Gambar Kartun Pendorong Anak Jajan

|

Koran SI - Koran SI

Kemasan yang menarik pada pembungkus aneka camilan menjadi penarik anak untuk membelinya. (Foto: Google)

Gambar Kartun Pendorong Anak Jajan
KARAKTER kartun memang menggemaskan. Sayangnya, tokoh kartun juga hadir dalam kemasan produk makanan.  Akibatnya, anak menjadi terbujuk untuk membeli jajanan tidak sehat.

Siapa yang tak kenal Shrek si makhluk ogre berkulit hijau dengan kekasihnya bernama Putri Fiona. Anak-anak sudah tentu memuja karakter kartun yang lucu dan berbadan besar ini.Anak-anak pun dimanjakan dengan kehadiran Dora The Explorer. Bersama bocah berambut pendek dan temannya yang bernama Diego, anakanak diajak berhitung, bernyanyi, sekaligus bermain.

Sayangnya, kehadiran tokoh-tokoh kartun tersebut bukan hanya menghibur anak, lebih dari itu juga membuat anak menjadi konsumtif. Menurut penelitian, tokoh kartun populer yang ada memengaruhi anak-anak dan bukan dalam bentuk yang positif. Peneliti di Amerika mengemukakan, produk-produk makanan yang menggunakan karakter Dore The Explorer sebagai kemasannya membuat anak-anak seusia prasekolah mengonsumsi jajanan yang tinggi kalori, kurang sehat, dan tidak bergizi.
 
”Apabila anak diberi pilihan antara biskuit, snack rasa buah atau wortel, dan yang membedakannya hanyalah salah satu di antara kudapan tersebut menempelkan label karakter kartun pada kemasannya. Mereka akan langsung berpikir yang ada kartunnya itu pasti rasanya lebih enak,” kata Christina Roberto, mahasiswa S-3 yang bekerja di Pusat Kebijakan Makanan dan Obesitas (Rudd Center for Food Policy and Obesity) di UniversitasYale, New Haven, Conn.

Menurut Christina, anak-anak usia empat sampai enam tahun baik anak laki-laki maupun perempuan, lebih memilih makanan dengan kemasan yang menampilkan tokoh kartun kesayangannya. Lebih jauh Christina meneliti sekurangnya 40 anak usia prasekolah dan mengunjungi empat pusat perawatan anak di New Haven. Dalam dua kunjungan ke pusat perawatan anak tersebut, tim peneliti memberi anak-anak contoh tiga tipe produk makanan. Pertama, biskuit rendah nutrisi dan rendah energi. Kedua, snack jeli buah yang rendah nutrisi dan tinggi energi. Ketiga, camilan wortel yang tinggi nutrisi dan rendah energi.

Ketiga makanan ini dikemas dalam bungkus berwarna sama, termasuk sama bentuk dan desainnya. Namun, dengan label yang berbeda untuk setiap produk, ada yang ditempelkan gambar tokoh kartun anak dan yang lainnya polos. Karakter kartun yang ditempelkan seperti Scooby Doo, Dora, ataupun Shrek. Jadi, seluruh anak mendapatkan sampel tiga tipe makanan tersebut, baik dengan label kartun maupun tidak. Kesimpulan dari studi ini, anak-anak berpikir makanan dengan gambar kartun lebih enak dibandingkan makanan yang dikemas tanpa adanya tokoh kartun.

Namun, camilan berbahan wortel yang termasuk dalam ketiga tipe makanan itu atau yang merupakan kudapan yang paling menyehatkan, rupanya tidak dianggap menarik dan seenak makanan yang ditawarkan yakni jeli buah dan biskuit. Menurut Christina, hal ini karena produk makanan sehat yang mengusung karakter kartun jarang diangkat ketimbang produk junk food oleh produsen makanan.
 
”Kami berpikir hal ini karena adanya rasa familier terhadap produk makanan tertentu. Tokoh kartun lebih sering dilihat anak-anak pada produk junk food daripada makanan sehat. Maka, mereka merasa makanan itu lebih enak,” kata peneliti lain Roberto.

Roberto dan tim peneliti kemudian berpikir perlunya dibuatkan semacam larangan untuk menggunakan tokoh kartun pada produk-produk makanan yang jauh dari sehat.

”Pelarangan menggunakan tokoh kartun sebagai bagian dari marketing ini, sama halnya dengan marketing yang dijalankan perusahaan rokok. Hal ini sudah menyangkut isu kesehatan masyarakat,” kata Roberto. Menurut dia, pada dasarnya mereka hanya ingin melindungi anak-anak dari makanan yang tidak sehat.

Dilanjutkan Roberto, prioritas sekarang ini adalah untuk menghilangkan tokoh-tokoh kartun ini dalam kemasan makanan yang tidak menyehatkan. Sebaliknya, untuk menarik minat anak-anak, karakter kartun ini dapat ditempelkan pada kemasan makanan sehat bernutrisi. Namun, sebelumnya kita harus fokus terlebih dahulu pada pilihan makanan apa saja yang tidak sehat. ”Sebab, menurut saya, dengan menyuruh anak-anak untuk memakan makanan sehat, sementara jajanan yang tidak sehat masih bertebaran, tidak akan membuat kegiatan ini berhasil,” tutur Roberto.

Hal serupa disepakati oleh Direktur Rumah Sakit Montefiore, New York, Rahil D Briggs. Menurut asisten profesor ilmu kesehatan anak ini, mengombinasikan makanan tidak sehat dengan karakter kartun merupakan sebuah problema yang dapat memicu obesitas pada anak.

”Yang unik, pada anak-anak usia prasekolah, walaupun mereka telah mampu mengembangkan kemampuan kognitif serta memori jangka pendek dan jangka panjang, mereka tidak dapat menolak pesan yang diterima,” kata Rahil. Dengan demikian, apa yang orang dewasa pikirkan adalah bagian dari kegiatan komersial dan kita tahu betapa keras iklan itu berusaha membujuk.

Jadi, jangan heran anak-anak menginginkan segala sesuatunya berbau tokoh kartun kesayangan. Mereka lebih memilih buku gambar berkarakter Dora The Explorer dan anak-anak ini juga menginginkan Dora menjadi bagian dari makanan mereka.
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Minum Air Putih Usir Lingkar Hitam Mata