SEPEKAN kemarin, dunia kampus dihebohkan dengan kasus penganiayaan seorang mahasiswi oleh rekan sekampusnya yang ternyata seorang wanita. Sosok Maisya Natalia, pelaku penusukan Listya Magdalena, hingga kini masih menjadi misteri. Bagaimana sudut pandang psikologis menilainya?
Tepatnya, penusukan terjadi pada Kamis lalu di sebuah mal di Puri Kembangan saat pelaku menumpang mobil korban. Dengan sebab yang masih menjadi tanda tanya, sang pelaku tega menganiaya mahasiswi Universitas Pelita Harapan tersebut hingga meninggalkan sedikitnya 17 luka tusukan di dada dan tangan.
Maisya, gadis berusia 18 tahun itu dikenal sebagai orang aneh di kampus. Ayah korban, seperti mendapatkan cerita dari teman-teman kampus keduanya, memberikan contoh bahwa Maisya kerap menggunakan lensa kontak hanya di bagian mata sebelah kiri.
Lantas, gejala apakah yang dialami pelaku ditinjau dari sisi kejiwaan? Psikolog Rose Mini MPsi mencoba menilik lebih dalam penyebab dan latar belakang terjadinya tindakan sadisme ini sebagai pelampiasan emosi yang keliru.
“Penusukan bisa terjadi karena seseorang tidak suka dan tidak memiliki cara lain untuk mengungkapkan emosinya. Melihat berbagai kasus penusukan yang terjadi, kita harus melihat kasusnya secara rinci terlebih dahulu. Bagi orang yang tidak normal, untuk menunjukkan rasa tidak sukanya banyak yang mengambil jalan pintas, misalnya dengan penusukan,” paparnya saat dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Senin (22/3/2010).
Penusukan yang tak hanya dilakukan satu-dua tusukan ini bukan hanya karena rasa tidak suka, melainkan juga dipengaruhi kelainan jiwa sang pelaku.
“Kalau penusukan tersebut dilakukan berkali-kali, tentunya hal ini karena ada kelainan jiwa pada si pelaku, misalnya pengalaman buruk di masa kecil yang membuatnya menjadi seperti ini. Tetapi jika hanya dilakukan sekali saja, hal ini lebih mengacu pada alasan bahwa pelaku sendiri tidak bisa mengontrol emosinya, sehingga bisa menimbulkan kejadian buruk seperti ini,” tambahnya.
Dalam tahap penyembuhan, psikolog yang akrab disapa Bunda Romi ini menyarankan agar pelaku tidak menyembuhkan penyakit ini sendirian, melainkan harus bersama ahlinya.
“Sang pakar bisa membantu mengatasi kadar emosi seseorang. Supaya marahnya tidak meledak-ledak, harus ada ahli yang mengarahkan dia. Cara singkatnya, saat marah bisa mengambil nafas dalam-dalam untuk menumpahkan kekesalan dan mengubah pikiran ke arah positif,” tutupnya.
(ftr)