SALAM hangat Dr Nugroho. Saya Eka (30), sudah menikah selama 4 tahun, namun belum juga dikaruniai keturunan. Pernah kami konsultasi ke salah satu dokter Obgyn di Jakarta, jelang 1,5-2 tahun pernikahan kami, setelah kami melalui beberapa rangkaian tes didapati:
1) Dua kali tes sperma cenderung normal oleh 2 dokter yang berbeda dengan jarak pengetesan 1 tahun.
2) Pada 1 tahun pertama pernikahan kami sudah melakukan pengetesan USG dan didapati bahwa terdapat kista di dalam rahim, namun melalui pengobatan sudah dapat disembuhkan pada tahun kedua.
3) Setelah kista sudah sembuh, ternyata ada masalah lain yang timbul yaitu adanya keputihan yang kerap muncul, sehingga istri diberikan pengobatan berupa obat serupa peluru yang bersifat vaginal.
4) Setelah sampai pada poin ketiga diatasi, menurut diagnosa dokter didapati bahwa kami harus mengonsumsi obat yang bersifat hormonal untuk dapat merangsang meningkatkan kualitas sperma dan perangsangan terjadinya pembuahan (untuk poin ini kami kurang begitu paham).
5) Sepertiya poin keempat tersebut tidak begitu tuntas, mengingat saya sendiri tidak cocok setiap mengonsumsi obat tersebut menjadi mual-mual hebat dan selanjutnya dookter tersebut melakukan tindakan kepada istri dengan pengetesan HSG dan Xray.
Setelah melakukan Xray didapati bahwa posisi saluran telur agak miring, namun masih dapat melepaskan sel telur. Namun setelah diamati beberapa pekan dengan mengikuti saran dokter untuk memberikan pengamatan serius terhadap siklus, melalui beberapa diagnosa didapati ternyata ada kemungkinan terdapat ketidaksensitifan sel telur terhadap datangnya sperma sehingga tidak terjadi pembuahan.
Namun sayangnya hingga kelima poin tersebut kami tidak memiliki dokumen-dokumen tertulis, sehingga kami tidak bisa menyampaikan ke dokter lainnya. Sementara rumah kami sudah pindah dan agak kesulitan jika harus tetap konsultasi ke dokter tersebut.
Ternyata, setelah lama kami sudah tidak konsultasi lagi (hampir 1,5 tahun), saya sering mengamati apabila kami telah melakukan hubungan. Istri saya mengalami pusing dan pening yang cukup hebat di bagian kepala samping hingga ke belakang kepala, pada keesokan harinya.
Berdasarkan data-data tersebut, apakah saran terbaik dari dokter Nugroho mengenai kondisi yang kami hadapi? Apakah yang istri saya hadapi semata-mata memang ketidaksensitifan sel telur terhadap sperma, atau memang masuk dalam kategori alergi sperma? Dan, apakah kami harus melakukan laparoskopi untuk mengetahui tindakan selanjutnya? Atau melakukan inseminasi atau bayi tabung?
Terima kasih sebelumnya, dan maaf jika uraian yang kami sampaikan terlalu panjang. Semoga saran dari dokter dapat bermanfaat besar bagi kami yang sedang menantikan buah hati mengisi rumah.
Eka, Karawaci, Jakarta
Jawaban:
Keadaan yang Eka alami adalah infertilitas primer 4 tahun. Infertilitas mempunyai penyebab yang sangat komplek, sehingga keadaan yang Eka alami hampir pasti ada sesuatu penyebab, entah di fihak Eka, isteri atau kedua pihak yang harus dicari dan diberikan solusinya.
Alergi sperma dapat diperiksa dengan sederhana dengan PCT (post coital test) atau UPS (uji pasca sanggama) dengan syarat sperma analisa normal (normozoospermia), yaitu diperiksanya sperma pada lendir mulut rahim sehabis sanggama 6 sampai 12 jam setelah bersetubuh saat masa subur.
Keadaan pusing setelah melakukan hubungan badan dapat disebabkan ketidakbugaran isteri. Ada solusi jalan pintas dengan teknologi kedokteran yang paling sederhana, yaitu inseminasi cukup dengan syarat tuba/saluran telur terbuka, sperma baik lebih dari satu juta/ml.
Dokter O
(Dr Nugroho Setiawan SpAnd)
Rumah Sakit Internasional Bintaro
Jalan Thamrin Bintaro Sektor IX, Tangerang
(021) 745550 (tty)