Getting Time...

Irritable Bowel Syndrome Dipicu Stres

Genie - Genie
Sabtu, 4 September 2010 13:08 wib
detail berita
Irritable Bowel Syndrome dipicu stres (Foto: Google)

APAKAH Anda mengalami diare atau konstipasi? Padahal Anda sebetulnya sehat-sehat saja? Bisa jadi Anda mengalami Irritable Bowel Syndrome. Jika tak ditangani dengan baik, penyakit ni bisa menimbulkan masalah kejiwaan.
 
Menurut dr Hendarto N MARS SpPD dari Rumah Sakit Royal Taruma, Grogol, Jakarta Barat, Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah gangguan motilitas pada saluran pencernaan. Akibat dari gangguan ini bisa bermacam-macam. Bisa berlebihan dan juga bisa berkurang. “Efeknya bisa diare, bisa konstipasi, atau juga bisa bergantian antara diare dan konstipasi. Dan berlangsung lama. Kadang-kadang bertahun-tahun,” katanya.
 
Patofisiologi dari IBS dimulai dengan rangsangan akibat faktor atau kondisi psikologis yang kurang baik. Hubungan antara faktor psikologis dengan saluran cerna memang sangat dekat. Ini bisa dilihat dari apa yang terjadi ketika seseorang sedang panik, stres, atau grogi. Misalnya, sebelum ujian atau ulangan umum, seorang anak bisa buang air besar secara terus-menerus lantaran stres menghadapi ujian. Hingga akhirnya menjadi sakit maag. Atau bisa juga pada seseorang yang sedang dimarahi atasan. Perasaan yang tidak menentu pada saat itu bisa menimbulkan keinginan untuk buang air besar terus-menerus. Pada sebagian orang, stres mengakibatkan konstipasi (sembelit).
 
“Karena ada kaitan erat stres dengan pencernaan. Sistem pencernaan memiliki reseptor untuk rangsangan dari otak. Bukan hanya dengan pencernaan. Beberapa orang juga mengalami sesak napas karena kaitan stres dengan sistem pernapasan,” jelas dr Hendarto.
 
Munculnya gejala diare yang berlebihan atau konstipasi disebabkan oleh gerakan usus atau motilitas yang terganggu. Pada orang normal, usus yang terdapat dalam saluran pencernaan akan senantiasa bergerak dengan ritme tertentu. “Bisa dijelaskan dengan gambaran motilitas. Usus itu kan mestinya bergerak teratur, sehingga makanan akan diserap dan juga sisanya akan dibuang,” imbuhnya. Sehingga makanan yang sudah diolah oleh lambung akan terserap dan sisanya akan dibuang.
 
Tapi pada penderita IBS, faktor psikologis (biasanya stres) membuat gerakan-gerakan usus tidak teratur. Kadang terlalu cepat, kadang juga terlalu lambat. Gerakan usus yang terlalu cepat, kadang juga terlalu lambat. Gerakan usus yang terlalu cepat inilah yangn kemudian menimbulkan diare. Sedangkan gerakan usus yang melambat menyebabkan konstipasi karena ampas atau sisa-sisa metabolisme tidak dapat disalurkan oleh usus dengan segera untuk dibuang. “Pada irritable Bowel Syndrome amabng rangsang diare menjadi turun. Sebaiknya ambang rangsang untuk terjadi konstipasi juga abnormal,” lanjut dr Hendarto.
 
Penyebab IBS sejauh ini belum diketahui dengan jelas. Namun diyakini bahwa munculnya penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang. “Misalnya, gangguan kepribadian, stres situasional, depresi, ansietas. Penyebabnya didominasi oleh faktor psikologis,” jelasnya.
 
Makanan sendiri tidak terlalu berpengaruh. Hanya saja ada beberapa jenis makanan yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi pencetus. “Jadi, makanan itu sebagai trigger (pencetus). Kadang-kadang Irritible Bowel Syndrome bisa dirangsang oleh makanan-makanan tertentu seperti permen yang mengandung sorbitol, produk-produk susu yang mengandung laktosa atau apa saja. Tidak ada satu makanan yang khusus tapi individual. Makanan hanya pencetus dan sangat bergantung pasa setiap orang. Misalnya, pada orang A Laktosa bisa mencetuskan IBS, tapi tidak bagi orang B,” ungkap dr Hendarto.
 
Gejala-gejala

Berdasarkan gejala yang ditimbulkan, IBS bisa dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, IBS dengan gejala konstipasi. Pasien biasanya akan sulit buang air besar. “Berhari-hari dia (pasien) susah buang air besar,” kata dr Hendarto.
 
Kedua, IBS  dengan gejala diare. Di sini pasien sering buang air besar. Nah, yang membedakan diare pada IBS dengan diare biasa yang diakibatkan oleh iritasi pada saluran pencernaan atau kuman pada makanan adalah kuantitas tinja yang sedikit. “Tapi khas, ya. Kalau buang air pada jenis ini, sedikit-sedikit. Kadang-kadang disertai dengan lendir,” imbuhnya.
 
Ketiga, campuran dari kedua gejala tersebut. Menurut dr Hendarto, gejala yang saling bertolak belakang tersebut terjadi dalam hitungan tahun. “Dalam sebulan mungkin susah buang air besar dalam beberapa hari, tapi kemudian diare dalam beberapa hari. Dan ini sifatnya kronik,” katanya.
 
Namun ciri atau gejala yang sangat umum adalah rasa tidak enak, tidak nyaman pada perut. Rasa tidak enak atau tidak nyaman itu bisa dalam bentuk yang berbeda-beda, seperti kembung, panas, sakit. Tapi pada umumnya gejala tersebut pulih atau hilang selepas yang bersangkutan buang gas atau buang air. Dan kondisi pasien kembali normal.
 
Ciri khas lainnya adalah kondisi atau keadaan pasien. Berbeda dengan penyakit lain, IBS tidak menyebabkan perubahan pada berat badan atau kondisi fisik pasien. Penderita terlihat biasa saja. “Dan (penderita) biasa saja, seperti tidak sakit. Orang tersebut juga tidak menjadi kurus seperti pada penderita penyakit lain,” ujar dr Hendarto.
 
Karena penyebabnya yang cenderung individual, pengobatannya juga disesuaikan. “Tidak bisa dikatakan obatnya X. Tidak bisa begitu. Karena penyebabnya tidak jelas, tidak ada obat yang spesifik. Kalau orangnya depresi, diberikan obat antidepresan. Kalau orangnya ansietas (khawatir berlebihan), diberikan antiansietas. Kalau dirangsang oleh makanan tertentu, ya, makanan itu harus dihindari,” jelasnya.
 
Karena penyebabnya tidak jelas, tidak dapat dilakukan tes untuk lebih menagakkan diagnosa. Yang terjadi seharusnya adalah kerja sama antara dokter dan pasien. Pasien harus terbuka dan dokter harus sabar untuk meneliti. Dengan demikian, obat antigejala bisa diberikan. “Yang penting dokter dengan pasien itu harus erat, pasien harus terbuka, dan dokter juga harus sabar. Karena penyakit ini biasanya berlangsung lama, pasien nanti bolak-balik. Jadi, kadang dokter jadi tidak sabar,” lanjutnya.
 
Masalahnya, seringkali pasien tidak jujur. Pasien sering menutupi kondisi psokologisnya atau masalah yang cukup menguras perhatiannya hingga membuatnya stres. Dengan demikian, komunikasi antara dokter dan pasien tidak terbangun baik. Tak jarang pasien meminta pemeriksaan yang lain. “Diteropong, CT Scan. Itu semua sebetulnya tidak perlu bila sudah diketahui bahwa penyakitnya adalah IBS. Nggak perlulah itu,” imbuhnya.
 
Lalu bagaimana pencegahannya? “Pencegahan? Karena penyebabnya tidak diketahui, susah kita mencegahnya. Seperti tidak mungkin kita mengatakan, “Anda jangan depresi! Jangan khawatir! Itu susah, ya. Kadang-kadang lagi dalam keadaan senang tiba-tiba mendapatkan berita menyedihkan dan langsung depresi. Ini juga bisa saja,” katanya.
 
Yang penting adalah waspada. Waspada karena IBS bisa menyebabkan masalah kejiwaan yang serius. “Yang jelas penyakit IBS bisa mencetuskan penyakit kejiwaan buat yang bersangkutan. Masalah kejiwaan bisa menimbulkan IBS, IBS bisa menimbulkan masalah kejiwaan. Kan biasanya pasien kesal, nggak sembuh-sembuh, dan kondisi ini bisa mengganggu pikiran si pasien. Karena Irritable Bowel Syndrome sangat mengganggu dan membuat pasien tidak nyaman,” tandasnya.
(tty)

Beri komentar