Anak Terlalu Aktif, Bahayakah?

|

SINDO -

Anak terlalu aktif, bahayakah? (Foto: Getty Images)

Anak Terlalu Aktif, Bahayakah?
MEMANG butuh energi ekstra saat mendampingi anak yang terlampau aktif atau tidak bisa diam. Orangtua musti sabar dan selalu waspada mengawasi anak yang memang sedang mencoba segala hal baru ini.

Baru saja menggendongnya untuk turun dari mobil, si kecil sudah berlarian ke sana kemari. Lalu loncat-loncat tak karuan, bahkan memanjat atau menaiki sesuatu yang mungkin membahayakan dirinya.

Anak yang tidak bisa diam atau terlampau aktif memang cenderung memiliki lebih banyak energi dibanding anak lain seusianya. Mereka akan merasa sulit dan frustrasi jika harus duduk lama tanpa melakukan aktivitas apa pun. Tentu saja, Anda sebagai orangtua akan waswas dan khawatir.

Namun, harap dipahami bahwa anak balita umumnya memang banyak bergerak secara fisik. Dorongan rasa ingin tahu dan ingin mencoba segala sesuatu pada dirinya begitu besar. Jadi, kalaupun dia selalu berlari menjauh bukan berarti menghindari kontak dengan Anda.

“Balita menyukai perasaan bebas dan selalu berlari di sekitar kita,” kata Patricia Shimm, Direktur Barnard College Center for Toddler Development di New York, Amerika Serikat dan penulis pendamping buku Parenting Your Toddler.

Anda dapat mendukung (tingkah laku) dia, asalkan Anda dapat mengontrol ke mana dia berlari. Namun, bagaimana sebaiknya menghadapi anak yang terlampau aktif tersebut? Tidak ada teori apa pun di dunia yang memastikan bahwa anak Anda yang superaktif tersebut akan selalu aman. Jadi, penting untuk menekankan tanggung jawab kepada diri sendiri untuk tetap menjaga si buah hati.

Itu berarti, Anda harus terus waspada terhadapnya dan selalu menciptakan lingkungan yang aman bagi anak Anda. Caranya, selalu berada dekat dengan dia. Jika Anda berada dalam sebuah ruangan terbuka di mana Anda dapat melihat balita Anda dan dia dapat melihat Anda, biarkan dia berlari-lari di hadapan Anda.

Biasanya, jika Anda tidak berteriak atau berlari mengejarnya, dia akan berhenti sendiri dan membalikkan badan untuk melihat seperti apa reaksi Anda. Setelah itu, dia akan kembali menuju Anda ketika dia melihat Anda tidak mengikutinya. Tetapi jangan ambil risiko jika sedang berada di tengah sebuah keramaian atau jalan raya.

“Anda harus terus bersama dengan balita Anda,” kata Roni Leiderman, Kepala Family Center, Nova Southeastern University di Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat.

“Anak-anak usia seperti ini suka sembunyi. Membiarkan mereka tidak terlihat dari pandangan Anda terlalu berisiko. Anda nantinya tidak akan pernah memaafkan diri sendiri jika dia hilang di keramaian,” lanjutnya.

Anda harus menunjukkan di mana anak boleh berlarian. Biarkan dia menjelajahi daerah-daerah yang aman (seperti taman, di mana dia aman dari mobil dan Anda bisa melihatnya dari kejauhan) secara bebas dan dengan kecepatan sendiri.

Namun, di taman juga ada area di mana dia tidak boleh menjamahnya, seperti di semak-semak atau tanahnya berlumpur. Dia akan menerima batasan-batasan ini lebih mudah dan belajar kepada dirinya sendiri dengan lebih cepat jika ada banyak tempat lain yang diizinkan dan bahkan didorong, untuk dia bebas berlarian.

Pesan yang ingin Anda sampaikan adalah bahwa berlarian itu boleh-boleh saja asalkan dilakukan di tempat dan waktu yang tepat. Cara yang lain, coba Anda melibatkan diri dan hibur anak saat bertingkah laku seperti itu.

Balita sering kali berperilaku buruk dan melanggar aturan karena dia sedang bosan atau kehilangan perhatian Anda. Jika hal itu terjadi, usahakan untuk melibatkan si kecil dalam pekerjaan rumah dan dikerjakan bersama agar lebih menyenangkan.

Contohnya, pinta anak untuk membantu mendorong kereta bayi milik dia.Hal itu dapat membuat anak merasa seperti melakukan sesuatu yang penting. Atau biarkan dia berjalan sendiri mendekati Anda, saat memberi mainan favoritnya.

“Ini juga bagus untuk melatih keterampilan motorik anak Anda,” kata Leiderman.

Atau minta dia membantu Anda memilih setandan pisang atau menunjukkan tempat di mana apel berada. “Anak balita suka sekali membantu,” ungkap Shimm.

Anda juga harus beri tahu anak yang aktif tersebut bagaimana Anda berharap dia untuk berperilaku, sebelum Anda mengeluarkan sebuah perintah. Daripada mengatakan, “Bisakan kamu menjadi anak yang baik dan selalu pegang tangan Ibu?”, lebih baik berujar, “Ingat, kamu harus memegang tangan ibu kalau lagi di mal”.

“Perintah jadi anak yang baik sering kali menjadi bumerang,” kata Shimm. “Anak biasanya langsung menolak dan mengatakan kalau dia tidak mau menjadi anak yang baik,” lanjutnya.

Selalu dukung dia saat berlaku positif. Saat dia menolak aturan dan bertindak liar, perkuat dia dengan selalu mengatakan kebaikannya. Tetapi sekali lagi, ucapkan secara spesifik.

“Ini tidak cukup untuk dengan mengatakan, ‘Ibu senang kamu berperilaku baik hari ini,’” kata Leiderman. “Dorong tindakannya dengan mengatakan lagi secara jelas kepadanya,” lanjutnya.

Katakan, “Ibu benar-benar menghargai tindakan kalau saat ibu panggil, kamu akan datang,” tutur Leiderman.

Selain itu, jangan buang waktu Anda dengan selalu memberinya peringatan. Taktik yang kuno bagi orangtua jika memberikan anak tiga kali peringatan sebelum menghukum mereka atas apa pun kelakuan anak yang dianggap salah. (nsa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Cara Membangun Kekompakkan Keluarga