Globalisasi Kebaya Raden Sirait

|

SINDO -

Globalisasi kebaya Raden Sirait. (Foto: Dok Okezone)

Globalisasi Kebaya Raden Sirait
SECARA gamblang, Raden Sirait mengaku sebagai perancang busana yang tidak bisa menggambar sketsa desain, tidak bisa membuat pola, dan tidak pernah belajar menjahit. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk membuat kebaya,lini yang digelutinya, untuk go international.

Kendati baru menekuni kebaya pada 2005, Raden Sirait sebenarnya telah bergulat di dunia mode sejak 1995. Pekerjaan sebagai manajer marketing di sebuah bank swasta tidak membuat Raden puas sehingga akhirnya berpaling ke dunia mode.

“Dari kecil, saya punya impian untuk menjadi seseorang yang berpunya karena keluarga saya dulu miskin,” cerita Raden kepada Seputar Indonesia di workshop-nya di daerah Pasar Minggu.

“Ayah saya bekerja sebagai penjahit dan ibu saya petani, dia buta huruf,” ujar pria yang lahir dan besar di Porsea, Sumatera Utara. Kondisi keluarganya membuat Raden tumbuh besar menjadi pemuda bertekad kuat.

“Saya sering berkata kepada diri sendiri, ‘gue mesti jadi orang!,” kata bungsu dari 7 bersaudara tersebut.

Tekad itu kemudian membawa Raden ke Bogor sebagai penerima PMDK di Institut Pertanian Bogor (IPB).Lulus dari IPB, Raden pun langsung terjun ke dunia kerja.

“Setelah lulus, saya langsung kerja di perbankan sebagai marketing,” papar Raden.

Meski sukses di pekerjaannya, Raden merasa perbankan bukanlah jalur yang ingin dijalaninya. “Saya melihat orang-orang di sekitar saya, dan saya berpikir, bukan ini yang saya inginkan,” ungkap Raden yang membagi ceritanya dengan semangat tapi penuh perasaan.

“Saya kemudian berbicara kepada kakak saya, Rosita, tentang ingin membuat bisnis sendiri. Saya bertanya kepada dia, apa yang ingin dia lakukan dan tidak sampai lima detik, dia menjawab, ‘jahit!’,” tutur Raden.

Sebagai saudara yang paling dekat, Raden memang mengetahui kakaknya gemar menyulam dan menjahit, tetapi di keluarga Raden, profesi penjahit rupanya tabu.

“Ayah saya tidak ingin ada anak-anaknya yang jadi penjahit seperti dia,” sambungnya.

Bukan Raden namanya bila serta-merta berhenti saat terbentur halangan. Rosita, yang akrab disapa Raden sebagai Kak Ita, dikirimnya kursus menjahit di Juliana Jaya serta sekolah mode Susan Budihardjo.

Sementara, Raden berbekal daya imajinasi dan pengalaman marketing yang dimilikinya, “bertugas” merancang konsep dan menjual hasil jahitan sang kakak. Prinsip selalu dipegangnya adalah be, do, have, yang berarti jadilah seorang perancang, lakukanlah apa yang seharusnya diperbuat oleh seorang perancang dan yakinlah akan mendapatkan yang diinginkan. Tak butuh waktu lama, lahir label Luire yang memiliki arti bersinar. Dari Luire, Raden Sirait terus berkembang dan menciptakan berbagai lini busana hanya dalam hitungan tahun.

“Pertama kali saya jual baju kepada teman satu kos, harganya Rp5.000, tapi saya puas,” kenang pria yang belajar menjadi perancang secara autodidak ini.

Raden mengatakan, inspirasinya banyak didapat dari majalah, film, dan acara televisi. Sementara, untuk proses merancang, Raden mengatakan, sang kakak dan keponakannya, Butet, tim desain inti Raden Sirait, tidak membutuhkan sketsa untuk menyatukan ide.

“Kami sudah saling tersinkronisasi, kami masing-masing mengerti apa yang kami inginkan untuk sebuah busana. Karenanya, proses merancang sering kali selesai dengan cepat hanya lewat obrolan santai,” tutur desainer yang dikenal berani memadupadankan kebaya dengan berbagai jenis kain seperti beludru, tenun, ulos, batik, renda dengan potongan-potongan unik pada leher, lengan, dan pinggul.

Saat ini Raden memiliki 150 karyawan yang mengerjakan lima lini busana miliknya, yakni Raden Sirait Kebaya for the World, Raden Sirait Batik for the World, Luire by Raden Sirait, Middle East by Raden Sirait, dan Zegez. Butik kebayanya terdapat tiga di Jakarta dan satu di Bali, serta 13 outlet gaun malam tersebar di 10 department store ternama Indonesia.

Kebaya For The World Sukses sudah terasosiasi dengan nama Raden Sirait, apalagi saat ini kebaya rancangannya telah banyak dikenakan selebriti, bahkan mereka yang mengenakan mahkota Puteri Indonesia. Namun, mimpi Raden belum usai. Masih ada banyak hal yang ingin dilakukannya.

“Saya ingin membawa kebaya ke panggung dunia. Suatu saat nanti, saya ingin Gwyneth Paltrow atau Halle Berry pakai kebaya di karpet merah,” ujarnya.

Raden mengaku sebagai pencinta kebaya, dan karena itu dia memutuskan untuk menggeluti kebaya ketimbang lini busana lainnya.

“Saya jatuh cinta pada kebaya. Kebaya tidak pernah usang meski dipadankan dengan berbagai jenis kain Nusantara lain atau disesuaikan dengan emosi yang ingin diekspresikan; keanggunan, karisma, kontras atau polaritas jiwa, agresivitas, gairah, dan bahkan maskulinitas,” tegas Raden.

Kecintaannya pada kebaya itu juga yang membuat dirinya melahirkan konsep Kebaya For The World. ”Kebaya For The World adalah sebuah konsepsi,” katanya.

”Sebuah tema besar yang akan memengaruhi seumur hidup saya sebagai perancang. Saya ingin sekali kebaya menjadi salah satu genre busana yang dikenal dan diakui secara global oleh masyarakat dunia,” sambung pengagum karya Edward Hutabarat, Adjie Notonegoro, dan Anne Avantie ini.

Kebaya For The World juga menjadi payung besar bagi pertunjukan tunggal Raden Sirait. Pada 2006 silam Raden menghadirkan debut Kebaya For The World di Ubud,Bali. Kemudian pada 2008, dia kembali menghadirkan pertunjukan tunggal Kebaya For The World dengan tajuk “Bintang Bali Bangkit”.

Pada 31 Maret 2011 mendatang, Raden akan kembali menghadirkan Kebaya For The World, tetapi dalam kemasan yang berbeda.

“Sebelumnya hanya berupa pertunjukan tunggal, tapi nanti Kebaya For The World akan hadir berupa pergelaran yang lebih akbar,” papar Raden yang memberi tajuk pergelaran teatrikalnya nanti sebagai “Journey of Love”, perjalanan cinta Raden Sirait selama lima tahun menggeluti kebaya.

Fashion show nanti merupakan hajatan besar, tetapi hanyalah satu langkah kecil untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan meniti jalan menuju panggung dunia. Saya ingin kebaya mendunia, melalui cinta perancangnya,” pungkas Raden.
(nsa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Restoran di Tiongkok Beri Diskon Sesuai Berat Badan