G-Shock Rilis Inovasi Bercitra Muda

G-Shock Rilis Inovasi Bercitra Muda

Mr Kikuo Ibe memamerkan koleksi jam tangan G-Shock (Foto: Dok G-Shock)

INOVASI G-Shock tidak pernah berhenti. Usia brand yang lebih dari 20 tahun tidak membuat G-shock lantas berhenti menghadirkan sesuatu yang baru, melainkan terus berkreasi dan menghadirkan karya yang bercitra muda.

Brand arloji dari Jepang ini kembali mempersembahkan koleksi terbaru yang diselenggarakan untuk merayakan arloji legendaris G-Shock. Lantas, apa saja inovasi terbaru G-Shock?

"Misalnya ada sensor, tenaga matahari bisa menyimpan tenaga jauh lebih hebat. Mengadopsi kemajuan teknologi, itu bisa dibentuk. Dibikin koordinasi. Kalau kita punya jam atau handphone, akan ada koneksinya. Misalnya, kita telepon, pergi, lupa handphone kita ada di mana, maka jam kita akan berbunyi memanggil. Atau handphone ada di dalam tas, ada e-mail kita enggak dengar, maka jam tangan akan berbunyi dan memberi tahu. Itu sedang dipikirkan. Ada temperatur pengatur suhu. Dia bisa memberi tahu," papar Mr Kikuo Ibe, Chief Engineer G-Shock saat berbincang dengan okezone di Novotel Mangga Dua, Jakarta, Selasa (5/10/2010).

Sementara itu, untuk market, potensial G-Shock, desain, semua inovasi untuk setiap negara disesuaikan dengan kebutuhan. Sehingga arloji yang terkenal dengan pilihan warnanya itu tetap menyesuaikan pilihan warna pada masing-masing negara.

"Secara garis besar sama, hanya saja tergantung negaranya. Jadi, misalnya negara itu lebih suka warna kuning, maka akan dibuat lebih banyak warna itu," ujar Mr Kikou Ibe, yang juga Founding Father of G-Shock.
 
Untuk Indonesia, lanjut Kikou, G-Shock menciptakan banyak warna. "Dalam perkembangannya, menciptakan banyak warna. Market di Indonesia sangat besar karena penduduk di Indonesia sangat besar," kata Kikuo.

Itu dilakukan, karena Indonesia biasanya selalu mengikuti perkembangan tren yang berlaku di seluruh dunia.

"Kecenderungan tren di Indonesia ikut di dunia. Selama belasan tahun tetap bertahan," ujar Lisianto Budinata (Akok), Marketing Director Casio Indonesia.

Senada dengan Lisianto, Kikuo juga memaparkan hal sama. Hanya saja, arloji ini selalu ditujukan untuk pangsa pasar muda.

"Memang kekuatannya tetap dipertahankan. Jadi dikembangan G-Shock yang besar. Akhirnya dibuat seperti itu. Untuk laki-laki biasa sekitar 25 sampai 35 tahun," ujar Kikuo.

Dengan inovasi-inovasi yang disesuaikan tren terkini, Kikuo optimis G-Shock akan digemari oleh kawula muda di Tanah Air.

"Kita menjual produk yang terbaik. Dan kita yakin masyarakat akan menerima produk dengan aspresiasi yang baik. Kita yakin produk ini akan sangat digemari, khususnya kawula muda. Apalagi teknologi dan warna-warna yang tersedia semuanya sesuai dengan tren saat ini di Indonesia. Itulah yang membuat kami yakin dapat memaksimalkan penjualan," pungkasnya.
(nsa)

Baca Juga

Selain Tenun, Makassar Bakal Produksi Batik

Selain Tenun, Makassar Bakal Produksi Batik