Cara Baru Tangkal Nyeri Tulang Belakang

|

SINDO -

Cara baru tangkal nyeri tulang punggung. (Foto: Getty Images)

Cara Baru Tangkal Nyeri Tulang Belakang
NYERI bisa menyerang bagian tubuh mana pun, termasuk tulang belakang. Kini ada teknologi teranyar dan mutakhir untuk mengatasinya, yaitu dengan radio frekuensi.

Semua orang pasti pernah mengalami nyeri, termasuk nyeri tulang belakang (NTB). Padahal, tulang belakang merupakan salah satu bagian tubuh yang penting.

Di tulang belakang terdapat urat saraf yang menghubungkan otak sebagai pusat sistem saraf dengan serabut-serabut saraf yang tersebar ke seluruh tubuh. Itu sebabnya, bila gangguan tulang belakang terjadi, maka timbullah gejala nyeri di beberapa tempat seperti bahu, pinggang, atau leher.

Dikatakan oleh spesialis ortopedi dan traumatologi dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta, Dr Luthfi Gatam SpOT (K-Spine) bahwa NTB merupakan suatu kondisi yang sering diderita oleh manusia, sebagian besar disebabkan oleh ruas tulang-tulang belakang serta struktur yang ada di sekitarnya.

”Hampir 80 persen dari manusia pernah mengalami setidaknya satu kali NTB dalam hidupnya,” tuturnya dalam acara Simposium Ilmiah Akreditasi IDI ”Pengelolaan Terkini Nyeri Tulang Belakang” yang diadakan Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta.

Risiko terkena NTB akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia seseorang. Semakin bertambah umur, maka akan semakin banyak masalah yang akan dihadapi pada daerah tulang belakang, seperti keropos tulang, pengapuran, dan penyempitan ruang saraf.

Untuk masalah yang terakhir ini malah bisa menyebabkan terjepitnya saraf dan menyebabkan nyeri yang hebat ke arah tungkai dan menimbulkan rasa kesemutan dan baal yang hebat, terutama di daerah tungkai bawah. Bahkan, NTB pada stadium lanjut dapat menyebabkan hilangnya tenaga yang menggerakkan kedua tungkai dan hilangnya kemampuan mengontrol buang air kecil dan buang air besar.

”Walaupun NTB bukan merupakan sebab yang menimbulkan kematian, NTB menyebabkan gangguan yang sangat berat dirasakan penderita,” ungkap dokter yang juga konsultan Spine ini.

Umumnya, sakit punggung biasanya membaik setelah beristirahat beberapa hari. Namun, apa pun itu, nyerinya sebaiknya segera diatasi. Sampai saat ini terdapat ratusan pengobatan pada pasien untuk sakit punggung, seperti obat-obatan, fisioterapi, injeksi obat-obatan tertentu, dan akupunktur.

Semua ini disebut cara pengobatan konservatif (nonpembedahan) dan terakhir dengan pembedahan, baik dengan cara tradisional maupun dengan teknik minimal invasif seperti endoskopi. Biasanya, nyeri tulang belakang dapat teratasi dengan pengobatan konservatif saja. Namun, bila cara tersebut tak berhasil, dokter biasanya menyarankan pengobatan dengan cara pembedahan.

”Biasanya, seorang dokter memerlukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk menentukan seberapa berat kelainan tersebut dengan meminta pemeriksaan foto rontgen, MRI (magnetic resonance imaging), dan CT scan bila diperlukan,” ujar dia.

Dr Luthfi menyebutkan, saat ini ada metode baru untuk mengatasi nyeri punggung. Metode ini dilakukan melalui prosedur minimal invasi, yaitu pulse radio frequency (PRF). Metode ini bisa dilakukan dengan cara yang sederhana.

Hanya menggunakan jarum, seperti jarum suntik biasa,kemudian dimasukkan sampai dengan sendi facet atau akar saraf yang keluar dari lubang tulang belakang.Jarum ini diberi suatu gelombang tertentu ke arah sumber sakit dari suatu generator gelombang.

”Sejauh ini telah kami kerjakan terhadap 30 orang dengan kelainan yang beragam, seperti sumber sakit yang berasal dari leher, punggung, atau tulang belakang bawah. Prosedur ini juga sangat baik untuk penderita yang sudah menjalani operasi, tetapi masih tetap mengalami sakit,” kata dokter lulusan Universitas Padjadjaran ini.

Ahli anestesi dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta, Dr Albertus Sugeng Wi-bisono Sp An, menuturkan, radiofrekuensi adalah energi listrik dengan ciri khusus.Adapun listrik yang digunakan sehari-hari di rumah memakai frekuensi 50 per detik, sedangkan pada radio frekuensi, frekuensi yang digunakan jauh lebih tinggi, yaitu 500.000 per detik.

”Jarum yang dipakai dirancang khusus dan diposisikan dekat dengan saraf yang menyebabkan nyeri,” tuturnya di acara yang sama.

Dr Sugeng mengatakan, akhir-akhir ini dikembangkan alat radiofrekuensi berdenyut untuk menyempurnakan alat radiofrekuensi kontinu. Dengan teknik ini, arus yang digunakan sama, namun arus tidak digunakan terus-menerus, melainkan berupa burst pendek dua kali per detik sehingga ada waktu jeda untuk mencegah terjadi panas berlebihan. Panas yang ideal disarankan antara 43 sampai 45 derajat Celsius.

”Karena pengaruh medan listrik ini,perilaku saraf berubah sehingga tidak dapat mengantarkan nyeri,” ungkapnya.

Sebelum melakukan pengobatan ini, harus diketahui dengan benar saraf mana yang akan diterapi dengan radio frekuensi. Caranya dengan menggunakan blok diagnostik, yaitu saraf yang menyebabkan nyeri diberi anestesi lokal dan bila tepat, lokasinya nyeri akan hilang selama beberapa jam. Sebaliknya bila suntikan pada saraf tersebut tidak menghilangkan nyeri, berarti hasilnya negatif sehingga tidak ada manfaatnya dilakukan terapi ini.

”Suntikan anestesi lokal bisa menyebabkan kesemutan dan kelemahan pada tungkai atau lengan, namun hal ini akan menghilang seiring dengan masa kerja obat anestesi lokal,” ucap dokter yang melanjutkan kuliahnya di Universitas Airlangga ini.

Dr Sugeng menuturkan, metode frekuensi berdenyut hampir dapat dikatakan tidak membawa komplikasi. Selain itu, cara ini tidak merugikan karena tidak merusak saraf. (nsa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Laris di Pasaran, Bodrex Raih ICSA Award