RESESI yang mulai memudar membuat para pelaku mode mulai menyusun strategi baru untuk mengejar kerugian yang terjadi selama dua tahun. Kerugian terjadi pada para peritel besar yang biasanya mendominasi di gelaran Pekan Mode New York, London, Milan, dan Paris.
Saat resesi, mereka lebih banyak diam dan mengamati kondisi dan memikirkan strategi untuk musim berikutnya dan saat ini merupakan momen yang tepat untuk memulai. Seperti yang dilakukan China, saat peritel besar dan sejumlah label internasional mundur akibat resesi, label justru mengambil alih pasar. Mereka dengan sigap mengambil kesempatan dan mengisi celah yang kosong.
Gerakan tersebut terlihat di
China Fashion Week selama dua musim terakhir. Kendati penyelenggara pekan mode mengumumkan bahwa musim ini jumlah label internasional yang tampil berkurang, geliat
fashion week tetap terasa. Terima kasih kepada label lokal yang tetap berusaha mengobarkan semangat mode.
Presiden China Fashion Week Association Wang Qing mengatakan, pada dua musim terakhir memang terjadi pengurangan peritel dan desainer internasional. “Namun, berkat itu, label dan desainer lokal justru lebih banyak yang berpartisipasi. Ini hal yang sangat membahagiakan, karena berarti dapat mendorong pertumbuhan pasar domestik,” ujar Qing.
Selain itu, Qing juga mengatakan, gejala tersebut mengindikasikan bahwa pasar mode domestik telah semakin matang, terbukti dari adanya peningkatan penjualan sebanyak 30 persen sepanjang 2009. “Ini juga berarti bahwa pelaku mode lokal telah mengerti kebutuhan masyarakatnya,” tegas Qing.
Di atas
catwalk, sejumlah lokal China memang unjuk gigi dan unjuk aksi. Koleksi mereka seakan menjadi pembawa pesan bahwa label lokal pun bisa bersanding dengan produk internasional.
Sebut saja Ka Bin dan Shi Jie, dua desainer muda yang mempresentasikan koleksi bergaya urban. “Saya berusaha menarik pasar yang lebih luas dengan gaya muda dan kontemporer,” ujar Bin, yang mendapat sambutan hangat dari tamu undangan dan para pembeli.
Lebih lanjut, Qing mengharapkan bahwa
China Fashion Week tidak hanya menjadi platform bagi para desainer untuk mengembangkan rancangan mereka, tapi juga sebagai pintu gerbang menuju bisnis ekspor mode.
“Untuk mengatasi krisis, kita harus bisa berpikir dengan sistematis dan terus berusaha mengembangkan sisi bisnis itu sendiri dengan kreativitas yang bisa mendorong ke arah ekspor pasar internasional, dan kebangkitan industri mode lokal adalah langkah pertama menuju ke sana,” sebutnya.
(tty)