Tinggalkan Jejak Bali di Negeri Sakura

Sabtu, 12 Juni 2010 - 14:51 wib | Koran SI - Koran SI

Tinggalkan Jejak Bali di Negeri Sakura Melihat orang-orang Jepang mempresentasikan Indonesia: batik, kerajinan Bali, tarian, dan gamelan Bali dengan serius dan sungguh, menunjukkan bahwa produk-produk Indonesia ini sangat bisa diandalkan. (Foto: google) MENGENALKAN berbagai produk Bali-Indonesia ke pasar Jepang tidak bisa sekali dua. Runi Palar telah membuktikan. Kali ini dia membawa perajin dari Bali, Bandung, dan Jakarta, untuk mempresentasikan Bali Lifestyle ini.

Di antara mereka ada perajin Dewi dari songket Bali klasik Cribhudami yang mengembangkan songket benang katun dan songket benang sutera, Ni Nengah Suastini yang mengembangkan hand bag anyaman Ata dan tenun ikat ganda Geringsing. Fotografer Doddy Obenk juga tampil mengusung foto-foto dengan objek Bali. Tak ketinggalan perancang busana Tuty Cholid juga menghadirkansutera, tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dengan teknik sungkit handuk, dan kain bordir gunting khas Bukit Tinggi-Sumatera Barat.

”Pasar Jepang sudah saya tekuni sejak 2003/2004,” kata Tuty Cholid, penerima penghargaan atas pengembangan tenun sutera ATBM teknik sungkit handuk di Thailand.

Tuty memahami selera Jepang yang menyenangi busana simple dan berkualitas. ”Dari segi material kain, kita kalah bersaing. Makanya, kami menampilkan yang betul khas. Mereka biasanya bertanya ‘Ini kok bagus, dari bahan apa?’” jelas Tuty, wakil Ketua I Masyarakat Persuteraan Indonesia, yang memperkenalkan brand Imanity (tenun ATBM) dan Plumoria D’ney (bordir Bukit Tinggi-Sumatera Barat yang dikembangkannya bersama bantuan binaan dari JICA —Japan International Cooperation Agency).

Dewi, perajin songket klasik Bali Cribhudami, memproduksi songket benang katun dan sutera (dulu songket dibuat dengan benang emas), yang kemudian songketnya dirancangkan oleh Tuty Cholid menjadi busana. Di antaranya ada yang mendapat penghargaan acara fashion negara ASEAN di Thailand.

”Kita tidak punya bahan baku. Bahan sutera diimpor dari China dan Jepang; benang dari Thailand, China, dan Jepang.Tapi kita punya kreativitas yang sangat tinggi,” katanya.

Bagi konsumen Jepang yang lebih mengenal kain pabrikan, maka tenun ATBM, bordir, songket, kain khas Nusa Penida-Bali (teknik bolong-bolong pada kain), merupakan sesuatu yang berbeda. Untuk memenuhi pasar, tenun ATBM diproduksi massal dengan proses tetap menggunakan alat tenun bukan mesin. Ni Nengah yang baru kali ini ke Isetan Sagamihara, mendapati baru beberapa helai kain Geringsing/ Pegeringsingan yang laku. ”Pengalaman saya, kalau sudah kenal mereka suka membeli, seperti ketika ekshibisi di Tokyo.”

Kain Geringsing (tidak sakit; Gering= sakit, sing=tidak) dibuat selama satu tahun, dengan pewarnaan alam warna merah dari akar buah mengkudu, dan warna kuning dari minyak kemiri. Di Bali, kain ini dipakai sebagai alas kepala ketika upacara potong gigi , sehari-hari diikatkan di pinggang ketika ke pesta, ke pura, hingga untuk menutupi tubuh pada upacara ngaben.

Batik Ardiyanto (dari Yogyakarta) sudah 15 tahun memiliki galeri di Tokyo; dikelola oleh Sinta Dewayanti (putri Ardiyanto) bersama suaminya, Masahiko Aso, Executive Marketing Manager Ardiyanto Batik. Di Jepang, Sinta mendesain busana sesuai selera Jepang. Produksinya dikerjakan di Jogja, baru kemudian dipasarkan di Jepang. Ketika pertama kali mendesain pakaian, dia menggunakan ukuran orang Indonesia, tapi tidak cocok. Sejak itu menggunakan ukuran orang Jepang. Di antara rancangannya ada coat untuk musim semi dan musim gugur.

Dipamerkan juga batik sutera yang dikembangkan Yayasan Royal Silk. Fitriani Kuroda, ketua Yayasan Royal Silk, dari keluarga keraton Yogyakarta, memasarkan hasil jadinya berupa busana dan tas di Jepang.Ada juga tas Raflo dari kulit buaya penangkaran PT Ekanindya Karsa-Jakarta yang harganya mencapai 150.000 yen.

Kalau sekali dua kali belum dilirik, itu biasa. Namun, sama sekali bukan hal mustahil jika produk kerajinan Bali diminati Jepang. Beberapa pengusaha Jepang yang turut dalam ekshibisi ini membuktikan. Perancang busana Junko Endo, misalnya. Dia mendesain busana batik gaya Jepang dengan brand J Style. Gambar rancangannya dia kirim ke Bali, diproduksi di Denpasar dan Kuta menggunakan bahan Batik yang diperolehnya dari pedagang batik Sraya Jaya di Bali.

”Saya tidak memasarkannya di Bali, karena di sana harganya sangat murah,” kata Junko Endo.

Di Jepang, harga sepotong rok kasual buatan Bali rancangannya berkisar 10.000 yen (Rp1 juta). ”Orang Jepang suka rancangan batik saya. Di Isetan ini baru pameran pertama kali, tapi banyak yang suka. Harga segini 10.000 yen cukup populer di sini. Tidak mahal,” ungkapnya.

J Style sengaja tidak memiliki galeri tersendiri seperti yang sering orang Indonesia lakukan. Para seniman di Jepang biasa memasarkan karyanya dari satu ekshibisi ke ekshibisi lain.

”Setiap minggu saya berpameran dengan lokasi berbeda, antara lain Isetan ini, Takashimaya Yokohama, Kamiooka Kekyu department store,” kata Junko yang sudah tujuh tahun berbisnis ini.

Kenapa dia memilih batik sebagai media rancangannya? ”Saya suka batik. Pertama karena saya suka Bali, saya sering ke Bali untuk berlibur dan bisnis,” ujarnya.

Tidak hanya dunia fashion, Wataki, pemilik brand Ubdy natural goods, yang berkantor di Osaka memamerkan piring saji berbahan kayu jati. Desain piring gaya Jepang ini terlihat unik untuk wadah sushi, toast, piza, salad, dan roti. Semua prosesnya dikerjakan perajin di Bali. Sebuah piring saji berkisar 3.900 yen (piring kecil),13.000 yen (piring besar).

”Orang Jepang suka dengan piring kayu jati yang berseni ini,” kata Wataki yang sering mengikuti berbagai ekshibisi di Osaka dan Kyoto.

Dari barang makanan, ada aneka makanan kering, bumbu-bumbu Indonesia yang dipamerkan Sawatari Mia, importir dan pedagang grosir Bali Coffee & Food Japan. Kopi merek Lumba Lumba dipasarkan di Jepang oleh Yutaka Hayashi, pemilik kafe Lumba Lumba di Yoyogi, Tokyo. Biji kopi asal Temanggu ini diproduksi oleh Greenfolia di Indonesia.

”Saya memperkenalkan kopi Indonesia ke Jepang karena mutu biji kopi Indonesia bagus (biji kopi toraja, kopi mandailing, kopi lintong, kopijava arabika). Lebih menguntungkan karena Indonesia lebih dekat ke Jepang. Selama ini Jepang mengimpor kopi dari Brasil,” kata Hayashi.

Beberapa orang Jepang yang tergabung dalam grup Gamelan Bali ”Urotsutenoyako” (Nina, Tempei, Yoshikawa, Hama, Waka, diketuai oleh Koyano Tetsuro) berusia 10 tahun dari Kichijoji, malah hidup sehari-hari dengan bermain gamelan dan menari Bali. Mereka belajar gamelan di Asia University di Musashisakai ketika studi Hubungan Internasional, kemudian diperdalam di Bali selama dua bulan.

”Kami sering bermain gamelan di berbagai tempat: Nanti, 22 Agustus, di Enoshima dekat Yokohama,” kata mereka yang menyenangi Bali karena lagunya dan suasana Bali.

Melihat orang-orang Jepang mempresentasikan Indonesia: batik, kerajinan Bali, tarian, dan gamelan Bali dengan serius dan sungguh, menunjukkan bahwa produk-produk Indonesia ini sangat bisa diandalkan. Sekarang tergantung keseriusan menggarapnya.
(ftr)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »