Getting Time...

Ibu, Kunci Kecerdasan Anak

Koran SI - Koran SI
Selasa, 27 Juli 2010 13:33 wib
detail berita
Mengajak bicara si kecil merupakan cara stimulasi yang baik. (Foto: Google)

BINGUNG dengan banyaknya jenis mainan, buku, dan video yang mengklaim dapat mencerdaskan balita?
 
Tenang. Satu-satunya cara yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan otak anak adalah Anda sendiri. Membentuk anak sehat, cerdas, dan berkepribadian baik merupakan dambaan setiap orang tua. Prestasi akademik, beasiswa saat kuliah, atau bahkan hanya menjadi ketua kelas mungkin ciri-ciri anak cerdas dalam pikiran Anda. Sepertinya itu juga tujuan masa depan anak yang Anda inginkan saat ataupun lulus dari sekolah.
 
Sebenarnya, untuk mewujudkan anak cerdas tidak susah. Sekarang ini yang terpenting adalah apa yang disebut “berbicara anak”. Artinya orang tua, terutama ibu, disarankan untuk mengobrol dengan ibu lainnya. Sejumlah persoalan mulai proses kehamilan hingga kelahiran dibagi bersama. Formula baru ini yaitu percakapan dan kepedulian pada lima tahun pertama kehidupannya, terbukti dapat menjadikan anak cerdas.
 
“Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak mereka, tapi sekarang tampaknya memang ada upaya yang jauh lebih fokus untuk mencerdaskan bayi. Ibu disarankan berbagi tentang hal-hal yang harus dilakukan dalam pola pengasuhan untuk mendorong pertumbuhan bayi, terutama perkembangan otak,” kata Nina Sazer O‘Donnell, Direktur National Strategies for Success By 6, sebuah lembaga belajar inisiatif di Amerika Serikat, seperti dikutip webmd.com.
 
Pentingnya stimulasi pada balita memang tidak tanpa dasar. Pada “masa keemasan” tersebut, sebagian dari 100 miliar sel otak bayi yang mulai terbentuk saat lahir mulai terhubung dengan organ pernapasan, detak jantung, dan fungsi-fungsi fisiologis lainnya untuk si anak bertahan hidup. Saat lima tahun pertama kehidupan tersebut, banyak jaringan penting terkait dengan pembelajaran yang akan diterimanya.
 
“Apa yang terjadi selama lima tahun pertama kehidupan seorang anak tidak hanya berdampak pada seberapa baik tidaknya perkembangan otak bayi saat itu, tetapi juga seberapa jalan proses pembelajaran dan pertumbuhannya hingga sepanjang masa hidupnya,” terang Christopher P Lucas MD, direktur pusat layanan anak usia dini di NYU Child Study Center, yang juga profesor psikiatri anak dan remaja di NYU School of Medicine, Amerika Serikat.
 
Para ahli percaya dalam mengasuh anak diperlukan insting yang kuat. Misalnya soal pemberian stimulasi yang tepat untuk mencerdaskan balita. Semakin berkembangnya teknologi dewasa ini juga memicu media elektronik berperan besar soal ini. Salah satunya yang banyak dipakai adalah belajar merangsang otak bayi dengan menonton video seperti Baby Einstein.
 
Penelitian terbaru menunjukkan, video tersebut masih kurang efektif dalam membantu perkembangan otak bayi. Bahkan, studi yang diterbitkan dalam Journal of Pediatrics itu menyimpulkan, video edukasi tidak hanya kurang membantu anak dalam meningkatkan kecerdasan, tetapi bahkan bisa memperlambat proses anak untuk berbicara. Namun, para ahli yang tidak ikut dalam penelitian tersebut mengemukakan, sebenarnya yang harus dipikirkan bukan dampak buruk video edukasi itu tersebut.
 
Namun, yang lebih penting adalah apa yang harus dilakukan untuk mengganti kebiasaan menonton video edukasi itu. Cara itu adalah kontak secara langsung antara anak dan orang tua.
 
“Mungkin sesederhana kenyataan bahwa untuk setiap menit seorang bayi di depan layar televisi, dia tidak terlibat kontak penuh akrab dan dekat dengan pengasuh atau orang tuanya. Biasanya mereka belajar dari orang dewasa yang penuh kasih,” ujar Jill Stamm PhD, penulis buku “Bright From The Start: The Simple, Science-Backed Way to Nurture Your Child’s Developing Mind From Birth to Age 3”.
 
O’Donnell setuju dengan pernyataan itu. “Yang penting, untuk balita seribu tahun yang lalu masih yang penting hari ini yaitu Anda sebagai orang tua, adalah alat terbaik bayi Anda untuk belajar,” tegasnya.
 
Akhirnya, para ahli menyimpulkan bahwa berbicara dengan balita Anda, bermain dengan balita Anda, memperhatikan apa kepentingan bayi Anda, dan menggunakan semua itu terbukti dapat menstimulasi otak anak untuk tumbuh dan berkembang.
Selain itu, O’Donnell mengatakan, acara TV edukasi seperti Sesame Street atau bahkan video seperti Baby Einstein, tidak selamanya buruk, selama orang tua berada di samping anak.
 
“Pengalaman kehidupan yang emosional dan hubungan interaksi manusia adalah apa yang menyenangkan dan bermakna untuk balita. Bayi bertindak seperti lem untuk memori mereka. Dengan berkomunikasi, membantu anak untuk mempertahankan apa yang mereka dengar dan belajar untuk itu,” tuturnya.
 
Para ahli mengatakan salah satu cara terbaik untuk berkomunikasi adalah dengan membaca. Tapi jangan hanya membaca untuk anak Anda, tetapi membaca bersama dengan mereka. O’Donnell mengatakan, dengan balita membaca mampu mengubah kata dan kalimat menjadi sebuah pengalaman interaktif yang melibatkan imajinasi dan rasa ingin tahu.
 
“Jika Anda membiarkan seorang anak menjadi penerima pasif, mereka akan mendapatkan pengalaman yang jauh lebih sedikit dibandingkan jika Anda melibatkan mereka dalam proses tersebut,” terangnya.
 
Dalam hal membaca, O’Donnell menyampaikan perlunya mencari gambar apa yang bayi suka dan menggunakannya untuk membantu mengidentifikasi warna, bentuk, binatang, atau apa pun bentuk yang melibatkan kepentingan anak.
(tty)

Beri komentar