SIAPA sih yang mau anaknya dicap sebagai nakal dan pengacau di lingkungannya? Tulisan di bawah ini mungkin dapat mengatasi permasalahan orangtua dan anak nakal tersebut.
Bagaimana seandainya anak Anda dilaporkan guru atau kepala sekolahnya berantem di kelas, berbohong, melakukan kekacauan, tindakan kekerasan dengan sesama teman atau sikap negatif lainnya? Tentunya, hal itu sangat memusingkan kepala.
Sebenarnya, sejumlah perilaku tidak baik tersebut normal sebagai bagian perkembangan kehidupan anak. Namun apabila hal itu terjadi sering dan dalam jangka waktu yang lama, akhirnya anak akan dicap “nakal” oleh lingkungannya.
Hal itu tentu saja berpengaruh terhadap jiwa si anak. Sebenarnya bagaimana orangtua tahu apakah anak Anda hanya melalui fase normal perkembangan masa kanak-kanak, atau dia memang benar- benar berjiwa pengacau sejati?
Langkah pertama adalah dengan menyelidiki perilaku si anak tersebut. Jadilah seorang detektif. Mulailah dengan melakukan sedikit penelusuran dengan mengamati secara lebih dekat tingkah laku atau tindakan anak Anda sehari-hari serta faktor-faktor yang mungkin mendorong hal itu terjadi. Saat mengamati perilaku, ketahui juga tahap-tahap perkembangan anak.
“Salah satu bagian dari pengasuhan anak yang baik adalah untuk memahami perkembangan anak. Lihat apa saja halhal atau tingkah laku yang cocok untuk anak Anda sesuai usianya,” kata Michele Borba Edd, ahli pengasuhan anak, psikolog pendidikan dari The University of San Francisco, Amerika Serikat seperti dikutip
webmd.com.
“Pada usia tertentu, memang ada beberapa perilaku yang mungkin tidak pantas atau belum pantas dilakukan anak-anak,” kata Glenn Kashurba MD, psikiater anak dan remaja di Somerset County, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Sebagai contoh, normal apabila anak usia tiga tahun meluapkan kemarahan dengan mengamuk. Tetapi jika sudah menginjak usia 16 tahun masih melakukan hal yang sama, tentunya hal itu menjadi masalah. Setelah mengamati perilaku, lalu definisikanlah perilaku itu sendiri.
“Lakukan apa yang saya sebut kilas balik,” saran Borba, yang juga penulis buku ”The Big Book of Parenting Solutions”. “Perilaku yang dijalankan anak itu seperti apa? Karena semakin Anda dapat menggambarkannya, semakin Anda bisa mengerti mengapa dia benarbenar melakukan itu,” jelasnya.
Kilas balik yang Anda lakukan harus menyertakan pertanyaan-pertanyaan berikut. Berapa lama anak memiliki perilaku negatif tersebut? Apakah ini pertama kalinya anak Anda telah berbohong, melakukan pelecehan atau berbuat kekisruhan di kelas. Atau apakah Anda melihat ini sebagai pola yang berkelanjutan?
Lalu pikirkan juga, apakah perilaku tersebut berubah? Apakah menjadi lebih baik atau semakin parah? Beberapa anak mulai melakukan tindakan buruk pada saat masuk di sekolah baru atau di awal tahun pelajaran baru, Tetapi secara bertahap kelakuannya akan berubah semakin baik. Jika perilakunya malah semakin parah dari waktu ke waktu, maka hal itu patut dikhawatirkan.
Setelah itu, analisis juga sebenarnya di mana saja anak menjalankan perilaku negatif tersebut? Apakah hanya di sekolah, di rumah atau bahkan di rumah teman-temannya juga? Perilaku tersebut apakah hanya berdampak pada Anda, atau dia memperlakukan kakek-neneknya, guru dan teman-temannya juga dengan cara yang sama? “Kalau dia mengalami masalah dalam semua aspek kehidupan dia, hal itu bisa jadi menunjukkan masalahnya sudah meluas,” kata Kashurba.
Pertanyaan seterusnya, seberapa parahkah kelakuan anak Anda tersebut? Apabila anak terlihat bertengkar, apakah dia hanya perang mulut atau sampai berkelahi secara fisik? Jika ada kontak fisik, seberapa parah hal itu terjadi? “Perkelahian anak-anak sebaiknya tidak sampai melakukan kontak fisik,” tutur Kashurba. “Kalau Anda memiliki anak berusia tujuh tahun ketahuan meninju temannya, hal itu mengindikasikan ada masalah dengan manajemen pengendalian amarahnya,” tambahnya.
Yang terakhir jawab pertanyaan ini; Apalagi yang terjadi dalam kehidupan anak Anda?
Sering kali, perilaku buruk adalah cara anak untuk menangani stres dalam kehidupan mereka seperti perseteruan atau perceraian orangtua.
Langkah kedua adalah berlaku jujur. Sebelum Anda mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki perilaku anak yang nakal, akuilah bahwa memang ada masalah dengannya. Penilaian “Anak saya sempurna. Anak orang lain yang memicu perkelahian ini” tidak baik. Sikap ini tidak akan menyelesaikan apa-apa. “Jujur menilai dan mengakui bahwa dia memerlukan intervensi. Bahwa kelakuan itu tidak akan hilang dengan sendirinya dan itu bukan sebuah fase yang normal,” kata Borba.
Hal lain yang tidak boleh Anda lakukan adalah menempatkan diri di tengah permasalahan ini dengan melindungi anak Anda begitu keras. “Orangtua kadang-kadang merelakan diri ‘tertabrak bus’ untuk menjaga anak dari konsekuensi dari perilaku mereka. Ini akan membuat perilaku anak lebih buruk lagi,” ungkap Kashurba.
Dengan kata lain, jika anak Anda mendapatkan dampak atau hukuman karena mengacaukan kelas, biarkan dia menerima itu Ketika anak Anda secara konsisten harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya, dia akan akhirnya belajar akuntabilitas.
Langkah ketiga segera cari bantuan. Anda telah menggambarkan masalah, lalu segera temui orang yang tepat untuk membantu Anda menyelesaikannya. Mulailah dengan seseorang yang Anda percaya yang sudah mengenal anak Anda seperti seorang guru, konselor sekolah, atau dokter anak Anda.
Jika orang itu tidak juga dapat memecahkan masalah, atau masalahnya begitu parah sehingga mengancam keselamatan anak Anda atau bahkan hubungan kekeluargaan, maka dokter Anda dapat merujuk Anda kepada seorang psikolog anak atau psikiater untuk mengevaluasinya lebih lanjut.
Langkah keempat adalah menekankan sikap positif dan hilangkan yang negatif. Dicap sebagai pengacau atau pengganggu bisa menghancurkan harga diri dan citra diri seorang anak. “Ini memiliki efek yang serius kepadanya, karena anak mulai bertindak seperti dia melihat bahwa semua orang berpikir tentang dia,” ujar Borba.
(tty)