Perempuan Lebih Mudah Terkena Sindrom Kelelahan Kronis

|

Genie - Genie

Perempuan lebih mudah terkena sindrom kelelahan kronis (Foto: Corbis)

Perempuan Lebih Mudah Terkena Sindrom Kelelahan Kronis
SINDROM keleahan kronis merupakan rangkaian beberapa gejala kelelahan yang sifatnya menetap. Gejala penyakit ini mirip dengan gejala influenza atau tekanan darah tinggi. Sindrom kelelahan ini bisa dialami siapa saja, baik wanita maupun pria.

Pada umumnya, yang sering menderita penyakit ini adalah kalangan profesional yang berpendidikan dengan usia 20, 30, dan 40 tahun. Kendati demikian, kaum wanita lebih berisiko mengalami sindrom kelelahan karena mudah mengalami stres.

Faktor Penyebab dan Gejala. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus. Namun ada juga yang mengatakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh masalah psikomatis (tekanan psikologis yang terlihat seperti penyakit fisik).

Menurut dr Sri Ayu Vernawati, Sp.PD dari Rumah Sakit Medika BSD, Serpong. Tangerang, belum ditemukan penyebab pasti dari penyakit ini. Ada kemungkinan penyakit ini berhubungan dengan masalah psikomatis seseorang yang mengalami kelelahan sepanjang waktu.

“Biasanya pasien mengeluhkan rasa lelah kendati ia tidak beraktivitas,” ujarnya.

Meskipun beberapa peneliti mengatakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus Epstein Barr, banyak juga yang peneliti yang belum bisa memastikan virus apa yang menyebabkan penyakit ini.

Saat ini para penelilti lebih cenderung mengatakan bahwa penyakit ini timbul karena banyak sebab, antara lain, infeksi, ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologis, dan kekebalan tubuh atau kelainan saraf.

Gejala yang muncul sangat mirip dengan gejala flu. Penderita yang semula sehat dan penuh energi akan mengalami kelelahan, sakit kepala, nyeri pada sendi, dan otot. Pasien yang menderita sindrom kelelahan kronis biasanya juga mengalami demam yang disertai dengan sakit kepala.

Umumnya pasien akan merasakan kelalahan fisik yang lama. Rata-rata 6 bulan atau lebih sehingga terkadang pasien harus terbaring di tempat tidur dalam waktu yang lama.

“Pasien mengeluhkan capek, pegal-pegal, dan linu. Tetapi setelah dicari penyebabnya, tidak ditemukan,” katanya.

Meskipun belum ada ujung pangkal sindrom kelelahan kronis, stres tetap dianggap sebagai biang munculnya keluhan tersebut. Stres dianggap memengaruhi pola pikir seseorang sampai akhirnya muncul gejala-gejala tersebut.

“Karena ini lebih ke psikis, jadi gejalanya bisa sangat bervariasi pada pasien karena tidak mengacu tifus,” sambungnya.

Diagnosa dan Pengobatan. Diagnosa terhadap penyakit ini tidak bisa dilakukan terburu-buru. Setelah memeriksa semua penyebab gejala tapi tak ditemukan satu pun penyakit yang menyerang organ, baru lah dibuat kesimpulan akhir.

“Kita harus tidak boleh terburu-buru untuk melihat problem organ lainnya dengan tidak melupakan masalah psikis pasien,” katanya.

Banyak orang mengalami kekambuhan selama 1-2 tahun. Tak jarang juga beberapa orang terus mengalami kelelahan parah dan gejala lainnya selama bertahun-tahun lamanya.

“Pengobatan disesuaikan dengan gejala apa yang dominan. Kalau perlu, diberikan antidepresan atau anticemas,” terangnya.

Pemberian antidepresan dirasa perlu mengingat pasien mengalami gejala seperti cemas, perasaan tidak nyaman, bahkan sulit tidur pada malam hari. Obat antidepresan ditujukan untuk mengurangi rasa sakit dan depresi.

Namun pengobatan medis yang diberikan oleh dokter juga harus diikuti dengan perbaikan pola hidup pasien. Dokter Sri menganjurkan orang untuk makan banyak buah segar yang mengandung vitamin C dan sayuran berdaun hijau. Vitamin C akan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membuat tubuh lebih tahan terhadap infeksi. “Sebisa mungkin hindari rokok dan alkohol,” katanya.

Selain itu, para pasien harus rajin berolahraga seperti berenang, atau bersepeda, berjalan, atau berenang. Olahraga seperti ini tidak hanya akan menyehatkan tubuh, tetapi juga membantu meningkatkan aliran oksigen ke otak dan otot.

Biasanya penderita sindrom kelelahan kronis menjadi orang yang lemah otot. Karena itu terapi fisik merupakan penanganan yang paling tepat.

Tetapi ini dapat mengurangi kelemahan otot karena lama tidak bergerak. Konseling dengan psikiater juga disarankan kepada penderita untuk membantu menanggulangi penyakit tersebut dan keterbatasan yang ditimbulkannya. (nsa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Susi Pudjiastuti "Ketularan" Jokowi Batal Bicara