Waspadai Kadar Bilirubin Tinggi pada Bayi

Sabtu, 3 April 2010 - 11:59 wib | Koran SI - Koran SI

Waspadai Kadar Bilirubin Tinggi pada Bayi Jika bayi terdeteksi kuning, sebaiknya secepatnya menemui dokter. (Foto: gettyimages) BAYI baru lahir yang mengalami kuning memang sering terjadi. Namun, harus diwaspadai jika kuning tersebut berkelanjutan karena bisa berbahaya.
 
”60 persen saat bayi baru lahir mengalami kuning,” ucap dokter anak dari Rumah Sakit Internasional Bintaro Dr Nita Ratna Dewanti SpA. Nita menuturkan, kondisi ini diakibatkan kadar bilirubin yang meningkat melebihi normal. Dalam tubuh manusia, darah yang baru sedang dihasilkan sepanjang waktu dan darah yang lama sedang dimusnahkan. Salah satu produk darah yang dimusnahkan dikenal sebagai bilirubin.
 
”Sebagian besar tidak berbahaya dan masih merupakan proses fisiologis, saat bayi harus memecah sel darah merah yang tinggi di badannya sehingga sisa dari pemecahan sel darah merah tersebut adalah bilirubin,” terangnya.
 
Selain itu belum sempurnanya enzim hati juga menyebabkan kadar bilirubin meningkat. Penyebab lain adanya perbedaan golongan darah si ibu dengan si bayi. Misalnya ibu resus negatif, tetapi bayinya resus positif; atau ibu golongan darah O, sedangkan si bayi berbeda. Penyebab lain lagi adalah kekurangan enzim G6PD (Glucosa 6 phospate Dehidrogenase) yang berfungsi memperkuat sel darah merah agar tidak mudah pecah. Atau bisa juga karena bayi mengalami infeksi dan mengalami gangguan fungsi hati. Penyebab lain, bayi lahir dengan trauma kepala sehingga terjadi benjolan di kepala. ”Bayi prematur berisiko lebih besar untuk mengalami kuning,” tandasnya.
 
Sementara itu, dokter anak dari Rumah Sakit OMNI International Alam Sutera, Tangerang dr Johannes Ridwan T Sugiarto SpA DPPS mengatakan bahwa kuning pada bayi adalah suatu kondisi yang normal. Gejala kuning ditandai dengan adanya warna kulit yang kuning karena meningkatnya kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin diproduksi dengan pecahnya hemoglobin berlebihan dari sel darah merah.
 
”Ada beberapa patokan yang dapat di pakai untuk dapat mengatakan kuningnya bayi masih dalam batas normal,” ucap dokter lulusan University of the East Ramon Magsaysay Memorial Medical Center, Manila, Philippines (pediatrics) pada 2000 ini.
 
Dijelaskan Johannes, patokan batasan normal adalah warna kuning timbul pada hari ke dua dan ketiga, kenaikan kadar bilirubin tidak lebih dari 5 mg setiap harinya dan kadar kuning tidak melebihi 12.5 mg.
 
Selain itu, ada juga panduan kadar bilirubin sesuai dengan umur bayi dan ini dapat menilai apakah bayi mempunyai risiko rendah, sedang atau tinggi. ”Ini yang biasanya di pakai oleh dokter,” kata dokter lulusan University of Santo Tomas Hospital, Manila, Philippines (pediatric pulmonology) ini.
 
Kadar bilirubin yang tinggi biasanya di atas 25 mg dapat menyebabkan penurunan pendengaran, cerebral palsy, atau beberapa bentuk kerusakan pada otak pada beberapa bayi.
 
Pada kasus yang jarang, kuning disebabkan infeksi atau ada masalah di tiroidnya. Dikatakan Johannes, The American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan bahwa semua bayi harus diperiksa jika bayi baru lahir mengalami kuning dalam beberapa hari.
 
”Kuning biasanya terlihat pada sekitar bayi berumur dua atau tiga hari, bermula dari kepala dan kemudian turun,” ucap dokter yang juga lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini.
 
Kuning pada bayi biasanya terlihat pada kulit wajah bayi, kemudian ke dada dan perut, dan akhirnya sampai pada kaki. Penyakit ini dapat juga menyebabkan mata bayi terlihat kuning.
 
”Bayi yang sudah dipulangkan dua hari dari rumah sakit, sebaiknya menemui dokternya 1–2 hari setelah pulang dari rumah sakit untuk mendeteksi adanya kuning pada bayi,” saran Johannes.
 
Orangtua juga harus memperhatikan bayinya untuk mendeteksi adanya kuning. Jika kuning terdeteksi sebaiknya, secepatnya menemui dokter.
(ftr)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »