JIKA dulu minum teh hanya bagian dari tradisi Jepang, kini minum teh telah menjadi bagian dari kebiasaan orang Indonesia dan masyarakat luas. Menyeruput teh telah menjadi minuman pembuka sebelum memulai aktivitas.
Minuman berwarna cokelat ini sudah bisa dikatakan sebagai tradisi, mulai dari menjamu tamu, acara keluarga, atau di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Aromanya yang khas membuat minum ini kian digemari.
Kemudahan mendapatkan teh semakin menambah minat orang untuk rutin mengonsumsinya. Meski begitu, masyarakat sebagai penikmat teh juga memiliki berbagai selera memilih jenis rasa dan kualitas teh.
Tingkat efektivitas dalam penyajian teh juga menjadi faktor yang diperhatikan oleh masyarakat. Ini ditujukan dengan respons yang cukup baik oleh masyarakat ketika teh memasuki era penyajian dengan celup, menggantikan keberadaan teh dalam bentuk serbuk kasar.
Menurut Cicilia Sriliasta, eksekutif muda di salah satu perusahaan teh, teknologi pengolahan teh sudah saatnya dimanfaatkan, namun begitu edukasi tentang teh dan penyajiannya harus terus dilakukan.
Pada penggunaan teh celup memerlukan enam langkah sebelum siap dinikmati, yakni membuka tali celup, masukkan teh, menuang air panas, lalu melakukan gerak mencelup teh, masukkan gula, kemudian diaduk untuk menyatukan gula dan teh.
Belakangan hadir teh saring. Di sini, hanya dibutuhkan empat langkah yakni masukkan teh, tuang air panas, masukkan gula, lalu diaduk untuk menyatukan gula dan teh.
"Penyajian teh dengan cara saring adalah inovasi yang sesungguhnya membuat penyajian lebih efektif dan nyaman karena kepraktisannya," kata Cecillia.
Ditambahkannya, kemajuan teknologi dalam penyajian teh ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu bersaing dan berinovasi dalam industri teh.
"Konsumen pasti sangat diuntungkan dengan penyajian yang praktis, karena dapat lebih cepat menikmati teh sajian Indonesia," pungkasnya.
(nsa)