Usia Bukan Ukuran Kedewasan

|

Koran SI - Koran SI

Kunci kelanggengan rumah tangga adalah pentingnya sikap saling menghargai, bekerja sama, dan toleransi. (Foto: Google)

Usia Bukan Ukuran Kedewasan
 
MENURUT psikolog Sarlito Wirawan, faktor usia tidak menjadi patokan kedewasaan seseorang. Terkadang malah wanita yang masih berusia 20 tahun lebih dewasa ketimbang pria yang sudah 25 tahun.
 
“Soalnya laki-laki cenderung terlampau lambat dewasa dibanding wanita,” ujar psikolog Universitas Indonesia ini.
 
Psikolog yang banyak mengamati masalah sosial ini beranggapan, tidak ada patokan ideal jarak usia pasangan. Menurut dia, wajar saja jika wanita mencari pasangan yang lebih tua usia dibanding dirinya. Mereka ingin mencari figur kebapakan pada sang suami dengan harapan si suami bisa lebih ngemong dan dewasa dalam menyikapi permasalahan.

Sebaliknya, jika ada pria yang mencari pasangan yang lebih tua, bukan tidak mungkin dia mengalami sindrom oedipus complex, yakni suatu keadaan di mana dia mendambakan figur seorang ibu. Dia menganggap hanya ibunyalah yang paling ideal dan terus membandingkan calon pasangannya dengan ibunya.
 
“Kalau di Indonesia namanya sindrom Sangkuriang, yah mending nikah dengan ibunya saja,” kata mantan dekan Fakultas Psikologi UI ini.

Lebih lanjut Sarlito mengemukakan, sebenarnya perbedaan usia tidak menjadi masalah besar dalam suatu pernikahan. Lagi pula bagi wanita yang menikah dengan pasangan yang lebih tua, melewati usia 30 tahun, dia sudah dapat mengimbangi kedewasaan suaminya. Yang penting, masing-masing pihak menghayati tujuan pernikahan itu.
 
Di zaman dahulu, idealnya patokan usia pasangan berjarak 10–13 tahun.
Agar semasa tua nanti sama-sama matang, khususnya secara seksual.
 
Sarlito juga menuturkan, tidak ada masalah bagi pria yang menikahi wanita yang jauh lebih muda darinya. Sebab, secara seksual berapa pun usia pria tidak membatasi gairah dan kemampuan seksualnya.
 
Yang jadi masalah jika si istri lebih tua ketimbang suami, otomatis kemampuan seksual istri terbatas.
Apalagi jika dia sudah memasuki masa menopause. ”Jika tidak disikapi dengan benar, akan mengancam keharmonisan rumah tangga,” kata pria yang aktif menerjemahkan buku-buku bertema psikologi ini. Sarlito menambahkan, wanita yang mencari suami lebih tua cenderung menganggap pria yang sebaya memiliki wawasan yang terbatas dan bersikap posesif serta tidak dapat menjadi tempat yang enak manakala si istri menghadapi masalah.

Perbedaan usia hanya satu dari beragam masalah yang bisa memicu pertikaian. Menurut Sarlito, kunci menjaga pernikahan agar langgeng kedua belah pihak harus besar mengalah dan komunikasi harus dijaga. “Tidak lupa, hendaknya kedua belah pihak menyingkirkan sikap gengsi masing-masing. Pokoknya memecahkan masalah harus win-win solution,” katanya.

Sementara psikolog dari Universitas Diponegoro, Semarang, Haspaning Sakti menyatakan, pria yang menikah dengan wanita yang lebih tua sebenarnya merupakan hal yang wajar. Pria bisa saja jatuh hati kepada wanita yang lebih matang karena dianggap lebih mampu mengerti dan menerima sikapnya.

Mereka juga menganggap wanita tersebut dapat diajak berkomunikasi dengan baik. “Wanita pada umur tertentu (30–40) lebih ingin menguasai pasangannya. Jadi, dalam hubungan ini wanita bisa lebih mengerti, memanjakan, dan membuat pasangan merasa nyaman selalu di sampingnya,” katanya.
 
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Cara Dewi Gita Hadapi Pubertas Anak