perutnya. Kontan saja, Lusia menoleh ke arah buah hatinya. Setelah diamati, rupanya itu kali pertama Prita kecil BAB.

Eh, selang beberapa hari berikutnya, BAB-nya Prita kok berubah warna. Awalnya berwarna hitam, lantas berubah menjadi kekuningan, intensitasnya pun semakin sering. “Duh, kenapa ya si Prita?,” gumam ibunya. O, o, tenang dulu Moms! Yuk, simak seputar BAB pada bayi!

Dari “aspal” hingga “selai kacang”

Dalam 24 jam pertama, bayi akan mengeluarkan BAB berwarna hitam kehijauan. Konsistensi (bentuknya) menyerupai aspal. BAB ini disebut mekonium, sisa absorpsi dari ketuban selama si bayi dalam kandungan ibunya.

Bisa dikatakan BAB dalam 24 jam ini penting untuk melihat apakah bayi memiliki kelainan pencernaan atau tidak, hirschprung (gangguan pengeluaran tinja akibat tidak ada syaraf tertentu pada usus bagian bawah), misalnya.

Biasanya, pada bayi menyusu ASI, dua hari pertama, BAB-nya masih berwarna hitam kehijauan, lengket seperti aspal. Baru pada hari ke - 3 dan 4, ‘pup’ nya berubah warna menjadi kuning kehijauan. Selanjutnya, bayi usia 5 - 7 hari, BAB-nya terlihat kuning dan konsistensinya kental, mirip selai kacang.

Bisa 5-7 kali sehari

Bertambahnya usia bayi, jelas memengaruhi pola BAB bayi baru lahir. Umpamanya saja, pada bayi usia 6-8 minggu, frekuensi BAB bisa 5-7 kali sehari. Bahkan saat kentut, bayi mengeluarkan BAB. Tampak konsistensi BAB, seperti bubur, kadang berbusa. Warnanya bisa kuning hingga kuning kehijauan.

Nah, saking seringnya bayi BAB, orangtua menyangka bayinya terkena diare. Pasalnya pada beberapa bayi yang minum ASI, setiap kali menyusu, dia akan BAB. Tapi, hal ini tidak ditemukan pada bayi yang mengasup susu formula atau campuran ASI-susu formula.

Sebenarnya, wajar saja bila bayi yang menyusu ASI sering mengeluarkan BAB. Dan itu bukan pertanda diare–yang bisa dikenali dengan ciri bayi lemas, tidak mau menyusu ASI, pipisnya jarang dan cengeng. Pasalnya, ASI memiliki efek laksatif sehingga memudahkan bayi untuk buang air besar.

Di awal kelahiran bayi hingga usia 6–7 minggu, ASI akan membersihkan sistem pencernaan bayi saat ia masih di dalam rahim ibu. Bahkan saat ia BAB, bilirubin yang tidak terpakai dalam tubuh akan dibuang melalui tinja. Berarti Moms, fungsi hati yang masih belum sempurna akan terbantu dengan baik dan risiko kuning pada bayi pun akan terminimalisir. Jadi wajar kalau bayi yang minum ASI lebih sering BAB.

BAB jarang

Sebaliknya, memasuki usia lebih dari 6 minggu, frekuensi BAB bayi berubah. Tadinya, BAB sering, kini BAB bayi bisa 2-3 hari sekali, bahkan 12 hari sekali. Malah, orangtua berprasangka kalau bayinya mengalami sembelit (konstipasi).

Padahal, hal ini terjadi akibat ASI sudah terserap sempurna dalam tubuh bayi. Sehingga, tidak ada ampas yang dibuang melalui BAB.

Lalu, bagaimana membedakan antara BAB normal dan sembelit? Nah, Moms bisa memerhatikan gejala konstipasi, yaitu: tinja keras, sulit dikeluarkan, hingga menyebabkan luka pada anus. Bila hal ini terjadi, segera periksa ke dokter anak.

Ayo, Amati BAB Bayi!

Hitam Kehijauan
Warna BAB ini berasal dari mekonium. Biasanya, keluar pada saat bayi pertama kali lahir.

Kuning kehijauan atau kecoklatan
Normalnya, warna BAB bayi adalah kuning. Bila BAB-nya kuning, si bayi mendapatkan ASI, baik foremilk (ASI depan) dan hindmilk (ASI belakang). Warna kuning asalnya dari proses pencernaan lemak yang dibantu cairan empedu.

Hijau
BAB hijau tergolong normal. Tapi, hal ini jangan terjadi terlalu sering. Pasalnya, pasokan ASI bayi tidak seimbang. Jika bayi hanya mengisap foremilk-banyak mengandung gula dan laktosa, tapi rendah lemak-saja, maka BAB-nya berwarna hijau. Namun, BAB-nya akan berubah menjadi kuning bila bayi mengisap hindmilk yang mengandung lemak. Sebaiknya, bayi mendapat ASI, baik foremilk dan hindmilk, sehingga gizi pun komplit. Sehingga, BAB bukan warna hijau melulu, tapi kuning kehijauan.

Bercak kemerahan
Terdapat bercak kemerahan karena terdapat tetesan darah yang menyertai BAB. Kemungkinan, bercak itu berasal dari tubuh bayi atau ibunya. Bila bayi sempat mengisap darah ibunya selama proses persalinan, maka bercak pada BAB itu adalah darah. Biasanya, bercak itu hanya muncul pada hari pertama hingga ketiga setelah bayi lahir.

Namun, jika bercak itu ada pada kotorannya—entah itu cair atau menggumpal—dan bukan dari darah ibunya, maka kemungkinannya bayi alergi susu formula (jika bayi sudah mendapat susu formula). Atau bayi mengalami penyumbatan pada usus (invaginasi), sehingga bayi pun harus dioperasi.

Putih keabu-abuan
Bila BAB bayi baru lahir berwarna putih keabu-abuan, hal ini musti diwaspadai. Sebab, terjadi gangguan pada hati atau penyumbatan saluran empedu. Sebaiknya, Moms segera membawa ke dokter. Bila ditunda berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, bisa jadi bayi mengalami kerusakan hati. Pengobatannya ialah transplantasi hati. (ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Salah Bergaul Penyebab Anak Jadi Pecandu Narkoba