Disbudpar DKI: Wisata Kemiskinan Bukan Produk Wisata!

Disbudpar DKI: Wisata Kemiskinan Bukan Produk Wisata!

(foto: daylife.com)

JAKARTA- Jakarta Hidden Tour atau Wisata Kemiskinan yang diadakan budayawan Ronny Poluan tidak dianggap sebagai salah satu produk wisata yang dilakukan travel atau biro perjalanan yang ada.

"Ternyata apa yang dilakukan Pak Ronny, bukan bagian dari biro atau agen perjalanan wisata. Kalau di dalam ketentuan, itu hanya dilakukan biro perjalanan wisata, tapi ini kan LSM," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov DKI Jakarta, Ari Budiman, saat berbincang melalui telepon dengan okezone, Rabu (15/12/2010).

Belakangan ini, wisata kemiskinan Jakarta Hidden Tour (JHT) dari Ronny, meramaikan media dan forum internet. Banyak pro kontra atas ide Ronny. Ronny malah mengusulkan agar idenya diadopsi biro travel wisata menjadi semacam paket perjalanan.

Menanggapi itu, Ari berpendapat sah-sah saja Ronny sebagai pribadi atau bagian dari LSM memiliki ide membuat paket wisata kemiskinan dengan mengunjungi kawasan kumuh di Jakarta. Namun bagi Ari menilai yang dilakukan Ronny adalah kerja komunitas dan tidak bisa dikatakan sebagai produk wisata.

"Serahkan saja ke mekanisme pasar. Tapi saya tidak yakin semua memilih paket itu (wisata kemiskinan). Misalnya ada 1,5 juta wisatawan mancanegara masuk Jakarta, itu paling nol koma nol persen saja," ujar Ari.

Ari mengaku, telah meneliti wisata kemiskinan yang dikelola Ronny. JHT bukan bagian dari biro perjalanan wisata yang berada di bawah naungan Association of Indonesian Travel Agency (ASITA).

"Menurut saya, ini bukan paket wisata. Tapi memang dimungkinkan seseorang
mengelola orang-orang yang memiliki minat khusus untuk melihat wilayah kumuh di Jakarta. Tapi sebenarnya kalau berbicara tempat kumuh, kan tidak hanya di Indonesia saja. Di negara mana pun di dunia ini kan ada daerah kumuhnya. Lalu kenapa kita heboh dan menampilkan itu," ungkap Ari panjang lebar.

Oleh karena itu, lanjut Ari, dia tidak yakin bila paket wisata yang dikelola Ronny ini akan menyedot wisatawan asing untuk melihat 'keindahan' daerah kumuh itu.

"Kalau mereka atau anda ditanya dan disuruh memilih, tentunya kita mempunyai sense atau rasa. Kita punya sesuatu yang dijual, ada yang berbahaya ada yang buruk, ada yang baik dan sebagainya. Jadi saya kira serahkan ke mekanisme pasar saja. Tapi saya tidak yakin semua memilih itu, karena lebih banyak hal atau sesuatu yang positif untuk dijual," tegasnya.

Ari melanjutkan, wisatawan asing sebenarnya memiliki rasa empati terhadap persoalan kemiskinan ini. "Mereka merasa kok ada orang dari kalian seperti itu. Tapi mereka merasa tidak wellcome. Mereka lebih memilih paket wisata lainnya yang lebih humanis, soal kerukunan beragama dan budaya, itu yang mereka lebih pilih," ucapnya.

Sementara Ronny memang punya pendapat berbeda. mengatakan para turis sudah jenuh dengan kota Jakarta yang modern. Warga ibukota yang hidup miskin dinilai eksotis dan unik oleh para bule itu. Interaksi langsung dengan kaum miskin ini pun bisa menggugah kesetiakawanan sosial lintas bangsa.

Namun di sisi lain, Ari meminta Ronny lebih berhati-hati dan memahami persaingan pariwisata di Asia Tenggara secara utuh. Indonesia, Malaysia dan Singapura menjual pariwisata yang serupa dengan persaingan yang ketat. Ada semacam perang dingin untuk menggaet wisatawan asing sebanyak-banyaknya.

Paket wisata kemiskinan dinilai Ari, justru menjadi kelemahan di tengah upaya Indonesia mempromosikan pariwisata. Malaysia dan Singapura yang selalu menjual keindahan negara mereka akan merasa diuntungkan dengan adanya wisata kemiskinan di Jakarta.

"Dengan ide itu, saya kira mereka akan senang. Mereka menilai, kok ada warga yang menjelekkan bangsa sendiri. Tentu saja kita akan digilas kompetisi itu," imbuhnya.

Ari menyayangkan jika ada yang merasa bangga dengan menampilkan kondisi kemiskinan seperti ini. Apalagi jika kondisi itu sampai dipolitisasi demi kepentingan tertentu. Ari yakin wisata kemiskinan tidak akan berkembang di dunia pariwisata masa depan. Wisata kemiskinan hanya merupakan bagian dari kerja-kerja komunitas saja untuk melihat kemiskinan tersebut.
(uky)

Baca Juga

Pergi Pulang ke Sydney Rp7,6 Juta

Pergi Pulang ke Sydney Rp7,6 Juta