Kok Berat Janinku Enggak Sama, Sih?

Kok Berat Janinku Enggak Sama, Sih?

Seorang ibu memegang bayinya yang baru lahir. (Foto: Getty Images)

"WAKTU di USG beratnya 3,5 kg. Tapi ketika lahir kok beratnya cuman 2,8 kg. Tahu gitu, kan nggak perlu cesar."

Keluhan seperti di atas kerap dilontarkan oleh bumil yang awalnya menginginkan proses kelahiran normal, namun "terpaksa" harus cesar. Memang, ada kalanya dokter menyarankan untuk melahirkan cesar, mengingat bayi yang dikandung bumil terlalu besar sehingga dapat membahyakan sang ibu.

Untuk lebih jelas, yuk ikuti ulasan dr Ali Sungkar SPOG dari Brawijaya Women and Children Hospital.

Kesalahan Ukur itu Normal 

Cara atau jenis pengukuran berat badan janin ada bermacam-macam. Salah satunya adalah perbandingan antara lingkar perut dengan lingkar kepala dan panjang femur yang dikombinasikan dengan metoda Hadlock, Tokyo atau Jeanty. Dan semua metoda tersebut rata-rata memiliki kesalahan 20 persen.

"Misalnya tarikan garis harusnya lurus tapi miring melintang atau agak miring sedikit, maka diameternya akan menjadi besar. Seperti telur yang dipotong, akan berbeda hasilnya jika berdasarkan tarikan garis lonjong atau bulat," jelas Ali.

Kesalahan mengukur berat janin juga bisa karena faktor pemeriksanya (man behind machine). Prinsipnya, pengukuran yang biasa dilakukan untuk mengukur berat janin yaitu paha, perut, dan kepala. Dan akibat kesalahan mengukur pada ketiga bagian tersebut, berat bayi terlihat lebih besar.

Apalagi kepala bayi dalam rahim memang terlihat lebih besar. Alhasil, ketika dikalkulasi ke dalam  rumus, bayinya akan terlihat besar. Padahal hanya kepalanya saja. Yang paling sering terjadi adalah kesalahan lingkar perut karena pengukurannya miring, seolah-olah bayinya besar.

Faktor kesalahan lain adalah jenis mesin USG yang digunakan. Makin besar tingkat resolusinya maka makin akurat. Tapi ada juga mesin yang memiliki kalkulasi sendiri dari beberapa rumus sederhana. Resolusi memengaruhi titik pengukuran itu menjadi akurasi, misalnya akurasi USG dengan kerumitan mesin. Mesin dengan high end punya akurasi lebih dan tentunya harganya juga mahal.

Tapi alat sederhana bukan berarti tidak akurat. Sekali lagi dr. Ali mengingatkan USG hanya alat bantu pengukuran atau gambaran (imaging). Sehingga jika terjadi kesalahan pemotongan akan mengakibatkan salah pengukuran. Miring sedikit saja dalam memotong hasilnya akan berbeda.

Demikian pula mengukur bayi dengan persentasi kepala dan persentasi pantat pasti hasilnya akan berbeda. Walaupun kecil, bila ada kesalahan pengukuran harus disampaikan oleh dokter kepada pasiennya. Dan pasien juga harus kritis sebelum melakukan USG.

USG dan Kegunaannya

Sebaiknya pemeriksaan USG dilakukan secara berkala sehingga dapat segera diketahui apakah terdapat kelainan pada kehamilan dan pertumbuhan janin dalam kandungan. Pemeriksaan USG dalam setiap trimester mempunyai tujuan yang berbeda-beda, di antaranya:

USG Trimester I, dapat dilihat panjang janin untuk memperkirakan usia kehamilan. Selain itu, USG trimester I juga digunakan untuk mengetahui apakah kehamilan terjadi di luar rahim atau tidak. Pun dapat memerlihatkan ada atau tidaknya kelainan seperti mioma uteri atau kista yang dapat mengganggu proses kehamilan. USG cukup dilakukan satu kali saja.

USG Trimester II, dilakukan screening untuk mengetahui apakah ada kelainan atau mendeteksi bila ada kecacatan pada janin. Selain itu dapat diketahui jenis kelamin janin yang dikandung, deteksi kemungkinan terjadi preeklamsi. USG cukup satu kali saja.

USG Trimester III, untuk mengetahui pertumbuhan janin dan apakah persalinan cukup bulan atau tidak. Juga dapat diketahui taksiran berat janin, letak plasenta, jumlah air ketuban, serta adanya lilitan tali pusat. USG dilakukan dua kali.
(nsa)

Baca Juga

Terlalu Sibuk, Lenny Agustin Tak Sempat <i>Nyalon</i>

Terlalu Sibuk, Lenny Agustin Tak Sempat Nyalon