Getting Time...

Kursus Robotik, Latih Kreativitas

Koran SI - Koran SI
Senin, 15 Maret 2010 17:01 wib
detail berita
Salah satu cara untuk mengasah kreativitas si kecil dengan cara yang menyenangkan adalah melalui kursus robotik. (Foto: gettyimages)

BANYAK cara untuk mengasah kreativitas si kecil dengan cara yang menyenangkan. Salah satunya melalui kursus robotik. Kursus ini juga membuat anak cakap memecahkan sebuah persoalan.
 
Pelatihan merakit robot memberi warna tersendiri pada berbagai kursus untuk anak-anak. Hal tersebut menjadi daya tarik anak-anak, terutama anak laki-laki. Maklum, robot memang salah satu mainan yang amat digemari mereka. Bagi mereka, mengikuti kursus merakit robot mungkin jauh dari kata membosankan. Sebab, kegiatan tersebut bisa jadi merupakan perwujudan dari fantasi mereka akan sosok robot yang dikagumi di layar kaca.
 
Mira, 35, tahu benar tentang kesukaan anaknya pada robot. Sudah tak terhitung berapa jumlah mainan robot yang dimiliki Ilham, putranya yang duduk di kelas dua SD itu. Dia pun melihat Ilham gemar mengutak-atik mainannya tersebut. ”Saya lalu tanya sama dia, apakah mau ikut kursus robot, ternyata dia antusias sekali,” beber Mira.
 
Alhasil, sudah setahun terakhir ini Ilham menjalani kursus robotik di daerah Kelapa Gading. Ketika ditanya, Ilham mengaku belajar membuat robot seperti sedang bermain saja. Kegiatan ini bahkan sangat mengasyikkan baginya.
 
Hal yang sama dialami Jerrel, salah satu siswa Robotics Education Centre (REC). Siswa kelas dua SD Lab School Rawamangun ini terbilang aktif menalani kursus. Dia pun gemar mencari berbagai hal yang berkaitan dengan robot di internet. Bocah yang duduk di tingkat Basic Mechanicalini mengaku, berlatih merakit robot membuat dirinya menjadi lebih kreatif dan mengetahui teknik pemrograman melalui program Labview.
 
Bagi mereka, kursus robotik mungkin hanya sekadar penyaluran hobi saja sekaligus kesempatan untuk bermain. Namun, Mira melihat hal itu dari sudut pandang lain. ”Saya percaya kursus ini melatih otaknya untuk berpikir sistematis, misalnya saat memprogram robot agar bergerak,” kata dia.
 
Selain itu, lanjut Mira, kursus robotik pun mengasah keterampilan anak, tentunya dibutuhkan kreativitas tinggi dalam merakit robot. Anak pun belajar tentang hal mekanik lewat kegiatan merakit. ’’Siapa tahu kelak dia bisa membuat robot yang berguna bagi kehidupan,” harap Mira.
 
Apa yang diharapkan Mira, juga merupakan harapan yang sama dari pengamat pendidikan Arief Rachman. Dia menyambut positif kehadiran kursus robotik yang tengah bermunculan. Dari segi ilmu pengetahuan, merakit robot memerlukan kreativitas. Kreativitas inilah yang penting peranannya dalam pengembangan bangsa.
 
”Kreativitas itu berhubungan dengan hal mekanik, elektronik, dan penguasaan alat-alat teknik,” tutur Arief.
 
Arief melanjutkan, hal tersebut dirasakan sangat menarik sekaligus menjadi tantangan menantang bagi anak. Bukan tidak mungkin lewat keterampilan membuat robot, anak-anak dapat menciptakan hasil karya berupa robot yang memberi manfaat bagi kehidupan. Sementara dari sisi psikologis perkembangan anak, merakit robot sekaligus melatih anak untuk bekerja sama dalam tim, karena pekerjaan tersebut dilakukan secara berkelompok. Dan pastinya, lewat kegiatan ini anak bisa teralihkan dari terpaan televisi atau mainan game miliknya.
 
Menurut pemilik Robotics Education Centre (REC) Yudi Mintoro, pelatihan merakit robot memiliki beberapa keunggulan tersendiri. Kursus ini mengajarkan anak di antaranya pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan imajinasi serta mengasah kreativitas. Kursus ini juga mengajak siswa untuk berpikir secara sistematis dan logis.
 
Senada dengan Arief, Yudi juga berpendapat kerja sama tim menjadi salah satu bagian penting yang juga turut dilatih dalam kegiatan ini. Dalam tim, mereka harus belajar merakit robot dan memprogramnya sehingga robot yang dirakit bisa berjalan.
 
”Hal ini berfungsi melatih manajemen team work-nya, jika mereka tidak kompak akan terlihat pada hasil karyanya,” kata Yudi.
 
Tentunya untuk itu diperlukan kemampuan komunikasi yang baik dalam tim, termasuk kemampuan menyampaikan gagasan kepada anggota tim lain. Menjadi tak biasa karena mereka yang terlibat dalam tim ini adalah anak-anak usia SD yang mungkin masih merasa kesulitan untuk mengemukakan idenya. ”Makanya komunikasi juga dilatih di sini,” ujar Yudi.
 
Gunawan Tunas, pemilik kursus robotik Creative Kids Gunawan Tunas, melihat proses belajar yang terjadi dalam kursus robotik ini adalah learning by making atau belajar dengan membuat sendiri.Hal ini berpeluang menjadikan kegiatan belajar lebih efektif, selain juga bermanfaat dalam merangsang perkembangan otak serta mengasah kemampuan motorik halus siswa.
 
Kendati sudah banyak bermunculan kursus robotik, Arief melihat kursus ini masih menjadi dominasi anak-anak dari kalangan mampu saja. Sebab, untuk mengikuti kursus dan membeli peralatan yang digunakan dalam pelatihan, tentunya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dia pernah mendapatkan orangtua siswa yang mengeluh lantaran tidak sanggup memenuhi keinginan anak mengikuti kursus robotik.
 
”Jangan sampai terjadi perkembangan intelektual terdapat jurang pemisah yang signifikan,” tuturnya.
 
Bukan hanya dimonopoli kalangan mampu; untuk tingkat perguruan tinggi, kegiatan robotik masih identik dengan universitas negeri seperti ITB dan UI. Arief pun berharap agar suatu saat perguruan tinggi lain di luar perguruan tinggi negeri dapat memopulerkan kegiatan ini dan turut mengukir prestasi di bidang tersebut.
(ftr)

Beri komentar