"GANTIAN dong Pa, masak setiap Lebaran yang pertama kali dikunjungi selalu pihak keluargamu. Kali ini gantian kita ke rumah orangtuaku dulu ya di Bandung, baru setelah itu ke Malang," rayu Vivian pada sang suami, Kevin.
Lain dengan Rozie Puji Lestari yang baru saja menikah dengan Bambang Aulia Yudhistira. Rozie mengaku kaget begitu menyadari padatnya schedule Lebaran yang akan ia jalani bersama suami nanti.
"Kita akan mudik ke empat kota. Wah enggak kebayang deh. Padahal sebelum nikah aku paling-paling mudik cuma ke Yogyakarta saja. Tapi nanti kami akan ber-Lebaran di beda kota, bahkan beda pulau," cerita perempuan yang berpofesi sebagai dokter gigi ini.
Rozie dan Yudhistira yang seorang penerbang TNI AU memang sudah jauh-jauh hari merencanakan perjalanan mudik Lebaran mereka.
1. Rencana Matang
"Perencanaan dan kesepakatan itu sangat penting ketika satu keluarga berniat untuk melakukan perjalanan mudik Lebaran," buka Nessi Purnomo, Msi, Psikolog dari Personal Growth.
Karena jika tidak, di tengah jalan nanti bisa saja terjadi masalah yang pemicunya dapat muncul dari hal-hal kecil.
"Istri-suami diharapkan saling membagi tugas dan menyiapkan segala sesuatunya bersama-sama. Hal ini untuk menghindari saling menyalahkan saat mereka menemui masalah saat perjalanan mudik," tutur Nessi.
"Jakarta-Bandung itu kan dekat. Tapi sudah dua kali Lebaran, kami ke Malang dulu, ke kampung halaman Kevin, baru kemudian ke Bandung, dan kembali lagi ke Jakarta. Padahal kenapa tidak sebaliknya. Sebagai istri yang baik, saya ikut saja apa kata suami, tapi lama-lama kok saya kesel juga," keluh Vivian.
2. Komunikasi
"Kembali pada niat awal bahwa perjalanan ini untuk silaturahmi dan merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan. Berangkat dari niat yang positif, dan jangan dijadikan beban yang susah-susah. Kalau tidak fun, badan lelah, pikiran capek, kemudian terjadi sesuatu di jalan, wah bisa kacau! Nanti yang ada malah salah-salahan," papar Nessi.
Inilah pentingnya komunikasi, sosialisasi, kesepakatan, kompromi, baru kemudian terakhir evaluasi. Komunikasikan apa yang Anda rasakan dan inginkan. Begitu juga dengan pasangan. Jangan pernah sekali-kali berharap pasangan kita tahu dengan sendirinya apa yang harus ia lakukan. Misal kerap kita dengar, "Ya kamu mestinya sudah tahu dong harus gimana!."
Tapi bagaimana bisa tahu jika tidak diberitahu? Pasangan Anda bukan paranormal lho!
Kemudian sosialisasikan adat alias kebiasaan Lebaran masing-masing keluarga. Itulah mengapa ada ungkapan, "Menikah bukan sekadar menikahi pasangan kita, tapi juga menikahi seluruh keluarga besarnya."
3. Kesepakatan
Selain proses sosialiasi, buatlah kesepakatan. Apa saja yang harus disepakati, jalur perjalanan, waktu keberangkatan, urutan tempat yang mau dituju, masing-masing saling membagi tugas. Buat variasi, tahun ini ke tempat istri, Lebaran berikutnya di tempat keluarga suami. Bergantian saja, dan di sinilah kompromi berperan penting sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasa dikesampingkan.
"Dari awal mustinya sudah disadari kedua belah pihak bahwa ketika kita menikah itu kita menyatukan dua keluarga yang berbeda. Masing-masing dibesarkan dalam adat yang berbeda. Ada beberapa hal yang bisa dilanjutkan, ada yang bisa dihilangkan, atau bisa dikompromikan. Sejauh mana musti direguk berdua," ulasnya.
Artinya ketika terjadi sosialisasi, istri-suami harus kompak, kedua belah pihak tidak boleh berpikir siapa yang nomor satu siapa dinomorduakan. Ingat, masih ada Lebaran-lebaran berikutnya!
Anda tak mau bukan jika setiap Lebaran muncul perasaan jengkel karena merasa dinomorduakan?
Setelah usai, lakukan evaluasi untuk melihat hal-hal yang kurang, yang luput dari perhatian, guna perbaikan perjalanan tahun depan.
Nah, sekarang waktunya melakukan "rapat penting" Moms and Dads! Jangan lupa tiga kunci di atas ya!
Selamat bersilaturahmi! (nsa)