Rumah Lebih Natural karena Dinding Kamprot

|

Koran SI - Koran SI

Dinding bertekstur cukup unik dan menarik. (Foto: Google)

Rumah Lebih Natural karena Dinding Kamprot
BOSAN dengan dinding rumah yang serbapolos, Anda bisa beralih ke dinding bertekstur. Selain tampilannya cukup unik dan menarik, alternatif penggunaan dinding tersebut juga mulai digemari.
 
Dinding adalah empat bagian bidang yang berfungsi sebagai pembatas atau sekat antara ruang yang satu dan ruang lain. Tanpa dinding, mungkin rumah tidak akan menjadi seperti bangunan yang biasa kita tempati sekarang. Mempercantik dinding dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya permainan warna cat, berkreasi dengan berbagai bentuk pilihan kreatif seperti permainan wallpaper dan tekstur dinding. Nah, salah satu permainan tekstur dinding inilah yang dinamakan dinding kamprot.
 
Menurut arsitek Briyan Talaosa, kamprot adalah sebuah trik atau teknik finishing pada sebuah bidang atau permukaan yang dilakukan dengan cara tertentu sehingga dapat menimbulkan tekstur halus kasar secara acak. ”Konon, karena perkembangannya sama dengan tren penyebutan air mineral dengan merek tertentu. Selanjutnya, dinding dengan permukaan yang bertekstur disebut sebagai dinding kamprot,” ujarnya.
 
Daya tarik yang menonjol pada dinding ini adalah efek shadow yang terlihat pada dinding kamprot. Apabila diberi atau terkena cahaya, baik cahaya buatan maupun cahaya matahari, efek kasarnya menjadi dominan. Lantaran daya tarik itulah menjadikan alternatif finishing ini kian digemari. Kelebihan lain, dinding ini lebih mudah penerapannya hanya yang dibutuhkan di sini adalah ketelatenan dan kesabaran dari si pengguna saja.
 
Letaknya pun bergantung pada kebutuhan penghuni. Ada yang mengaplikasikan dinding ini pada bagian eksterior seperti taman. Ada juga yang menggunakannya untuk desain interior. Khusus untuk desain interior, kebanyakan penghuni menggunakannya hanya di bagian dinding yang ingin diekspos; sebab kalau diaplikasikan di se mua lapisan dinding, kesan rumah akan terkesan gelap. Kalaupun ada, biasanya didesain untuk konsep galeri.
 
Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan si pemilik rumah adalah menentukan ruang mana yang ingin diaplikasikan kamprot tersebut. Misalnya taman, kehadiran kamprot bisa menjadi pendukung elemen yang dapat mempercantik taman, apalagi ditunjang dengan efek pencahayaan yang tepat. Menurut Briyan, ada dua cara pembuatan dinding kamprot yakni secara manual. Yang pertama dilakukan adalah aduk semen pasir dalam kekentalan tertentu, lalu dilempar ke arah permukaan dinding melalui penghalang saringan atau kasa dengan dimensi lubang sesuai keinginan si pengguna. Dalam hal ini, besar-kecilnya ukuran saringan serta kekentalan adukan semen pasir sangat menentukan tekstur yang dihasilkan oleh pembuatan dinding kamprot dengan cara manual.
 
Cara kedua adalah dengan bantuan mesin atau alat, yaitu seperangkat spray gun khusus dengan tabung besar dan kompresor, seperti proses pengecatan duco atau melamin. Biasanya pengaturan kekasaran tekstur kamprot sangat bergantung pada kekentalan adukan, besar bukaan pada spray gun, dan tekanan angin kompresor. Dan yang tidak kalah penting, lanjut Briyan, adalah peran operator atau tukang yang mengendalikan serta membuat dinding tersebut juga mempunyai peran sangat penting terhadap bagus atau tidaknya hasil dari suatu dinding kamprot.
 
Adapun faktor-faktor yang dapat menentukan dinding kamprot itu halus atau tidak, untuk teknik manual, menurut Briyan tergantung kekentalan adukan semen pasir, ukuran partikel pasir yang digunakan sebagai bahan dasar adukan, ukuran lubang saringan sebagai penghalang pelempar adukan ke tembok, dan kemampuan serta kepekaan aplikator atau tukang dalam aplikasi atau pembuatan dinding kamprot. Sementara untuk teknik yang menggunakan alat bantu, Briyan menyebutkan sama saja dengan teknik manual; hanya, kemahiran aplikator sangat berperan penting karena menggunakan alat bantu yang berhubungan dengan mesin.
 
Kendati penerapan dinding kamprot yang relatif mudah, pengaplikasiannya tetap saja tidak bisa asal sebab efeknya akan tidak baik. Karena itu, sebaiknya selalu menyelaraskan dinding kamprot dengan desain atau tema rumah.
 
”Biasanya dinding kamprot selaras dengan tema desain art deco, atau malah yang eklektik atau eksploratif. Malah, sifat dinding ini yang ’jujur’ membuat penampilannya dan poriporinya bisa diekspos. Nah, hal itulah yang dapat kita maksimalkan dalam memilih keselarasan desain dengan furnitur dan aksesori interior lainnya,” jelas Briyan.
 
Alternatif lain, saran Briyan, bisa saja jika kita gunakan furnitur yang terbuat dari material kayu di dalam ruang yang kita biarkan mentah seperti apa adanya, atau di-finishing senatural mungkin untuk mengimbangi dinding kamprot yang tadi sudah ”jujur”. ”Dan masih banyak alasan lain dalam mendesain sepanjang sesuatu yang kita desain sehingga memberikan keindahan dalam persepsi penikmatnya sesuai kapasitas masing- masing,” tambahnya.
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pengalaman Buruk Regina 'Idol' Santap Makanan