Topic » more...
Getting Time...

Kanker Paru Bukan Monopoli Perokok

SINDO
Rabu, 19 Januari 2011 10:20 wib
detail berita
Wanita rutin mengecek kesehatan. (Foto: Google)

PEMICU kanker paru-paru tidak hanya karena merokok. Sejumlah zat yang bersifat karsinogenik seperti asbes, arsen, kromat, nikel, klorometil eter, radiasi, dan polusi juga dapat menyebabkan kanker paru-paru. Karena itu, waspadalah!
 
Pengakuan Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih bahwa dirinya menderita kanker paru-paru begitu mencengangkan publik. Bagaimana mungkin? Seorang menteri dengan kesibukan segunung, aktivitas tiada henti saban hari, sehingga dituntut memiliki kesehatan yang prima, ternyata mengidap penyakit ganas.
 
Apalagi, notabene Endang adalah praktisi kedokteran yang tentu menerapkan gaya hidup yang sehat seperti tidak merokok. Masyarakat pun semakin bertanya-tanya, apa saja sebenarnya yang menyebabkan seseorang menderita kanker paru. Selama ini kanker paru memang selalu diidentikkan dengan seorang perokok. Anggapan itu tidak salah.
 
Sekitar 90 persen kasus kanker paru-paru pada pria dan 70 persen pada wanita karena kebiasaan merokok. Semakin banyak asap rokok yang diisap, semakin besar risiko untuk menderita kanker paru-paru. Penyebabnya tidak lain karena rokok tembakau mengandung lebih dari 4.000 zat kimia, dan sebagian besar merupakan zat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker.
 
Dua zat karsinogenik utama dalam rokok tembakau adalah nitrosamine dan polycyclic aromatic hydrocarbon. Namun, sebenarnya rokok bukan satu-satunya penyebab kanker paru-paru.
 
”Menderita kanker termasuk kanker paru-paru itu seperti mendapat lotere. Kita tidak tahu apakah kita akan mengalaminya atau tidak,” kata spesialis paru-paru dari RSUP
Persahabatan, Prof DR dr Hadiarto Mangunnegoro SpP (K), baru-baru ini.
 
Menurut dia, banyak zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja yang bersifat karsinogenik. Misalnya asbes, arsen, kromat, nikel, klorometil eter, gas mustard, dan pancaran oven arang dan radiasi bisa menyebabkan kanker paru-paru, meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. Sekitar 10 persen-15 persen penderita kanker paru-paru pada pria dan 5 persen pada wanita disebabkan oleh hal ini.
 
”Polusi udara yang melingkupi warga di kota-kota besar juga bisa jadi pemicu kanker paru-paru,” sebut Hadiarto. Zat yang terdapat dalam polusi tersebut di antaranya adenokarisinoma dan karsinoma sel alveolar. Namun, biasanya terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya seperti tuberkulosis dan fibrosis.
 
Selain itu, perokok pasif atau orang yang ikut menghirup asap rokok yang berasal dari perokok dalam jangka waktu yang lama juga berisiko tinggi menderita kanker paru-paru. Sejumlah penelitian menunjukkan, perokok pasif mempunyai risiko menderita kanker paru- paru 24 persen lebih besar daripada mereka yang tidak merokok.
 
Hadiarto mengungkapkan, angka resmi tentang jumlah penderita kanker paru-paru di Indonesia dan angka kematiannya memang belum diketahui. Namun, laporan dari berbagai rumah sakit terus mengalir dan menunjukkan jumlah penderita kanker paru-paru yang cukup tinggi dan makin lama tampaknya akan terus meningkat.
 
”Pencatatan soal ini kita masih payah, tetapi yang pasti masih tinggi jumlahnya,” imbuhnya.
 
Sementara itu, salah satu laporan Badan Kesehatan Dunia PBB (World Health Organization/ WHO) menunjukkan bahwa kanker paru-paru merupakan kanker yang paling sering ditemui pada kaum pria di dunia. Lebih dari 1,3 juta kasus baru kanker paru-paru setiap tahunnya yang menyebabkan 1,1 juta kematian. Jumlah insiden dan prevalensi di kawasan Asia, Australia, dan Timur Jauh berada pada tingkat pertama dengan estimasi kasus lebih dari 670.000 dengan angka kematian lebih dari 580.000 orang.
 
Kanker paru-paru sulit terdeteksi karena tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Besarnya ukuran paru-paru menyebabkan kanker tumbuh bertahun-tahun tak terdeteksi dan baru terdeteksi jika sudah stadium lanjut. Namun, menurut Hadiarto, hal itu bergantung pada jenis, lokasi, dan cara penyebarannya.
 
”Jika masih di jaringan perifer, tentu tak bergejala. Namun, kalau menyerang bagian sentral dekat saluran napas, pasti akan terlihat gejala,” tuturnya.
 
Biasanya, gejala utama adalah batuk yang menetap. Penderita bronkitis kronis yang menderita kanker paru-paru sering kali menyadari bahwa batuknya semakin memburuk. Dahak bisa mengandung darah. Bahkan, jika kanker tumbuh ke dalam pembuluh darah di bawahnya, bisa menyebabkan perdarahan hebat. Gejala yang timbul kemudian adalah hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, dan kelemahan.
 
Kanker paru-paru sering kali menyebabkan penimbunan cairan di sekitar paru-paru (efusi pleura) sehingga penderita mengalami sesak napas. Jika kanker menyebar di dalam paru-paru, bisa terjadi sesak napas yang hebat, kadar oksigen darah yang rendah, dan gagal jantung. Masa orang terkena kanker paru-paru ini adalah sangat lama yaitu sekitar 10-15 tahun.
 
Jika sejak berusia 15 tahun orang sudah merokok, kemungkinan pada usia sekitar 35 atau 40 tahun orang itu menderita kanker paru-paru.
 
Diagnosis pada kanker paru-paru dibuat berdasarkan jenis tipe sel dan tanda-tanda cukup. Satu cara yang bisa digunakan adalah mengonsumsi antioksidan yang merupakan senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas dengan jalan melindungi sel-sel tubuh, khususnya paru-paru.
 
Namun, cara tersebut adalah jalan terakhir dan bukan pengobatan yang 100 persen menghambat atau mencegah penyakit kanker. Ini hanya untuk mengurangi risiko penyakit kanker. Ada beberapa antioksidan yang dapat dikonsumsi yaitu vitamin A, C, dan E dalam bentuk food suplement. Antioksidan ini melindungi paru-paru terhadap oksidasi
dan kerusakan oleh fraktur (fr).
 
Beberapa jenis makanan seperti kedelai, tahu, tempe, dan oncom juga mengandung senyawa genistein yang merupakan antioksidan dan antitumor kuat, yang dapat menstimulasi sistem imun. Mekanisme kerjanya adalah menstimulasi pulihnya sel-sel tumor menjadi sel normal, khususnya pada kanker paru-paru.
 
Teh hijau yang mengandung bioflavonoid Epi-Gallo Catechin Gallat juga merupakan antioksidan terkuat yang aktivitasnya 10 kali lebih kuat daripada vitamin C. Ada beberapa jenis pengobatan terhadap penyakit ini, yakni operasi, kemoterapi, dan radiasi. Jenis pengobatan ini disesuaikan dengan jenis kanker, tingkat perluasan atau penyebarannya pada saat didiagnosis, dan keseluruhan kondisi kesehatan penderita.
 
”Untuk derajat I dan II, biasanya operasi, sedangkan derajat III dan IV dapat dilakukan tindakan kemoterapi, radioterapi, kombinasi keduanya atau terapi target,” kata spesialis paru-paru dari RSUP Persahabatan, Dr Ahmad Hudoyo SpPD FCCP. Operasi merupakan tindakan pengobatan utama pada tahap awal kanker. Pasien yang tidak dapat menjalani operasi, maka bisa beralih ke radioterapi.
 
Kanker ini sangat bisa disembuhkan jika terdeteksi pada tahap awal. Masalahnya, kanker sangat jarang terdeteksi pada tahap ini. Kalau sel kanker sudah menyebar ke daerah lain, pilihan pengobatannya adalah kemoterapi dan radioterapi. Jika kanker menghalangi aliran udara utama, bisa digunakan laser untuk membekukan tumor atau tetap membuka aliran udara dengan sebuah stent atau tabung.
(tty)

Beri komentar