Wisata Kemiskinan ala Jakarta Hidden Tour

Wisata Kemiskinan ala Jakarta Hidden Tour

(foto: Jakarta hidden tour.wordpress.com)

JAKARTA- Berwisata melihat pemandangan pantai yang indah, gunung yang sedap di mata, hingga danau yang menakjubkan mungkin sudah biasa. Bagaimana dengan wisata kemiskinan? Mungkin ini merupakan wisata yang luar biasa dan mungkin satu-satunya di dunia.

Dari idenya saja sudah berbeda dari kebanyakan. Mengunjungi dan melihat kemiskinan Jakarta secara langsung. Kocek yang dirogoh pun juga tak banyak, hanya Rp500 ribu Anda bisa diajak berkeliling Jakarta, melihat langsung di balik kemegahan Ibu Kota Indonesia.

Ide ini dicetuskan seorang budayawan bernama Ronny Poluan. Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini pertama kali mencetus ide tersebut tahun 1984 silam. Kala itu, dia mengajak rekan-rekannya, budayawan mancanegara untuk melihat di balik kemajuan, kemegahan Jakarta, yaitu kemiskinan.

Saat itu, Ronny menyinggung rekannya yang selalu menampilkan keindahan dalam kesenian mereka. “Jangan keindahan melulu yang loe tonjolin. Coba loe lihat aslinya Jakarta. Inilah aslinya Jakarta,” tutur Ronny yang ditemui okezone di kantornya, akhir pekan kemarin.

Awalnya, Ronny bergerak sendirian. Kemudian dia mulai mengajak rekan-rekan dan keluarganya untuk serius menggarap wisata kemiskinan ini yang kemudian dia namakan Jakarta Hidden Tours. Dia mulai menggarap wisata ini secara serius tahun 2008 lalu.

Ronny sejak awal menegaskan tidak ingin menonjolkan pesona dan keindahan Jakarta. Justru dia ingin menunjukkan kehidupan Jakarta yang sebenarnya. "Tur ini ingin melihat kehidupan masyarakat Jakarta sesungguhnya," ungkap Ronny Poluan, pendiri Jakarta Hidden Tour.

Dengan tarif Rp500 ribu, Ronny mengajak turis yang kebanyakan dari mancanegara untuk mengunjungi daerah-daerah kemiskinan seperti penduduk di Bantargebang, Papango, Tanah Abang, bantar kali Ciliwung, dan juga luar batang.

Tur ini juga upaya untuk menjembatani mereka yang ingin melihat dan mendengar keluh kesah secara langsung dari penduduk marjinal Ibu Kota.

Ronny mengaku tak meraup keuntungan dari tur tersebut. Karena uang Rp500 itu bukan untuk dirinya. Melainkan untuk ongkos, transportasi, makan, minum, dan juga donasi bagi warga miskin yang dikunjungi wisatawan.

Guna menunjang tur kemiskinan ini, Ronny bersama rekan-rekannya pun membuat sebuah blog untuk mempromosikan tur ‘luar biasa’ mereka kepada wisatawan asing di luar negeri. Website itu pun mereka buat menggunakan bahasa Inggris, agar masyarakat mancanegara mudah membacanya.
(uky)

Baca Juga

Pergi Pulang ke Sydney Rp7,6 Juta

Pergi Pulang ke Sydney Rp7,6 Juta