Wayang Purwo dalam Goresan Pena Saleh Ardisoma

|

Chaerunnisa - Okezone

Wayang Purwa (Foto: Dok Sari Rasa Grup)

Wayang Purwo dalam Goresan Pena Saleh Ardisoma
SARI Rasa Grup dan penerbit PLUZ+ mempersembahkan sebuah komik epic kolosal yang berjudul "Wayang Purwa" hasil karya seorang maestro komik pada zamannya hingga saat ini, Saleh Ardisoma.

Kerja sama ini mengulangi sukses yang sama pada Juni 2009 lalu, saat Komik Mahabharata karya Teguh Santosa diterbitkan kembali menjadi dua versi cetak dengan judul Riwayat Pandawa yang digagas oleh Sari Rasa Grup bersanding dengan Mahabharata & Bharatayudha versi PLUZ+.

Penjualan kedua komik itu cukup sukses, animo pencinta komik wayang seakan "tersihir" oleh kekuatan gambar dan cerita yang disajikan Teguh Santosa, selain kemasan yang kami sajikan benar-benar diperhatikan sebagai sebuah edisi koleksi yang membuat pembaca benar-benar terpuaskan.

Pada 12 Maret lalu, kami kembali bekerja sama menuai hasil yang menggembirakan, setidaknya dapat memenuhi kerinduan para pembacanya terhadap bacaan yang bermutu sekaligus tidak melupakan unsur budaya yang ada di Tanah Air.

Komik yang berjudul "Wayang Purwa" garapan Saleh Ardisoma ini menjadi pilihan utama kali ini, karena dari segi rangkaian cerita dan gambar yang tersaji sangat indah, coretan gambar khas Saleh Ardisoma yang dibuat pada tahun 1956 lalu, hingga kini bisa dikatakan yang terbaik dibandingkan karya komikus lainnya dalam penggambaran karakter dan penokohannya.

Tata artistik penggambaran halaman demi halaman isi komik "Wayang Purwa" ini nyaris sempurna, seperti kita melihat indahnya sebuah lukisan yang dipindahkan dalam sebuah panel komik, sehingga terasa lebih hidup dan tidak membosankan pembacanya untuk terus membaca sampai akhir.

Untuk penerbitan kali ini, Sari Rasa Grup dan penerbit PLUZ+ pun kembali membuatnya dalam dua versi cetak yang meski berbeda ukuran, namun tetap dikemas dalam balutan hardcover yang menarik dan layak baca selain tentunya patut dikoleksi oleh para kolektor setianya.

Jumlah halaman yang mencapai 1.050-an halaman ini dikemas dalam dua seri yaitu, "Wayang Purwa 1" dan "Wayang Purwa 2" didesain sepenuhnya oleh tim desain grafis yang dibentuk khusus oleh Sari Rasa Grup guna memberi kenyamanan saat membaca.

Untuk memberi nilai tambah kepada pembacanya maka tidak lupa didalam komik ini diselipkan cover-cover indah dan berwarna sesuai dengan warna aslinya jaman dahulu, sehingga kami berharap suasana nostalgia bacaan tempo dulu dapat langsung terasa ketika Anda mulai membuka halaman demi halaman.

Pemilihan warna kertas natural white menjadikan mata anda tidak terasa cepat letih saat membacanya berlama-lama. Cover depan tetap dibuat dengan sistem jaket dan mengambil tema hitam putih yang sama dengan komik "Riwayat Pandawa", sehingga menjadi kesatuan yang menawan bila komik ini tertata di rak buku pembaca.

Penerbit PLUZ+ memberikan versi alternatif kepada pelanggannya dengan membuat ukuran yang lebih besar dibandingkan sebelumnya, sama-sama di kemas dalam dua 2 buku yang diberi judul "Wayang Purwa" dan "Arjuna Sasrabahu", meski tidak disisipkan cover berwarna, namun kesan jadul pada versi penerbit PLUZ+ tetap terasa karena menggunakan warna kertas seperti komik masa lalu.

Pilihan bekerjasama menerbitkan untuk kedua kalinya komik yang bertemakan dunia pewayangan akan berlanjut pada terbitan selanjutnya yang saat ini sedang dipersiapkan untuk dapat diterbitkan dalam waktu yang tidak lama lagi, sebuah cerita yang sudah sangat termashur mendunia, yaitu "Ramayana" karya RA Kosasih.

Sari Rasa Grup dan penerbit PLUZ+ merasa terpanggil secara moril untuk menerbitkan komik-komik yang bertemakan pewayangan dan bernuansa budaya Indonesia asli, karena dalam penceritaan carangan pewayangan, selain sarat filosofi banyak unsur-unsur budaya Pasundan khususnya Jawa yang perlu dilestarikan keberadaannya sehingga tidak pupus oleh zaman dan tekhnolgi yg berkembang pesat saat ini.

Hal ini pula yang menjadi keprihatinan Benny Hadisurjo selaku Presdir Sari Rasa Grup, terhadap mutu bacaan-bacaan yang beredar di toko buku saat ini, terlebih banyaknya komik-komik impor yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia membuatnya semakin miris.

Sebagai pribadi yang menggemari komik cerita wayang sejak kecil, menurutnya cerita-cerita pewayangan yang ada dan di antaranya cukup popular diyakini mampu memberikan kontribusi moral yang baik pada pembacanya, tua maupun muda terutama anak-anak.

Selain sarat dengan petuah dan filosofi dalam kehidupan di alam semesta ini, tidak sedikit nilai-nilai adiluhung budaya Indonesia terkandung didalamnya, menjadikan cerita wayang khususnya Wayang Purwa iniĀ  patut dan selayaknya menjadi bacaan wajib bagi lintas generasi tanpa batasan usia, tanpa habis digerus peradaban.

Berbeda dengan komik-komik umum lainnya yang mudah didapatkan di setiap toko buku besar, baik terbitan dalam maupun luar negeri, meski diakuinya gambar dan tata warnanya lebih futuristik, namun nilai historis

dan makna sebuah cerita komik tidak pernah tersampaikan dengan baik dan penuh kepada pembacanya.

Maka dari itu sebagai pemrakarsa kerjasama dalam penerbitan khususnya komik cerita pewayangan, Benny Hadisurjo selaku pribadi dan Presiden Direktur Sari Rasa Grup bersama penerbit PLUZ+ sepakat untuk terus menerbitkan komik-komik yang berisikan pesan moral kepada pembacanya. Dengan harapan pengenalan akan budaya Indonesia akan lebih dapat diintensifkan kembali, khususnya seperti komik Wayang Purwa yang baru terbit.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa cerita Wayang Purwa ini adalah cerita asli Pewayangan Indonesia, merujuk pada kata purwa yang berarti adalah permulaan atau awal, maka cerita ini mengisahkan awalnya sejarah/silsilah pewayangan. Mulai dari saat lahirnya Sanghyang Ismaya (Semar), Sanghyang Antaga (Togog) serta Sanghyang Manikmaya dalam bentuk rupa sebutir telur, hingga kelahiran para dewa-dewi yang bersemayam di istana Jongring Salaka.

Kita tidak akan menemui para punakawan dalam cerita aslinya yang dari India (Ramayana dan Mahabharata), namun cerita Wayang Purwa ini dan khususnya cerita wayang lainnnya sudah berasimilasi dengan kultur budaya Pasundan atau Jawa umumnya, meski ada sedikit perbedaan, namun lebih banyak persamaan penceritaaannya diantara kedua kultur budaya tersebut.

Cerita mengenai Batara Kala, Dewi Srinadi yang pada masyarakat agraris di pedesaan Indonesia dipercaya sebagai dewi padi, dan kesalahpahaman dramatis yg terjadi di Goa Kiskenda, saat terjadi pertempuran hidup mati antara Subali, Sugriwa dengan Lembusura-Maesura yang tengah menculik Dewi Tara putri Batara Sambu, serta lahirnya Hanoman yang diamanatkan oleh para dewa melalui Putri Anjani anak Resi Gotama.

Kisah-kisah ini terangkai secara apik pada buku Wayang Purwa 1. Pada buku Wayang Purwa 2, pembaca akan disuguhi dengan kisah mengharukan 2(dua) orang kakak beradik yang bernama Raden Sumantri, pemuda gagah nan rupawan dan Sukrasana yg buruk rupa namun memiliki hati dan jiwa seputih pualam, serta kisah polah Raja Alengka, Rahwana yang berambisi untuk menjadi raja di atas raja dengan segala kesaktian dan keculasannya ingin tidak terkalahkan hingga dengan liciknya dapat menewaskan Subali, empunya Ilmu Pancasona.

Ilmu Pancasona adalah ilmu yang tidak terkalahkan dan membuat Rahwana tidak dapat ditewaskan oleh siapa pun juga, hanya Raja Arjunasasrabahu lah yang merupakan titisan Batara Wisnu yang dapat menaklukannya.

Itulah kisah-kisah yang mengalir beruntai satu dengan lainnya, sehingga tanpa terasa para pembaca akan dibawa kepada sebuah cerita yang merupakan pendahuluan dari cerita Ramayana.

Untuk terbitan dari PLUZ+ ini (edisi hardcover), setelah launching yang kami adakan pada 12 Maret 2010 lalu dapat diperoleh di TB PLUZ+ Plaza Semanggi, TB ANJAYA di ITC Kuningan.

Sedangkan untuk edisi kolektor "Wayang Purwa 1 dan 2" yang halaman dalam isi buku terdapat cover full color, setelah launching bisa diperoleh di setiap outlet Sate Khas Senayan dan TeSaTe yang ada di seputar Jakarta dan pusat-pusat pembelanjaan.
(nsa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Irfan Hakim Fokus Liburan Bareng Keluarga