Layout Ideal Ruang-Ruang di Rumah

|

SINDO -

Layout ideal ruang-ruang di rumah. (Foto: Getty Images)

Layout Ideal Ruang-Ruang di Rumah
MERANCANG ruang-ruang yang ada di dalam rumah tentu tidak bisa sembarangan. Semua mesti ada proses dan aturannya agar tidak ada ruang yang merasa didahulukan atau tidak dibutuhkan.

Rumah merupakan tempat berlindung bagi setiap orang. Tak pelak, memiliki rumah adalah sebuah kebutuhan. Kendati demikian, rumah yang baik sejatinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung, tapi juga untuk menciptakan rasa nyaman bagi setiap orang yang berada di dalamnya.

Salah satu cara untuk membuatnya nyaman yakni dengan menata layout ruang-ruang di dalam rumah secara baik dan benar. Baik dan benar pun bukan berarti penataan ruang harus kaku. Dalam hal ini, setiap penghuni atau pengguna ruang masih bisa bereksplorasi sesuai dengan seleranya, dengan catatan rasa nyaman tetap harus tercipta.

Hal tersebut disampaikan arsitek Erlavina Prahesti. Dia menyatakan, memang benar bahwa merancang layout ruang di dalam rumah memiliki aturan tertentu dan tidak boleh sembarangan. Si perencana (arsitek) bisa menampung keinginan owner/klien/calon penghuni rumah.

Namun, tidak lantas semua harus terpenuhi. Jika tidak sesuai, tugas arsiteklah untuk mengarahkan dan menuangkan keinginan-keinginan owner dalam merancang setiap ruang di rumah agar dapat berfungsi secara maksimal. Dengan perancangan yang baik akan ada banyak manfaat yang didapat oleh si empunya rumah. Salah satunya, ruang akan berfungsi secara optimal dalam menampung aktivitas si pengguna.

”Optimal di sini maksudnya, tidak ada satu ruang yang useless atau sia-sia sehingga penghuni merasa nyaman dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Asumsi nyaman di sini pun bisa bermacam-macam, menyesuaikan dengan keinginan owner. Misalnya perencanaan layout/denah rumah di mana setiap ruang mendapatkan cahaya alami matahari dan adanya bukaan yang memungkinkan pertukaran atau sirkulasi udara secara baik,” ungkap Erlavina.

Sebelum menata layout ruang, ada beberapa aspek yang perlu Anda pertimbangkan. Yang pertama kebutuhan ruang. Menurut Erlavina, untuk menentukan kebutuhan ruang di lantai dasar, yang harus diperhatikan pertama kali adalah menentukan aktivitas-aktivitas apa saja yang bakal dilakukan di lantai tersebut. Dari situ akan diketahui perkiraan kebutuhan ruang dan luasannya.

Lalu selanjutnya menentukan zoning ruang. Misalkan zona publik, zona privat, semiprivat, zona servis, dan zona rekreasi. Cara menentukan posisi masing-masing ruang pada zonanya adalah dengan mengelompokkan fungsi ruang yang saling berkaitan.

Ambil contoh, sebut Erlavina, zona servis terdiri atas dapur/pantry, ruang cuci dan jemur, ruang laundry, meliputi juga ruang tidur pekerja rumah tangga berikut kamar mandinya, tangga servis, gudang, garasi, serta carport.

”Akan lebih baik jika ruang-ruang tersebut berada dalam satu zona/area. Artinya, saling berdekatan karena jenis aktivitas (yaitu servis) dan pelaku aktivitas (dominan pekerja rumah tangga) berada pada zona efektif,” ujar sang arsitek.

Sementara zona publik biasanya berada di bagian depan, meliputi teras, foyer, dan ruang tamu. Lain lagi dengan zona semiprivat. Zona ini biasanya berada di bagian tengah rumah, meliputi area tangga naik ke lantai dua, ruang keluarga, ruang makan, teras belakang atau beranda untuk santai, serta taman belakang. Khusus zona privat, Erlavina menambahkan, biasanya diletakkan pada posisi yang jauh dari zona publik, yaitu meliputi ruang tidur dan ruang tidur utama, ruang kerja, serta perpustakaan.

Yang terakhir, jika perlu dan memang lahan masih tersedia, adalah zona rekreasi yang merupakan zona tambahan. Artinya, zona itu merupakan “order” dari owner, misalnya ruang gym, ruang studio musik, ruang home theatre, ruang olahraga atau lapangan kecil, dan kolam renang. (nsa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Susu Kedelai Homemade Paradise Gourmet