Cara Murah Skrining Kanker Serviks

Jum'at, 25 Maret 2011 - 09:20 wib | Koran SI - Koran SI

Cara Murah Skrining Kanker Serviks (Foto: gettyimages) MENDETEKSI kanker serviks sejak dini tak selalu harus menggunakan metode pap smear. Cara yang lebih sederhana dan murah seperti IVA bisa juga Anda terapkan.

Kendati sangat mungkin dihindari, kanker serviks pada kenyataannya masih mengancam jutaan jiwa perempuan Indonesia. Walau data secara nasional sulit didapat, namun berdasarkan data rumah sakit terungkap bahwa sedikitnya satu perempuan meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) ini.

Kanker serviks disebabkan oleh HPV memang tak terbantahkan lagi. Seluruh dunia sudah mengakuinya. Dari 100 tipe HPV, tiga tipe yang paling umum ditemukan pada kasus kanker serviks di Indonesia adalah 16, 18, dan 52.

”HPV penyebab kanker serviks ada 19 tipe. Tapi, 70 persen kasus kanker serviks di dunia disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18. Di Indonesia, selain dua tipe tersebut, tipe 52 juga banyak dijumpai pada penderita kanker serviks,” kata pakar obstetri dan ginekologi dari Universitas Indonesia, Andrijono, di sela pertemuan interim Asia-Oceania Research Organization in Genital Infection and Neoplasia (AOGIN) di Bali, belum lama ini.

Orang yang terinfeksi HPV akan mengalami fase yang disebut lesi prakanker. Dari terjangkit virus hingga berubah menjadi kanker, dibutuhkan waktu rata-rata 7–10 tahun. Kendati demikian, Andrijono menyebutkan, pada kasus tertentu, proses perkembangan sel kanker itu bisa berlangsung lebih cepat.

”Kasus kanker serviks ratarata terjadi pada wanita usia 30–50 tahun atau usia produktif. Usia di mana para ibu masih dibutuhkan oleh anak-anak mereka. Bayangkan, betapa berat beban sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit ini,” ujarnya.

Wanita muda maupun tua berisiko terkena kanker serviks. Risiko itu sudah ada sejak kontak seksual pertama kali dilakukan. Ada satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker serviks, yakni vaksinasi sebanyak tiga kali.Vaksin ini dapat diberikan kepada remaja yang belum aktif secara seksual, ataupun pada wanita dewasa yang pernah didiagnosa terinfeksi HPV sejak dini, namun berhasil menjalani pengobatan. Yang agak ”unik”, pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari infeksi HPV, masih memiliki ”peluang” untuk terjangkit virus itu kembali.

”Vaksin bekerja efektif selama 10-25 tahun. Jadi, kemungkinan terinfeksi lagi masih tetap ada. Maka itu, Anda harus terus melakukan skrining secara rutin. Rekomendasi WHO adalah 10 tahun sekali. Tapi, kami menyarankan, 3-5 tahun sekali,” kata salah seorang pendiri Inisiatif Pencegahan Kanker Serviks Indonesia (IPKASI), Laila Nuranna.

Skrining merupakan salah satu upaya sekunder untuk mencegah kanker serviks. Skrining bisa dilakukan dengan cara pap smear dan IVA atau inspeksi visual dengan asam asetat. Menjalani pap smear bagi masyarakat ekonomi bawah mungkin masih dianggap mahal. Biaya yang harus dikeluarkan kisaran rata-ratanya adalah Rp75.000–1.000.000. Sementara IVA lebih murah biayanya. Cara ”kerjanya” pun relatif mudah.

”Asam asetat itu sama dengan cuka dapur. Harganya relatif murah.Tahapan pengerjaannya adalah, cuka 25% diencerkan terlebih dulu hingga mencapai 3 persen. Setelah itu dioleskan ke permukaan serviks. Tunggu selama 1-2 menit, jika muncul plak putih, berarti Anda mengalami fase yang disebut lesi prakanker. Kalau sudah begitu, segera lakukan pengobatan. Salah satunya dengan metode krioterapi, yakni terapi untuk merusak sel kanker melalui pendinginan bagian serviks yang terlihat putih tadi,” papar Laila.

Lantas, efektifnya IVA diterapkan untuk mendeteksi kanker serviks? Laila menjawab,ya. ”IVA komparibel kok dengan pap smears. Metode ini juga tidak memiliki efek samping. Begitu pula dengan metode krioterapi, tak ada efek samping yang membahayakan,” sebut pakar obstetri dan ginekologi itu. (ftr)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »