GAYA art deco pada hunian sangat populer berkat film-film Hollywood yang digambarkan dalam tampilan glamor, mewah, dramatis, dan optimistis. Seperti apa bentuknya?
Tampilan desain art deco terkesan bersih, dengan aliran garis yang ramping terinspirasi dari ilmu pengetahuan mengenai aerodinamik atau pengetahuan tentang keseimbangan gaya udara yang umumnya diadaptasi kapal-kapal laut, gedung bertingkat, atau kereta api. Tampilan dekoratifnya juga terpengaruh seni membuat kubus atau cubism dan dari seni lainnya.
Art deco mengandung unsur eklektik, memadukan elemen klasik dengan kontemporer. Memadukan material eksotis dengan benda-benda budaya dari Mesir, suku Maya atau suku Aztec yang berasal dari Timur Jauh dan Afrika. Sesuatu yang membuat gaya tersebut dapat menyatu adalah penggunaan bentuk-bentuk sederhana, geometris, dan abstrak digabungkan dengan warna-warna kontras untuk menciptakan tampilan yang terlihat simpel, gaya, tetapi halus.
Desainer interior Maya Pangestu menyebutkan bahwa permainan warna dibutuhkan untuk desain ala art deco. Desain interior pada era 1920-an dan 1930-an dengan bahan-bahan yang tidak biasa seperti kayu ebony, besi, batu pualam, atau marmer. Mereka sering memadukan bahan-bahan dengan warna dan corak hitam atau metalik dan abu-abu agar terlihat kontras dengan warna-warna pastel yang ”renyah” dan warna kebiruan.
”Warna utama yang terlihat pucat membuat latar belakang ruangan menjadi lebih halus saat dipadukan dengan warna-warna cerah dan aksen yang berkesan teatrikal,” ujar Maya. ”Dinding-dinding diberi warna krem lembut, beige, ivory, dan abu-abu. Sementara untuk detailnya diberi aksen warna krom, biru cobalt, hitam, teal, biru aqua, hijau, kuning koral, oranye, atau merah untuk menciptakan kesan dramatis yang kontras,” sebutnya.
Pada zaman dahulu, perlengkapan art deco tidak dibuat secara massal, melainkan dibuat berdasarkan permintaan dengan menggunakan jenis kayu-kayu. Lapisannya yang langka dan mahal, membuat desain tersebut jadi terlihat hanya cocok untuk orang-orang berduit.
Sejenis plastik baru seperti bakelite, lucite, dan catalyn yang dibuat secara massal menjadi material favorit pada 1930-an. Material ini menggantikan material terdahulu dan lebih terjangkau bagi kebanyakan orang. Dulu ada sejenis pernis yang sangat disukai dan dipakai pada setiap permukaan perlengkapan art deco dan bahkan dipakai di atas permukaan bahan kulit serta tekstil. Bahan-bahan lain yang juga digemari, tetapi sangat jarang adalah kulit ikan hiu, kulit ular, besi tempa, dan baja dengan plat krom.
Furnitur yang dipakai pada ruangan art deco biasanya rendah dan agak menyentuh lantai. Sementara, bahan-bahan kain untuk sofa, taplak, atau gorden memiliki kata kunci: mewah dan sensual, seperti misalnya sutera, satin, beludru, dan bahan kulit kualitas tinggi. Bahan-bahan tersebut biasanya dijahit dengan rapi dan berwarna netral untuk menyeimbangkan desain dari warna-warna aksesori lain yang lebih mencolok.
”Pola bahan kain tersebut bisa beragam dari motif Mesir seperti scarab (semacam jimat dengan simbol kumbang), sinar matahari dan bunga lotus sampai motif chevron, zigzag, dan motif kulit binatang,” kata Maya.
Tampilan art deco biasanya agak ramping. Lantai kayu dengan warna pucat sangatlah sempurna, begitu pula karpet dengan gradasi warna terang dari krem dan taupe. Lantai marmer dengan warna dan corak yang berani juga sangat bagus untuk diaplikasikan.
Untuk aksesorinya, inilah poin penting dari gaya art deco. Banyak dan mencolok. Aksesori itu dapat dipilih yang kelihatan berwarna dan berani, atau mengkilat dan halus. Vas tanah liat dengan bentuk bersudut-sudut, serta pitcher minuman dan mangkuk yang dilukis dengan warna berani kerap terlihat pada ruangan desain ini.
Selain itu sesuatu yang juga cukup populer adalah penggunaan barang-barang sejenis kaca yang terbuat dari kristal lalique atau kaca opaque yang dipres atau kaca dinding yang dibentuk sedemikian rupa menjadi bentuk-bentuk yang artistik. (ftr)