TINGKAT kejadian diabetes mellitus meningkat pesat di seantero dunia setiap tahunnya, termasuk Indonesia. Karenanya, deteksi dini dan kontrol rutin sangat penting dijalani.
Perlu diketahui, diabetes punya dua gejala yang menyertainya, klasik dan nonklasik. Beberapa gejala klasik, seperti banyak kencing, banyak minum, turun berat badan secara drastis, dan makan banyak. Sedangkan gejala nonklasik (gejala yang tidak khas dan kerap dianggap sepele), yakni kesemutan di tangan dan kaki, mudah lelah dan lemas, gampang terkena infeksi, disfungsi ereksi, dan katarak.
Banyak penelitian telah membuktikan, kenaikan kadar gula darah yang tidak terkontrol dan terjadi terus-menerus mengakibatkan kerusakan pembuluh darah yang berujung pada gangguan penglihatan (katarak dan glaucoma), gagal ginjal, luka pada kaki yang berakhir amputasi, gangguan jantung, serta stroke.
Fakta bahwa lebih dari lima persen penderita katarak di seluruh dunia juga diakibatkan oleh diabetes. Namun, peningkatan angka kebutaan pada penderita diabetes, ternyata bisa dicegah lewat deteksi dini.
”Angka kebutaan akan tinggi sekali, makanya deteksi dini itu sangat penting. Saya anjurkan periksa ke dokter mata. Penderita diabetes direkomendasi oleh American Diabetes Assosiation untuk setiap tahun periksa mata,” kata Dr Gitalisa Andayani SpM, Departemen Mata FKUI/RSCM di acara "Woman Health Expo & Bazaar 2010" di Puri Agung Sahid Jaya Hotel, beberapa waktu lalu.
Lantas, bagaimana gejala yang dirasakan bila penderita diabetes terkena gangguan komplikasi pada mata?
Bila di bagian bintik kuning pada mata sudah ada pendarahan dan sebagainya, maka baru terasa buram. Gejala lainnya adalah melihat seperti bintik hitam yang melayang-layang dan mengikuti pergerakan mata.
”Ada orang bilang saya lihat nyamuk, saya lihat sarang laba-laba, padahal ini adalah bintik hitam,” jelas Dr Gitalisa.
Lebih lanjut Dr Gitalisa menjelaskan, berbagai gangguan komplikasi pada mata dapat dicegah atau diperlambat apabila diabetes ditangani dengan baik. Dan tak lupa, kadar gula darah dikontrol seoptimal mungkin.
”Bukan hanya berkunjung ke dokter mata saja, namun ke dokter umum juga menjadi kewajiban bagi para penderita diabetes,” sarannya.
(tty)