Membuat Matematika Menyenangkan

Kamis, 18 Februari 2010 - 11:05 wib | Koran SI - Koran SI

Membuat Matematika Menyenangkan Selama ini pelajaran matematika dikenal sulit. Padahal dengan cara pengajaran yang menyenangkan dan ruang belajar yang nyaman, matematika tidaklah sulit dipelajari. (Foto: Google)

HINGGA kini pelajaran matematika masih menjadi pelajaran yang tidak disukai anak. Apa yang salah dalam pengajarannya, dan bagaimana pendekatan yang efektif terhadap anak?
 
Tangan Andien mendadak berkeringat setiap pelajaran matematika akan dimulai. Wajahnya pun menjadi pias tatkala sang guru mulai menunjuk beberapa siswa untuk maju ke muka mengerjakan soal. Alhasil, siswa kelas 4 SD ini selalu gelisah setiap ada mata pelajaran tersebut. Andien tidak sendirian, di belakang Andien tidak sedikit siswa yang merasa pelajaran itu menakutkan dan bahkan membencinya.
 
Ir Helena Margaretha, Head of Mathematics Department Universitas Pelita Harapan, mengatakan bahwa pelajaran matematika yang dirasakan siswa sebagai pelajaran sulit malah membuat siswa semakin tertekan dengan kondisi pengajaran yang diterapkan guru bersangkutan.
 
Sebut saja dengan menunjuk siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis. Bisa-bisa siswa cuma berpikir yang penting mampu mengerjakan soal di depan dengan mencontek teman, perkara mengerti atau tidak, urusan belakangan. Yang penting, tidak malu ketika di depan,” sebut Helena.
 
Situasi kelas yang tidak menyenangkan, Helena menilai, amat berperan besar bagi siswa dalam memahami materi yang disampaikan guru. Jika guru menerapkan metode pengajaran yang kaku dan cenderung menekan siswa, mereka malah telanjur takut atau benci dengan guru tersebut.
 
Pelajaran ini juga kurang disukai siswa berkaitan dengan cara penyampaian materi oleh para guru di sekolah yang dinilai kurang efektif. Guru dinilai masih mengajar secara “egois”, yakni mengajar tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ada di pikiran siswa. Ibarat dokter yang langsung memberikan terapi tanpa memberitahukan hasil diagnosis.
 
“Padahal, pelajaran apa pun harus dikaitkan dengan cara berpikir siswa dan bukan muncul dengan konsep abstrak, namun konkret. Sebenarnya inilah tujuan pelajaran matematika,” kata konsultan Institute for Education Reform Universitas Paramadina, Ahmad Thoha Faz ST.
 
Alumni Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) ini melanjutkan, sering kali siswa hanya disuruh menghafal rumus oleh guru ketimbang mengajak siswa menggunakan nalarnya untuk berpikir. “Jadi, pekerjaan mereka (siswa) hanya menghafal rumus, dan besoknya lupa atau bingung rumus tersebut untuk aplikasi soal yang mana karena mereka bukannya memahami,” tutur Ahmad.
 
Ahmad pun kemudian berinisiatif menciptakan metode pengajaran matematika dan sains yang dinamakannya aRTi. Kata aRTi memiliki beberapa makna, yakni pertama Radiant Thinking. Melalui cara ini, Ahmad mengajak guru untuk membebaskan emosi siswa lebih dulu sebelum menginjak ke pelajaran.
 
Karena itu, siswa bebas dari tekanan dan menerima pelajaran dengan semangat. Maksud kata aRTi berikutnya, menyangkut pada makna yang ditemukan dengan cara berpikir asosiatif, yakni siswa diajak untuk mengaitkan suatu permasalahan dengan permasalahan lain.
 
“Semakin banyak siswa mengaitkan suatu materi, maka semakin banyak mereka belajar. Dalam buku pelajaran, antara bab satu dan yang lainnya kan saling berhubungan. Tetapi, seringnya siswa sudah belajar suatu bab, bab sebelumnya lupa,” ujar Direktur Titik Ba Learning & Inspiration Center tersebut.
 
Makna aRTi yang terakhir merujuk pada Transformative dan Inner-out. Dalam hal ini mengubah cara pandang guru dan siswa bahwa belajar matematika pada akhirnya bukan berpatokan pada rumus, tetapi mengajak siswa untuk berpikir secara logika dalam memecahkan suatu soal. Bila diperhatikan, yang terjadi di sekolah siswa tidak diajak untuk berpikir lebih dalam mengenai proses, tetapi langsung menuju akhir yakni menerapkan rumus untuk memecahkan soal.
 
Ia juga mengenalkan lima prinsip mudah belajar matematika. Prinsip pertama, menyadari seutuhnya dari titik ke segala arah. Agar mudah dicerna, ubah masalah atau pertanyaan ke bentuk yang lebih mudah dipikirkan. Prinsip kedua, dengan membebaskan intuisi sehingga akal bekerja lebih optimal.
 
Prinsip ketiga mengajak siswa menjaga keseimbangan lewat melihat dari dua sisi dan padukan, kemudian bergerak ke satu arah, mengingat matematika adalah ilmu pasti. Sebelum selesai, periksa lagi pekerjaan dengan teliti yang merupakan prinsip kelima.
Memang, mengajarkan matematika bukan perkara mudah. Sebab, dalam sebuah kelas, siswa datang dengan pengetahuan yang tidak sama. Karenanya, guru pun hendaknya melakukan pendekatan individual pada setiap siswa. Dengan demikian, guru dapat mengetahui siapa siswa yang telah mengerti dan siapa yang masih mengalami kendala. Misalnya dengan memberikan tugas khusus bagi siswa bersangkutan.
 
Sebelum memulai pengajaran, guru dapat mengawalinya dengan memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai materi sebelumnya, ataupun memberikan siswa kebebasan untuk bertanya. Selama pelajaran berikan siswa kebebasan untuk bertanya, bukan hanya pada akhir pertemuan.
(tty)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »