OEK... oek... Duh, si kecil menangis terus! Baru 10 menit lalu tenang, sulungku yang berusia tiga bulan itu sudah menangis lagi. Sedikit menghentakkan kaki aku bangkit dari dudukku lalu merengkuh Ethan dalam dekapan.
Tangisnya mereda, hatiku tiba-tiba luruh. Kutatap wajahnya yang tampan. Bibirku menyentuh pipinya hingga bisa kurasakan hembusan napasnya. Aku tersentak! Oh, tiba-tiba aku menyesal mengapa tadi aku kesal mendengarnya menangis.
Tangisan Pertama: Awal Bayi Bernapas
Padahal dulu setelah melahirkan Ethan, aku sangat menantikan suara tangisnya. Begitu dokter menepuk pelan pantatnya dan ia menangis kencang, aku sangat bahagia. Anakku bernapas! Anakku hidup dan ia sehat-sehat saja.
Kata dokter, bayiku harus menangis sebagai upaya untuk bernafas dan mengembangkan paru-parunya yang selama dalam kandungan belum berfungsi sebagai organ pernapasan.
Rupanya, waktu Ethan di dalam kandungan, ia bernapas melalui plasenta. Plasenta memberikan nutrisi padanya, juga oksigen. Walau paru sudah mulai terbentuk pada usia 6 minggu kehamilan dan sudah cukup matang pada usia 38 minggu, ia masih belum berfungsi. Paru-paru anakku itu masih kuncup karena belum ada udara yang masuk.
Begitu Ethan lahir, tali pusat yang menghubungkan Ethan dan plasenta dipotong. Anakku harus segera bernapas sendiri, dan peran paru-paru dimulai. Saat menangis itulah, Ethan menghirup oksigen dari luar dan masuk ke paru-paru. Paru-paru mengembang dan mulai berfungsi. Ajaib! Anakku bernapas normal sekitar 30-60 kali per menit.
Apa jadinya kalau Ethan tak menangis kencang begitu lahir, tapi malah diam atau hanya merintih? Tak hanya aku, dokter pun pasti khawatir ada masalah dengan sistem pernapasannya. Atau, ada yang tidak normal dengan organ paru-paru atau organ lainnya. Untung saja, itu tak terjadi!
Besarnya Tidak Sama
Kuamati lagi Ethan yang sudah lelap. Di sana, di dalam rongga dada bagian atas, paru-paru "ajaib" itu berada. Ukurannya cukup besar hingga mengambil sebagian besar ruang di sana.
Dada Ethan naik turun, menandakan ia bernapas secara teratur. Aku ingat apa kata dokter, paru-paru ada dua, di kiri dan kanan. Mereka tak berukuran sama, tidak seperti kedua bola mata atau telinga yang sama besarnya. Paru-paru di kiri sedikit lebih kecil daripada yang kanan. Bila paru kiri terdiri dari dua bagian yang disebut lobus, paru kanan memiliki 3 lobus. Meski begitu, mereka berfungsi sama, sebagai tempat bertukarnya oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah.
Paru-paru tak bisa dilihat secara kasat mata, tapi aku bisa merasakan kekuatannya. Kuletakkan tanganku di dada. Kutarik napas dalam-dalam, kurasakan dadaku membusung. Kuhembuskan napas, dadaku kembali ke ukuran semula. Pasti paru-paru tersebut mengembang dan mengempis, pertanda ia bekerja. Ah, aku tak sabar melihat Ethan melakukannya sendiri kelak.
Tengkurap, Paru-paru Tertekan?
Si kecil Ethan akhirnya terbangun dan seolah-olah ingin mengajakku bermain. Kubalikkan badannya, ia lalu mencoba mengangkat kepalanya pelan-pelan. Beberapa waktu lalu, aku was-was posisi tengkurap ini membuat ia susah bernapas, akibat dadanya sesak karena paru-parunya tertekan. Jadi aku melakukannya secepat kilat, kurang dari semenit!
Tapi ucapan dokter membuatku lega, sekaligus tersipu. Katanya aku tak perlu takut berlebihan. Ada tulang iga yang mengitari paru, juga dibatasi oleh diafragma, sekat berotot berbentuk kubah yang membatasi rongga dada dan rongga perut. Itulah sebabnya paru-paru Ethan terlindungi. "Dulu, waktu baru lahir Ethan bisa melewati jalan lahir, dadanya enggak remuk, kan?" candanya.
Tak heran bila sekarang aku berani menelungkupkan Ethan hingga 15 menit, sepanjang ia tak menangis karena kecapekan. Yang penting, aku cukup mengawasinya agar mulut atau hidungnya tidak tertutup selimut atau lantai yang membuatnya susah bernapas.
No Smoking Area
Begitu pentingnya paru, hingga aku bertekad memberikan udara yang segar untuk Ethan. Kata dokter, bila paru-parunya sering terpapar zat-zat yang merusak, bisa menjadi pencetus penyakit asma atau infeksi saluran napas.
Karena itu, semenjak hamil hingga sekarang, kularang keras asap rokok berkeliaran bebas di rumahku. Kebetulan, aku dan suamiku bukanlah perokok. Tapi ternyata itu belum cukup. Dokter bilang bayi harus dijauhkan dari asap obat nyamuk bakar, obat nyamuk semprot, zat-zat kimia, asap kendaraan atau asap pembakaran sampah. Wah, aku jadi semakin waspada. Ya, paru-paru bayiku harus tetap sehat, agar Ethan bisa bernapas tanpa kendala!
Jika Anda salah satu ibu yang pernah mengalami hal sama, pemaparan dari Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Prof Dr Faisal Yunus PhD SpP(K), FCCP yang berpraktik di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta berikut bisa memberikan penjelasan lebih dalam tentang paru-paru.
Mengenal Bagian Paru
Paru-paru tersusun oleh bronkiolus, alveolus, jaringan elastik, dan pembuluh darah. Tekstur paru-paru seperti spon yang elastis dan berongga.
Bagian-bagian utama paru-paru adalah alveoli, trakea, bronki, dan bronkiolus.
Trakea atau batang tenggorokan berupa pipa tempat lalunya udara. Oksigen yang dihirup dari hidung dan mulut akan ditarik ke trakea menuju paru-paru.
Nah, bronki merupakan batang yang menghubungkan paru-paru kanan dan kiri dengan trakea. Udara dari trakea akan dibawa ke paru-paru lewat batang ini.
Sementara bronkiolus adalah cabang-cabang dari bronki berupa tabung-tabung kecil yang jumlahnya sekitar 30.000 buah untuk satu paru-paru. Ia berperan membawa oksigen lebih jauh ke dalam paru-paru, hingga sampai ke alveoli.
Alveoli ini merupakan ujung dari bronkiolus, merupakan kantung udara kecil. Jumlahnya sekitar 600 juta pada paru-paru manusia dewasa. Alveoli ini berfungsi untuk mengalirkan oksigen ke dalam darah dan menyedot karbondioksida untuk kemudian dikeluarkan kembali lewat hidung dan mulut.
(nsa)